
Emmmmmmmm.
Aying yang berusaha menguasai elemen kayu menjadi seperti kayu, semua yang dirasakan kayu saat dipotong, dibelah dan dibakar dirasakan menjadi satu olehnya sama seperti saat dirinya menguasai unsur logam.
Aying kembali menjerit sambil menggigit bibirnya, rasa sakit yang dirasakannya tidak berhenti dan semakin bertambah menyakitkan tubuhnya.
Kreeeeeeeetttaaak.
Suara tulang patah terdengar sangat keras, Aying merasakan akar kayu melilit tubuhnya dengan sangat erat, bunyi tulang patah terdengar dari tubuhnya yang seperti terlilit tanpa henti.
Merasakan sakit yang sangat menyiksa tidak membuatnya membuka mata, Aying menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
Aying mulai kembali tenang, energi keluar menyelimuti tubuhnya Rasa sakit yang perlahan menghilang disambut helaan nafas lega olehnya
Pukulan keras yang tiba-tiba dirasakan Aying membuatnya menegakkan badannya seketika, Aying salah berpikiran kalau semua sudah berakhir hanya seperti itu saja.
Tanpa Aying sadari Sain yang pergi datang kembali, Sain berada di atas pohon memperhatikan Aying yang berusaha menguasai unsur kayu.
Ras Elf adalah ras yang menyatu dengan alam, Sain bisa tau apa yang dilakukan Aying hanya dengan melihatnya, Sain bahkan bisa membantu Aying mengakhiri dengan cepat.
"Sepertinya dia masih sanggup," ucap Sain.
Tiga jam berlalu sejak Sain berada di atas pohon, Sain menatap tubuh Ayin yang kembali menegang, Sain tau saat ini Aying berada di puncak penguasaan, haruskah dirinya membantu pikir Sain
Arrrrrrrrrrrrrrkkkkkkkkh.
Teriakan Aying membuat Sain tidak bisa tinggal diam, Sain langsung turun dari atas pohon bersiap membantu Aying.
Aying membuka matanya setelah merasakan sudah berhasil mengendalikan unsur kayu. Melihat kaki di depannya Aying menengadahkan kepalanya menatap siapa yang berdiri di depannya saat ini.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Aying.
"Aku hanya penasaran apa yang kamu lakukan, ternyata datang kemari karena ingin menguasai unsur," ucap Sain.
"Manusia tetaplah manusia, untuk apa menguasai elemen yang bukan keahlian kalian," sambung Sain.
"Keahlian atau bukan apa masalahnya denganmu, atau kamu ingin mencoba bertanding denganku," ucap Aying.
__ADS_1
"Pufff, Hahahaha. Kamu ingin menantang ku apa kamu yakin, apalagi kamu wanita Aku tidak ingin ada yang mengatakan kalau aku menindas seorang wanita," sahut Sain terus tertawa tanpa henti.
"Benar katanya, apa kamu yakin ingin bertanding melawannya," ucap Wang.
"Kenapa? Apa kamu juga meragukanku," sahut Aying.
"Aku tau kamu selalu membuatku takjub, tapi seharusnya kamu tau ras Elf sudah menyatu dengan alam sejak mereka diciptakan, elemen bumi dan kayu adalah keahlian mereka," ucap Wang mengingatkan Aying.
"Aku tidak hanya memiliki kedua unsur itu masih ada dua lainnya, lagipula aku juga ingin mencoba seberapa kuat unsur bumi dan kayu yang baru saja aku kuasai," sahut Aying.
"Kalau hanya ingin mencoba aku mendukungmu, aku juga penasaran seberapa kuat kedua elemen itu," ucap Wang.
Sain menatap Aying yang hanya terdiam, dirinya melihat Aying sama sekali tidak bercanda benar-benar ingin bertanding dengannya, Sain bukan tidak berani dia hanya tidak mengerti dari mana datangnya kepercayaan manusia wanita itu.
***
Di tempat yang sudah ditentukan Aying dan Sain bersiap, keduanya sama-sama tidak diperbolehkan menggunakan senjata terlihat. Aying tidak masalah bertanding dengan Sain tanpa pedang, itu juga sangat bagus baginya karena tidak akan ada yang tau tentang pedang miliknya.
Suara khas Elf diteriakkan dengan sangat keras, Pertanda pertandingan antara Aying dan Sain resmi dimulai.
Wheeeeeess.
Wheeeeeeeesssss.
