Pendekar Wanita Pembantai

Pendekar Wanita Pembantai
Membantai Keluarga Ju


__ADS_3

Di tempat sepi Aying mengeluarkan semua yang diambilnya dari markas pembunuh bayaran yang baru saja dihabisinya, semua kepingan emas yang didapat dimasukkan kembali ke dalam cincin ruang saat ini di depannya hanya tersisa berkas dan beberapa senjata tingkat menengah.


Aying yang merasa tidak membutuhkan semua pedang itu melemparnya ke belakang, Aying memeriksa berkas di depannya dan mencoba mencari informasi kerajaan mana yang menjadi dalang pembantaian Klan Saga milik nya.


"Sial, semua hanya kertas tidak berguna, tidak ada informasi tentang kerajaan yang dimaksud pelayan keluarga Lu waktu itu," ucap Aying kesal dan menghambur semua kertas yang dipegangnya.


Aying menatap langit malam yang sangat terang, sambil mengepalkan tangannya Aying tidak berhenti bergumam sendiri, dirinya yakin cepat atau lambat pasti akan mengetahui kerajaan mana yang menjadi dalang itu dan menghabisi seluruh keluarganya tanpa sisa.


"Ayo Hi, sudah waktunya kita lanjut berburu," ucap Aying.


"Auuuuuuuuuuuuuuuuuuuu," sahut Hi penuh semangat.


Tap tap tap.


Tap tap tap.


Hi berlari lebih cepat dari sebelumnya, sampai di depan rumah keluarga Lu Aying bergegas turun dan mengusap kepala Shi.


"Masuklah," ucap Aying.


"Auuuuuuuuuuu, auuuuuuuuuu," sahut Hi.


Braaaaaaaaaaaaaak.


Pintu gerbang yang diterjang Hi sampai terbuka lebar, suara keributan membangunkan seisi rumah termasuk Ju Chen kepala keluarga Ju.


"Apa yang terjadi di sini," ucap Ju Chen yang melihat semua sudah bangun dan berdiri di depannya.


"Ayah, serigala putih itu apa ayah yang membelinya?" tanya putra sulung Ju Chen.


"Tidak," sahut Ju Chen.


"Sepertinya ada yang tidak beres kalian semua masuk," teriak Ju Chen.


"Instingmu tepat sekali," ucap Aying Yang berdiri di atas pagar.


Ju Chen menatap Aying yang terlihat sangat misterius di atasnya, Ju Chen menebak-nebak siapa orang misterius itu, kapan dirinya pernah menyinggung orang berjubah hitam yang saat itu berdiri di samping serigala putih.


"Siapa kamu? Kenapa bertamu tengah malam seperti ini dengan tidak sopan," tanya Ju Chen.


"Bertamu, apa tempatmu ini layak untuk aku datangi sebagai tamu," sahut Aying.


"Lalu kenapa kamu kemari? Aku merasa tidak pernah menyinggung orang sepertimu," ucap Ju Chen.


"Apa kamu yakin kamu tidak pernah menyinggungku, bukankah selama ini sudah sangat banyak orang yang kamu singgung bahkan sampai saat ini Ketua pelayanmu tidak kembali," sahut Aying.


"Tunggu, kalau kamu yang membunuhnya berarti kamu juga yang membunuh kelompok pembunuh bayaran darah merah," ucap Ju Chen.


"Tanda di tubuh mereka sama seperti yang ditinggalkan sang pembantai kelompok pembunuh bayaran darah merah," sambung Ju Chen.


"Benar, itu memang aku. Aku membantai kelompok pembunuh bayaran darah merah, aku sengaja meninggalkan jejak itu," sahut Aying menjawab dengan jujur.


"Kalian semua tunggu apa lagi cepat masuk," teriak Ju Chen.

__ADS_1


Duuuuuaaaaaaaaar.


Duuuuuuaaaaaaaaaaaar.


Ju Chen melemparkan sinyal bantuan ke langit, sinyal itu bisa membuat pembunuh bayaran tangan iblis segera datang membantunya yang dalam bahaya.


"Apa kamu menunggu mereka datang," ucap Aying menyunggingkan bibirnya.


"Tunggu saja, mereka tidak akan membiarkanmu pergi dari sini hidup-hidup," sahut Ju Chen.


"Kamu terlalu meremehkan ku," ucap Aying sambil tersenyum.


Aying mengeluarkan kepala Jongan yang dari awal sengaja dipersiapkannya, tanpa banyak bicara Aying melemparkan kepala Jongan ke bawah kaki Ju Chen.


"Dia tidak akan datang, tidak akan ada yang menolongmu," ucap Aying.


"Sebenarnya siap kamu? kenapa kamu menargetkan kami?" tanya Ju Chen yang mulai gemetar.


"Kamu tenang saja, aku tidak hanya menargetkan kamu dan dua kelompok pembunuh bayaran itu, masih banyak kelompok pembunuh bayaran yang tersisa dan beberapa keluarga besar lainnya," ucap Aying.


Aying yang mengeluarkan pedang miliknya membuat Ju Chen terkejut, Aying menancapkan pedang di depannya sambil mengepalkan tangannya.


