
Walau Bei adalah pemilik balai pengobatan dirinya bukanlah seorang tabib ataupun Alchemist, semua usaha itu didapatnya karena sang Kakak yang tidak mau meneruskannya.
Semakin lama rasa sakit dan panas di sekujur tubuh Bei menyebar sangat cepat, saat ini sebagian dari tubuhnya sudah melepuh dan bernana, tabib yang ada di balai pengobatannya tidak ada satupun yang bisa menyembuhkannya.
"Itu ramuan yang sagat kuat, walau tidak terkena langsung dengan ramuan itu bersentuhan dengan orang yang terkena saja bisa mati," ucap tabib terakhir mengatakan semua yang ditahunya.
"Kalian sudah menyentuhku, apa kalian juga akan sama sepertiku?" tanya Bei.
"Tentu saja tidak, kami tidak bersentuhan langsung dengan yang terkena ramuan, Sebelum semuanya terlambat Tuan datangi saja orang itu," ucap tabib lainnya.
"Aku mendatanginya mau ditaruh di mana harga diriku," sahut Bei.
"Tapi ini demi kebaikan Tuan Bai, hanya dia yang mempunyai penawarnya," ucap tabib.
"Benar Tuan semua sebelum terlambat," sahut tabib lain.
Bei terdiam beberapa saat sebenarnya bukan hanya karena harga diri dirinya tidak mau meminta maaf dan menemuinya, memang tidak susah untuk menemuinya tapi apakah dia mau memberikan penawarnya itu yang dipikirkan Bei.
Di tempat berbeda Aying masih duduk dengan santai bahkan menikmati makanan yang dibelinya, Aying bersandar disalah satu pohon sambil melihat ke arah serigala salju miliknya.
Auuuuuuuuuuuu.
"Kamu penasaran kenapa aku tenang dan membiarkan mereka pergi," ucap Aying yang mendengarkan suara Hi seperti bertanya.
"Aku sengaja melakukannya, itu dinamakan trik tarik ulur," sambung Aying.
Dari jaun Aying tersenyum saat melihat beberapa orang menunggangi kuda turun di depannya, Bei yang berdiri di tengah langsung bersujud di bawah kaki Aying.
"Aku minta maaf tidak seharusnya aku percaya kata-kata pelayanku, berikan aku penawarnya, aku akan melakukan apa saja yang kamu mau dan memberikan semua yang kamu inginkan," ucap Bei.
Aying tidak bergeming sedikitpun dia hanya menatap Bei yang tadi sangat angkuh bersujud di kakinya, Aying tidak menyangka Bei sampai melakukn itu.
"Kamu sampai seperti ini apa hanya karena orang yang kamu suruh tadi?" tanya Aying.
"Tidak aku sudah membunuh mereka, tapi setelah mereka menyentuhku setengah badanku menjadi seperti mereka," ucap Bei.
"Aku lupa memberitahu mereka tentang itu, saat ini aku tidak berniat memberikanmu penawarnya," sahut Aying santai sambil berdiri.
__ADS_1
"Tunggu, aku akan memberikan semua yang kamu minta," ucap Bei.
"Apa kamu yakin?" tanya Aying.
"Aku sangat yakin, aku berjanji untuk itu," ucap Bei.
"Baiklah, kalau begitu buka mulutmu," sahut Aying.
Bei menuruti Aying begitu saja, Bei langsung membuka mulutnya dengan lebar baru saja membuka mulut Bei seperti merasa menelan sesuatu, Bei tidak lagi merasakan terbakar di tubuhnya, kakinya yang tadi melepuh dan bernana perlahan kembali seperti semula bahkan hawa panas di tubunnya juga menghilang sepenuhnya.
"Aku sudah memberikan penawarnya tapi itu tidak akan bertahan lama, jadi cepat bawa aku melihat harta berharga yang balai pengobatan miliki," ucap Aying.
"Baik, ikutlah denganku," sahut Bei.
Aying mengikuti Bei kembali ke kota sesampainya di sana Bai membawa Aying melihat-lihat seluruh tempat yang ada di balai pengobatannya. Bagi Aying tidak ada yang istimewa di Balai Pengobatan itu bahkan Semua terlihat biasa saja untuknya.
