
"Aku mencium bau darah keturunanku tumpah, kalian semua cari tau siapa yang terbunuh dan yang membunuhnya, aku tidak akan pernah membiarkannya hidup dengan tenang," teriak Raja iblis memerintah pasukannya.
***
Aying yang gagal beristirahat kembali melanjutkan perjalanannya, Aying sengaja berjalan melewati jalan besar agar tiba lebih cepat di desa lainnya atau kota terdekat, dirinya ingin segera beristirahat karena benar-benar merasa sangat lelah.
Setelah menguasai unsur Logam Aying merasa tubuhnya sangat butuh istirahat, dirinya juga harus mengalirkan energinya ke lautan spiritual agar membentuk kepingan yang jika penuh bisa diserapnya untuk naik tingkat pelatihan.
Klotak, klotak, klotak.
Suara kereta kuda terdengar di telinga Aying, Tak berselang lama 2 kereta kuda yang dikawal beberapa prajurit melewati Aying yang berjalan kaki.
"Heeeeeh, mereka pasti saudagar kaya atau anggota keluarga kerajaan," dalam hati Aying.
Aying terus berjalan sambil melihat kereta kuda yang berjalan menjauh, tak lama 3 pembunuh bayaran yang melompat dari satu pohon ke pohon lain terlihat mengejar kereta kuda yang masih terlihat oleh Aying.
"Mereka lagi," ucap Aying kesal.
Melihat Ketiga pembunuh bayaran itu mengingatkan Aying dengan Klan Saga nya yang habis di tangan para kelompok pembunuh bayaran, Aying langsung mengepalkan tangannya dan mengeluarkan jubah hitamnya, identitasnya sebagai pembantai kelompok pembunuh bayaran sebelumnya tidak boleh terbongkar.
"Mau aku bantu mengejar mereka," ucap Wang.
"Apa kamu yakin kamu masih memiliki kekuatan untuk itu," sahut Aying.
"Jangan meremehkan ku," ucap Wang yang langsung ke luar dari tubuh Aying.
Wang yang berwujud Harimau api sudah siap ditunggangi oleh Aying, tidak ingin membuang waktu Aying langsung menaiki Wang dan berlari dengan cepat mengejar kereta.
3 pembunuh bayaran yang mengejar kereta masih tidak menampakkan diri, dari dalam kereta seorang Pangeran Kerajaan Ying yang melihat Aying mengejarnya bersiap turun, sebagai Pangeran menguasai bela diri dan berkultivasi adalah kewajiban, melihat seseorang mengejarnya tentu saja dirinya tidak bisa dibiarkannya begitu saja.
"Sial, kenapa dia malah ke luar," ucap Aying menggertakkan giginya.
"Dia mengira kita berniat jahat padanya," sahut Wang.
"Benar-benar bodoh," ucap Aying.
Whuuuuuuusssssss.
Whuuuuuuuuuuuusssssssss.
Panah dari 3 tempat mengarah ke sang Pangeran, Aying yang sudah dekat langsung melompat dari Wang menangkap ketiga panah dan membuangnya ke bawah.
"Jangan turun, teruslah pergi," teriak Aying yang kembali berada di atas Wang.
Sang Pangeran kebingungan melihat Aying menangkap anak panah, bukannya orang yang mengejarnya berniat jahat padanya, lalu kenapa malah menyuruhnya pergi bahkan melindunginya dari panah.
"Apa mungkin dia orang suruhan ayah," ucap sang Pangeran kembali masuk ke kereta.
Aying menghentikan langkahnya menatap 2 pembunuh bayaran yang melompat turun menghadangnya, Aying memperhatikan ke sekelilingnya ternyata satu pembunuh lagi berlari mengejar kereta kuda.
"Cih."
Aying langsung menembakkan tombak ke arah kedua pembunuh bayaran, tembakan Aying dibaca dengan mudah dan membuat keduanya menghindar bersamaan.
__ADS_1
"Siapa kamu? Kenapa mencoba menghalangi misi kami?" tanya salah satu pembunuh bayaran.
"Siapa aku itu tidak penting, aku tidak menyukai pekerjaan kalian, karena aku tidak menyukainya kalian lebih baik bertobat maka aku akan mengampuni kalian berdua," sahut Aying.
"Jangan sombong, terima ini," ucap pembunuh bayaran satu lagi.
Whuuuuuuuusssss.
Whuuuuuuuuuussssssss.
Panah ditembakkan ke Aying dari jarak jauh, Aying yang melihatnya bergegas melompat menghindar, Aying memberi isyarat mata pada Wang untuk berlari ke arah mereka.
"Kucing belang itu ingin menyerang kita," teriak pembunuh bayaran.
"Beraninya kalian memanggilku kucing belang," sahut Wang yang langsung melompat menerjang salah satunya.
Aying sempat tertawa kecil mendengar teriakan salah satu pembunuh bayaran yang membuat Wang marah, kucing belang panggilan seperti itu lucu juga pikir Aying.