Serangan kayu yang di arahkan Sain ditangkis oleh Aying menggunakan perisai logamnya. Sain yang melihatnya sangat terkejut, dirinya tidak menyangka Aying juga menguasai unsur logam.
"Hanya unsur logam, aku hidup di sini semua yang ada di sini di bawah kendaliku," dalam hati Sain.
Sain mengangkat semua batu di sekitarnya dan melemparkannya ke arah Aying, Sain tau batu-batu yang dilemparnya pasti akan ditepis dengan perisai, sambil tersenyum licik Sain menjalankan rencananya.
Suara tangkisan batu dan suara hentakkan kaki terdengar bersamaan, dari bawah Aying tanah runcing menyerang tanpa henti membuat Aying hanya bisa terus melompat ke belakang.
"Lumayan juga," ucap Feng yang berhasil menghindari serangan kiriman Sain.
Dari awal Aying sengaja hanya menangkis dan menghindar, tujuan Aying sudah jelas memperhatikan pergerakan Sain dan mencoba mempelajarinya, setelah serangan dari bawah tanah Aying akhirnya tau apa yang direncanakan Sain dan bagaimana cara membalasnya.
"Sekarang giliran ku," ucap Aying.
__ADS_1
Unsur air yang ada di tangan Aying dilemparkan ke Sain bertubi-tubi. Aying melihat Sain membuat perisai dadakan dari kayu yang ada di dekatnya, selesai membuat perisai Sain Yang menggunakannya menangkis semua serangan air yang dibekukan oleh Aying.
Aying dari awal sudah tau apa yang akan dilakukan oleh Sain, melihat Sain yang masih sibuk menangkis serangan air nya Aying mengeluarkan unsur logamnya, Aying melemparkan pisau-pisau logamnya ke arah Sain tanpa henti.
"Sial," ucap Sain yang melihat banyak pisau logam mengarah padanya.
Duuuuuug, duuuuuug.
Sain membangun dinding tanah untuk menghalau pisau Aying, Membuat pelindung dari tanah juga sudah diduga oleh Aying dengan gerakan cepat Aying berlari memutar dan mengangkat kayu-kayu disekitarnya, angin dari unsur bumi diarahkan membawa kayu dan menyerang Sain tanpa memberikan kesempatan untuknya menyerang balik.
Jleeeeeb.
Sain yang bisa menghindar masih terkena salah satu kayu, kayu tajam yang sengaja dilancipkan oleh Aying menancap di lengan Sain membuatnya terluka cukup dalam.
"Sudah cukup," ucap Ratu Elf menghentikan.
Ratu Elf berdiri di tengah-tengah antara Aying dan Sain yang saling menatap, diantara keduanya masih belum ingin mengakhiri pertandingan tapi sang Ratu yang melihat gaya menyerang Aying sudah sangat yakin Putranya tidak akan bisa menang.
Ratu Elf mencabut kayu yang ada di lengan Sain dan menyembuhkan lukanya menggunakan tanaman. Luka Sain seketika sembuh, karena tidak terima kalah Sain pergi meninggalkan tempat pertandingan membiarkan Aying menjadi pemenang.
"Aku tidak menyangka ada manusia yang bisa menguasai empat unsur," ucap Ratu Elf.
"Aku akan menguasai 5 elemen tidak perlu terkejut," sahut Aying.
"Apa kamu murid penyihir?" tanya Ratu Elf.
"Itu konyol, walau aku menguasai 4 Aying aku bukan penyihir. Aku adalah sang pendekar bukan sang penyihir," ucap Aying.
"Aku jadi tau tujuanmu datang kemari. Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal, kalau kamu mengatakannya aku akan menyuruh Sain membantumu, kalian tetaplah saudara angkat," sahut Ratu Elf.
"Itu tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri," ucap Aying.
"Kalau begitu aku berterima kasih karena sudah diizinkan tinggal sementara di sini, aku pergi dulu," sambung Aying sambil berjalan pergi.
"Berhati-hatilah, jika membutuhkan bantuan kami katakan saja, kita satu keluarga," sahut Ratu Elf.
Aying hanya menganggukkan kepala tidak menjawab perkataan Ratu Elf, dirinya memang sudah bersumpah untuk menjadi keluarga ras Elf tapi bukan berarti dirinya menerima menjadi keluarga mereka. Aying sadar saat ini dirinya memiliki tujuan yang sangat berbahaya, Ayinh tidak ingin ras Elf malah dalam bahaya karenanya.
__ADS_1