"Hanya dengan mereka balai ini jadi tempat pemasok nomor satu, aku rasa selera semua orang sangat rendah," ucap Aying sambil terus berjalan.
"Anda benar," sahut Bei yang tidak berani menentang perkataan Aying lagi.
"Aku tidak berani, kualitas pil yang nona buat lebih bagus dari buatan kami aku juga sudah melihatnya sendiri," ucap Bei.
"Baguslah kalau kamu sadar diri," sahut Aying.
Bei membawa Aying ke tempat penyimpanan harta berharga sesuai yang dijanjikannya. Tempat yang memiliki tiga tingkat itu masih belum menarik satupun perhatian Aying untuk memilih apa yang dia suka.
"Bagaimana Nona? Apa sudah ada yang anda sukai?" tanya Bei.
"Tidak ada, semua yang ada di sini bahkan tidak bisa menandingi satu pedangku," ucap Aying memutar badannya bersiap pergi.
Aying yang ingin menuruni tangga tidak sengaja melihat ke salah satu atas lemari, melihat kotak hitam berukuran sedang Aying penasaran apa isi di dalamnya.
"Aku mau ini," ucap Aying yang langsung mengambil kotak hitam yang ada di depannya saat ini.
"Apa nona yakin ingin itu, di dalam kotak itu hanya ada batu merah," sahut Bei.
Aying tidak mendengarkan perkataan Bei, Aying membuka kotak hitam di tangannya dan melihat sendiri apa isi kotak itu.
__ADS_1
"Aku tidak berani membohongi nona," ucap Bei yang melihat Aying menatap batu merah di tangannya.
"Batu api, bagaimana bisa batu seperti ini masih ada," dalam hati Aying.
Batu api adalah batu merah misterius yang hanya berada di dalam larva panas gunung berapi, di kehidupan sebelumnya Aying hanya pernah melihat sekali batu api, setelah itu semua orang mengatakan kalau batu api sudah tidak ada lagi di muka bumi.
"Aku akan mengambil ini," ucap Aying.
"Baiklah, kalau itu memang keinginan Tuan," sahut Bei tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Aying yang sudah sampai di bawah memberikan 5 pil kecantikannya yang tersisa, waktu itu dirinya membuat 6 pil kecantikan 6 pil penyembuh luka dan 4 pil penempaan tulang, diantara ketiganya hanya pil kecantikan yang tidak berguna untuknya menjual semuanya adalah pilihan terbaik.
"Tuan katakan saja berapa harga pil ini," ucap Bei.
"Karena kamu sudah memberikan batu api ini kamu bisa membayarku 75 keping emas saja untuk itu," sahut Aying.
"Baik nona, baik, anda bisa menunggu sebentar," ucap Bei.
Bei keluar membawa sekantong kepingan emas di dalamnya, Bei mengisikan 85 keping emas sengaja dilebihkannya agar Aying memberikan penawar untuknya.
"Di dalam kantong ini berisi 85 keping emas," ucap Bei.
"Hemmm," sahut Aying yang langsung mengambil kantong dari tangan Bei dan menyimpannya.
Feng langsung berjalan pergi ke arah Hi, melihat Aying yang pergi begitu saja Bei bergegas menghentikannya.
"Tunggu nona.bagaimana dengan penawar untukku?" tanya Bei.
"Penawar apa? penawarnya sudah aku berikan padamu," ucap Aying.
"Tapi bukankah Tuan bilang tidak bisa bertahan lama?" tanya Bei lagi.
"Aku tidak berkata seperti itu, yang tidak bisa menunggu lama adalah aku karena aku harus pergi," ucap Aying.
Aying menaiki Hi dan bergegas pergi, Bei yang melihatnya hanya terdiam ternyata dari awal semua adalah rencana Aying dan dirinya masuk ke dalamnya tanpa sadar.
Di jalan Aying yang mendapat barang bagus seperti batu api merasa sangat senang, kali ini dirinya tidak perlu berpergian jauh untuk menguasai elemen api, setelah menguasai elemen api dirinya hanya perlu menerobos tingkat dan menempa tulangnya.
__ADS_1