Pendekar Wanita Pembantai

Pendekar Wanita Pembantai
Pria Bertopeng


__ADS_3

Aying yang memperhatikan kereta kuda menjauh bergegas pergi. Wang sudah kembali masuk ke dalam tubuhnya, dirinya juga harus segera ke kota dan mencari penginapan untuk beristirahat perjalanan tanpa istirahat tidak ada yang bisa dinikmati.


3 jam setelah berjalan kaki Aying tiba di kota, baru saja memasuki gerbang berita heboh tentang penyerangan Pangeran Tan terdengar dengan jelas, tidak hanya itu penyelamatan sang Misterius yang gagah berani membantai 3 prajurit bayaran dibicarakan dengan sangat bangga oleh beberapa orang.


"Walau aku tidak tau apa tujuannya, aku yakin yang menyebarkan berita itu adalah orang sang Pangeran," ucap Wang.


"Aku juga berpikiran sama," sahut Aying sambil terus berjalan.


Aying menghampiri sebuah penginapan yang tidak jauh dari gerbang kota, sama seperti di jalan di dalam penginapan semua orang juga membicarakan berita penyerapan sang Pangeran.


"Menurutmu siapa orang itu?" tanya seseorang.


"Yang pasti orang itu pendekar pemberani yang suka menyelamatkan orang lain, kalian tau yang paling mengejutkan sang misterius itu tidak suka dengan para pembunuh bayaran ada yang bilang kalau misterius itu sepertinya seorang wanita," sahut lainnya.


"Siapapun orang itu aku sangat menyukainya, jika bertemu aku akan memintanya mengangkat ku sebagai murid," ucap yang lain.


"Maaf ada yang bisa aku bantu?" tanya pelayan penginapan yang melihat Aying hanya terdiam di depan pintu.


"Mereka semua sedang membicarakan apa?" tanya Aying berpura-pura tidak tau.


"Ahhh itu mereka membicarakan sang misterius yang menyelamatkan Pangeran dari pembunuh bayaran, katanya cara penyelamatannya sangat gagah berani, apalagi tunggangannya itu," ucap sang pelayan bercerita penuh semangat.


"Mereka tau dari mana tentang penyelamatan sang Pangeran? Apa salah satu dari mereka ada yang melihat secara langsung?" tanya Aying.


"Aku tidak tau juga, yang pasti berita itu sudah tersebar, siapa yang menyebarkannya mungkin para prajurit Pangeran," ucap sang pelayan.


"Aku mau kamar satu yang besar, aku tidak ingin diganggu siapapun," sahut Aying.


"Baiklah, ikuti aku nona," ucap sang pelayan sambil berjalan pergi.


Ayimg memasuki kamar yang sudah dibukakan sang pelayan, tanpa banyak bicara Aying langsung masuk ke dalam dan kembali menutupnya.


"Sebentar lagi para pembunuh bayaran akan banyak yang mencari mu," ucap Wang.


"Sebenarnya tidak perlu mereka mencariku aku pasti akan mencari mereka, tapi ini jadi lebih muda apalagi di tubuh pembunuh bayaran itu sudah aku gambar tengkorak sama seperti sebelumnya," sahut Aying sambil tersenyum.


"Mereka akan langsung berpikir yang membunuh rekan mereka adalah orang yang sama yang membantai kelompok pembunuh bayaran sebelumnya, apa seperti itu maksudmu?" ucap Wang.


"Benar sekali, kamu pintar juga," sahut Aying.


"Lupakan saja itu, aku akan menyalurkan energi ku ke dalam lautan spiritual sekarang, jika tidak seperti itu akan sangat lama aku baru bisa menerobos tingkatan tanpa bantuan apa-apa," sambung Aying sambil duduk bersila dan menutup matanya.

__ADS_1


Setelah sekian lama tidak menyalurkan energinya masuk ke dalam lautan spiritual Aying bisa merasakan gejolak besar besaran dari lautan spiritualnya, Aying mencoba menahan keping energinya yang sudah terbentuk agar tidak pecah, jika semua keping energijta pecah dirinya harus mengumpulkan semua dari awal lagi dan itu membutuhkan waktu yang sangat lama.


8 jam berlalu setelah Aying menyalurkan energinya bergegas kembali membuka matanya, seluruh tubuh Aying terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya, energi di dalam tubuhnya juga sudah stabil dan energi di dalam lautan spiritualnya perlahan kembali memadat.


Aying bergegas berdiri dan menggerakkan tubuhnya untuk peregangan, tak terasa hari sudah malam Aying berjalan turun ke bawah untuk meminta pelayan menyiapkan makanan untuknya.


Sampai di bawah berita tentang dirinya masih terdengar, Aying berpikir apa orang-orang yang membicarakannya itu tidak bosan, dirinya yang mendengarkan saja sudah bosan sendiri dan ingin sekali menutup mulut mereka semua.


Brrrrrraaaaaaaaaak.