"Pedang itu," ucap Ju Chen.


"Tidak perlu terkejut, karena semua yang melihat pedang ini terkejut sama sepertimu dan mereka semua sudah mati," sahut Aying.


"Kamu tidak mungkin dia," ucap Ju Chen menunjuk Aying.


Whuuuuuuuuuussssss.


Serangan dari belakang Ju Chen berhasil ditepis Aying dengan mudah, dari belakang Ju Chen Putra sulungnya dan Putra bungsunya menyerang Aying secara bersamaan.


"Apa yang kalian lakukan cepat bersembunyi," teriak Ju Chen yang melihat kedua Putranya berdiri di sampingnya.


"Tidak, kami akan membantu ayah untuk mengalahkannya," sahut Putra sulung Ju Chen.


"Aku juga, aku tidak akan membiarkan dia menindas ayah," ucap Putra bungsu Ju Chen.


Aying menggelengkan kepalanya, sayang sekali keduanya anak keluarga Ju, jika bukan anak keluarga Ju dirinya pasti akan membebaskan mereka karena keberanian mereka yang cukup kuat.


"Menarik, sangat menarik," ucap Aying sambil tersenyum.


"Tidak, jangan Putraku, kamu ingin membunuhku bunuh saja aku," sahut Ju Chen membentangkan tangannya.


"Ayah kami bisa melindungi diri sendiri," ucap Putra sulung Ju Chen.


"Ayah bilang diam, jangan banyak bicara," sahut Ju Chen.


"Kamu boleh membunuhku, kamu boleh membunuh semua yang ada di sini tapi aku mohon lepaskan kedua Putraku," ucap Ju Chen sambil berlutut.


"Aku akan membiarkan mereka tetap hidup dengan syarat," sahut Aying.


"Katakan saja syaratnya," ucap Ju Chen.

__ADS_1


"Selain kalian beberapa keluarga besar kalian dilindungi kerajaan, katakan padaku kerajaan mana yang membuatmu dan keluarga lainnya berani melakukan pembantaian di Klan Saga ku," sahut Aying.


Ju Chen langsung terdiam informasi tentang kerajaan itu tidak mungkin diberitahukan pada Aying, karena walau kedua anaknya selamat sekarang nanti kerjaan itu tidak akan membiarkan mereka tetap hidup.


"Aku tidak tau, aku tidak hadir di perkumpulan hari itu," ucap Ju Chen.


"Kamu berbohong," sahut Aying.


"Sungguh, aku tidak berbohong," ucap Ju Chen.


"Kalau tidak percaya kamu bisa periksa rumahku, tidak ada informasi tentang kerajaan yang kamu maksud di sini," sambung Ju Chen.


Aying melihat langit yang sudah mulai terang, dirinya harus segera menyelesaikan dan bergegas pergi tidak ada waktu untuk memeriksa rumah keluarga Ju.


"Heeeeeh, tapi karena kamu terlibat kamu dan semua orang yang ada di sini harus mati," ucap Aying.


Duh dug, dug dug.


Aying menghentakan kakinya ke tanah membuat kaki Ju Chen dan anaknya tidak bisa berlari kemanapun.


Wheeeeeeeesssss.


Wheeeeeeeeeeessssss.


Arrrrrrrrrrrkkkkkkkkhhhhh.


Teriakan dari dalam rumah Lu Chen terdengar sangat keras, hanya membutuhkan waktu beberapa menit semua yang berada di dalam rumah Ju Chen mati.


"Ibu, kamu membunuh ibuku," teriak Putra sulung Ju Chen.


"Kamu diamlah," sahut Ju Chen.


Feng melepaskan elemen bumi yang digunakan untuk menahan Ju Chen dan Putranya, tanpa banyak bicara Aying berjalan ke arah Ju Chen dan bersiap mengayunkan pedangnya yang masih berlumuran darah.


"Aku mohon lepaskan kedua Putraku," ucap Ju Chen.


Wheeeeeeeeeeeesssssssss.


Tubuh Ju Chen langsung terjatuh tepat setelah kepalanya terjatuh ke tanah, kedua Putra Ju Chen saling berpelukan tidak berani menatap ke arah Aying yang sudah membunuh keluarga mereka.


"Anggap saja kalian beruntung," ucap Aying berjalan pergi.


Walau sangat ingin membunuh keduanya Aying terpaksa mengurungkan niatnya, anggap saja dirinya mengabulkan keinginan terakhir Ju Chen untuk tidak membunuh kedua Putranya.


"Ayo Hi kita pergi," ucap Aying.


"Auuuuuuuuuu," sahut Hi.


Melihat Aying berjalan pergi Putra sulung JunChen mengepalkan tangannya, Putra sulung Ju Chen berjanji pada dirinya sendiri dan atas nama keluarganya akan membalas dendam pada orang yang membantai keluarganya.


"Aaaaaaaaarrrrrrrrrkkkkkkkkkkkhh."


Teriakan Putra sulung Ju Chen menggema sangat keras, hujan langsung turun dengan sangat deras mengiringi teriakan demi teriakan Putra sulung Ju Chen yang masih memeluk adiknya.

__ADS_1


__ADS_2