Melihat temannya dicabik-cabik pembunuh bayaran lainnya bersiap kabur, baru saja memutar badan satu pembunuh bayaran lainnya terkejut melihat Aying yang sudah ada didepannya.
"Sampai terkejut seperti itu ya, apa aku perlu minta maaf," ucap Aying tersenyum penuh arti.
"Wanita sialan aku tidak butuh permintaan maaf mu matilah," teriak pembunuh bayaran yang langsung melayangkan pisaunya ke Aying.
Wheeeeeeeessssss.
Treeeeeeeennnnnnnnng.
Aying menghalangi pisau pembunuh bayaran menggunakan pedangnya. Sang pembunuh bayaran yang melihat pedang milik Aying semakin terkejut dan membuatnya terjatuh seketika.
"Sepertinya kamu mengenal pedangku, kalau begitu kematian mu akan lebih cepat," sahut Aying.
"Tidak, aku tidak mengetahuinya," ucap pembunuh bayaran sambil menelan ludah.
"Benarkah, kalau begitu buktikan saja perkataan mu di Neraka," sahut Aying.
Wheeeeeeeeeeeeeessss.
Aying langsung mengayunkan pedangnya menebas leher sang pembunuh bayaran, satu tebasan kepala sang pembunuh bayaran terlepas dari lehernya dan terjatuh ke tanah.
"Heeeh, memangnya siapa yang ingin kamu bohongi," ucap Aying.
"Kucing belang ayo pergi," teriak Aying kelepasan.
"Coba kamu katakan sekali lagi," sahut Wang sambil berjalan ke arah Aying.
"Aku kelepasan, maaf," ucap Aying tersenyum.
"Cih," sahut Wang yang masih kesal.
"Itu, sial masih ada satu yang melarikan diri tadi," ucap Aying melihat ke arah kereta yang sudah terhenti.
"Ayo Wang kita pergi ke sana," ucap Aying lagi.
__ADS_1
"Kenapa tidak panggil kucing belang lagi," sahut Wang.
"Sudah kubilang aku kelepasan, jangan marah," ucap Aying.
"Heeeeeh, kalau begitu cepatlah," sahut Wang.
Tap tap tap.
Wang berlari cepat ke arah kereta yang berhenti, Aying bisa melihat para prajurit yang bekerja sama melindungi Pangeran satu persatu telah mati,
Sang Pangeran yang tidak memiliki prajurit lagi melawan sendiri pembunuh bayaran di depannya, perbedaan pelatihan Pangeran dan pembunuh bayaran yang berbeda tipis menguntungkan pembunuh bayaran hingga membuat sang Pangeran terpojok.
"Salahkan dirimu sendiri karena menjadi kesayangan Raja," ucap pembunuh bayaran.
"Apa Putra mahkota yang membayar mu?" tanya sang Pangeran.
"Kamu pikirkan saja di Neraka," teriak pembunuh bayaran.
Wheeeeeeesssssss.
Treeeeeeeeeeeeeeennng.
Pedang Aying mendarat tepat di depan Pangeran, pisau pembunuh bayaran yang terkena pedang Aying terlempar ke belakang.
"Aku tepat waktu," ucap Aying.
"Siapa kamu? Kenapa kamu melindunginya?" tanya prajurit bayaran.
"Aku tidak melindunginya, aku hanya tidak menyukai pekerjaan kalian yang menjadi pembunuh bayaran," ucap Aying.
"Tidak masuk akal, kamu sendiri pasti pembunuh bayaran kenapa berlagak seperti orang suci," sahut pembunuh bayaran.
"Kamu lihat ini, apa aku pembunuh bayaran kamu pasti tau sendiri," ucap Aying sambil menarik pedangnya.
"Tidak mungkin, pedang itu. Kamu," teriak pembunuh bayaran yang langsung mundur ke belakang.
"Kamu pasti mengingat sesuatu," ucap Aying.
"Tidak, aku tidak mengingat apapun," sahut pembunuh bayaran.
"Benarkah, kalau begitu pergilah ke Neraka untuk mengingatnya," ucap Aying.
Wheeeeeeeeeessssss.
Wheeeeeeeeeeeeessssssss.
Aying menebas tubuh pembunuh bayaran beberapa kali. Sang Pangeran yang melihatnya menelan ludah, untung saja tadi dirinya tidak melakukan apapun jika tidak dirinya pasti akan bernasib sama seperti para pembunuh bayaran itu.
"Terima kasih sudah menolongku," ucap sang Pangeran.
"Siapa yang menolongmu, kamu salah besar," sahut Aying bersiap pergi.
"Tapi tetap saja kamu telah membantuku, apa ada yang bisa aku lakukan untukmu?" ucap sang Pangeran.
__ADS_1
"Ada, aku tidak mau ada orang tau tentang pedangku, jangan mencoba membahas tentang pedangku atau kamu akan bernasib sama seperti mereka," sahut Aying yang langsung menaiki Wang dan berjalan pergi meninggalkan sang Pengeran.