Gebrakan di meja mengejutkan beberapa orang, seseorang yang menggunakan topeng mengarahkan pedang ke meja membuat semua orang semakin terkejut.


"Apa diantara kalian ada yang tau siapa sang misterius yang kalian bicarakan?" tanya orang itu.


"Ti tidak, kami hanya mendengar berita yang sudah tersebar di kota," ucap salah seorang yang terlihat ketakutan.


"Kalau hanya mendengar kenapa kalian mengagungkannya, belum tentu dia sebaik yang kalian kira," sahut pria bertopeng.


"Aku tidak ingin mendengar kalian membicarakannya lagi, jika tidak jangan salahkan aku," sambung pria bertopeng yang langsung kembali ke tempat duduknya.


"Ada masalah apa dia padamu?" tanya Wang.


"Tidak tau, hanya dua dugaanku kalau bukan dari kelompok pembunuh bayaran dia pasti orang yang ingin membunuh Pangeran," sahut Aying.


"Apa aku harus mendatanginya dan bertanya siapa kamu? Apa ingin bertarung denganku," ucap Aying.


"Tidak seperti itu juga, Dia sepertinya tidak menyukaimu tidak ada salahnya bertanya padanya," sahut Wang.


"Heeeem, kalau begitu aku tau apa yang harus aku tanyakan padanya," ucap Aying sambil berpikir.


"Kalian!" ucap Aying sambil berjalan menghampiri meja beberapa orang yang terdiam membisu.


"Coba kalian ceritakan, bagaimana sang misterius itu mengalahkan pembunuh bayaran, aku sudah mendengarnya seharian tapi masih penasaran juga," ucap Aying yang langsung duduk bergabung dengan beberapa orang lainnya.


Beberapa orang saling pandang dan merasa ketakutan, salah satunya bahkan memberi isyarat ke Aying untuk diam dan menunjuk pria bertopeng yang sedang melirik ke arah mereka.


"Ada apa?" tanya Aying berpura-pura tidak tau apa-apa.


"Kamu yang di sana kemari," ucap pria bertopeng dengan suara keras.


Saat Aying memperhatikannya lagi topeng itu terlihat lebih lucu, topeng itu berbentuk hewan yang sangat menggemaskan.

__ADS_1


"Aku," sahut Aying sambil melihat ke sekelilingnya.


"Hahahaha, kamu sangat cocok berpura-pura bodoh," ucap Wang yang melihat ekspresi Aying.


"Diamlah kucing belang," sahut Aying.


"Kamu!" ucap Wang kesal.


Pria bertopeng langsung berdiri, tangannya mengambil pedang di sampingnya dan memanggil Aying dengan pedangnya.


"Berhati hatilah nona," ucap seseorang yang duduk di samping Aying.


"Memangnya apa yang bisa terjadi," sahut Aying.


"Baiklah, tunggu sebentar," ucap Aying sambil berjalan ke arah pria bertopeng.


"Kamu seharusnya mendengar apa yang aku katakan pada mereka, kamu meminta mereka bercerita apa kamu sedang menantang ku," teriak pria bertopeng mengarahkan pedangnya ke Aying.


"Tunggu, kenapa kamu marah," ucap Aying.


"Semua orang di kota ini bahkan menyukainya, jika kamu tidak suka kenapa tidak kamu saja yang pergi dari sini," sambung Aying dengan berani.


Dari mata pria bertopeng Aying tau pria itu menatapnya dengan tajam, pedang di tangannya semakin dimajukan ke leher Aying.


"Kamu benar-benar cari mati," ucap pria bertopeng.


"Aku jadi curiga, apa kamu rekan pembunuh bayaran yang mati di tangan sang misterius itu, atau jangan-jangan kamu orang yang menyuruh membunuh Pangeran," sahut Aying.


"Yang dikatakannya benar juga, mungkin dia rekan pembunuh bayaran," ucap seseorang di samping Aying.


"Tunggu, kalau dia orang suruhan yang ingin membunuh Pangeran bukankah seharusnya kita bawa saja dia ke kerajaan," sahut lainnya.


"Beraninya kalian," ucap pria bertopeng yang langsung mundur.


"Kita tidak perlu takut, dia pasti dihukum berat karena menjadi kaki tangan pembunuh Pangeran," sahut Aying mencoba memprofokasi.


"Kita tangkap saja dia ramai-ramai," sambung Aying lagi.


"Sial, aku akan mengingatmu," ucap pria bertopeng yang langsung menghilang.


Aying hanya tersenyum rencananya berjalan mulus, ternyata dugaannya benar orang itu ada kaitannya dengan pembunuh bayaran dan seseorang yang ingin membunuh Pangeran.

__ADS_1


"Kamu sangat berani, aku tidak menyangka kamu juga sama seperti kami yang menyukai sang misterius," ucap seseorang di samping Aying.


"Kalau kalian menyukainya jangan biarkan orang seperti tadi menghalangi kalian," sahut Aying sambil berjalan pergi.


__ADS_2