Pendekar Wanita Pembantai

Pendekar Wanita Pembantai
Pembuat Masalah


__ADS_3

Pesta semalam telah usai dengan cukup meriah, pagi harinya semua Elf masih tertidur tapi tidak dengan Aying yang sudah bangun sejak tadi, Aying menatap langit yang tidak memancarkan cahaya terang walau sudah pagi dan hanya kesejukan yang dirasakannya saat ini.


Aying menepuk jidatnya melupakan sesuatu di wilayah ras Elf matahari tidak akan menembus rerimbunan pohon, setiap hari wilayah Elf akan teduh sampai petang dan gelap saat setelah waktunya datang.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Sain.


"Menghirup udara," ucap Aying tanpa menoleh ke Sain.


"Kapan Ratu akan bangun?" tanya Aying balik.


"Tidak ada yang tau, kami ras Elf berbeda dengan kalian, kami akan bangun setelah tubuh kami terasa segar dan kesegaran di tubuh yang kami dapat berbeda-beda," ucap Sain.


"Kalau begitu bisakah kamu mengantarku ke sebuah tempat?" tanya Aying.


"Ke mana? aku tidak bisa mengantar mu ke sembarang tempat tidak peduli kamu sudah bersumpah atau tidak," ucap Sain sambil menatap Aying penuh curiga.


"Antar aku ke sebuah tempat yang membuatku tidak akan diganggu oleh siapapun, aku butuh ketenangan," ucap Aying.


"Untuk apa?" tanya Sain.


"Kamu tidak perlu tau, intinya aku sudah bersumpah tidak akan merusak apapun dan tidak akan merugikan kalian," sahut Aying.


"Heeeeh, kalau begitu ikut denganku," ucap Sain sambil berjalan pergi.


Aying mengikuti Sain berjalan melewati pagar kecil yang terbuat dari tanaman, setelah masuk tidak jauh Sain menghentikan langkahnya dan memutar badannya menatap Aying.


"Tempat ini biasa digunakan untuk kami mencari makanan, kamu bisa menggunakannya untuk sementara karena kami sudah mengambil makanan dan menyimpannya untuk beberapa hari ke depan, kami juga masih memiliki tempat lain yang belum kami ambil, jadi tidak akan ada yang mengganggumu," ucap Sain sambil berjalan melewati Aying.


"Baguslah," sahut Aying.


Aying memperhatikan sekelilingnya, tempatnya saat ini berdiri memang sangat cocok untuk menguasai unsur Bumi dan Kayu, melihat tanah yang dipijaknya dan kayu yang mengelilinginya membuat Aying yakin dirinya pasti bisa menguasai kedua unsur itu dengan sangat mudah.


"Apa kamu ingin menguasainya sekarang?" tanya Wang.


"Tentu saja, semakin cepat semakin baik," ucap Aying yang langsung duduk bersila.


Aying duduk bersila sambil menutup matanya, tepat setelah Aying menutup matanya angin terus berhembus meniupnya. Tak lama tanah yang diduduki Aying bergoyang perlahan, semakin lama tanah bergoyang cepat mengguncang tubuh Aying dan membuatnya hampir terjatuh.


Tanah dan angin adalah unsur bumi, tidak heran bagi Aying merasakan hembusan bahkan getaran hebat di tanah yang mencoba dikuasainya secara perlahan.

__ADS_1


Dalam diamnya Aying merasakan hembusan angin berubah menjadi pusaran, Aying merasa saat ini dirinya sedang berada di dalam angin yang membawanya terus berputar.


Ketenangan Aying membuatnya tidak goyah sedikitpun, berada di dalam pusaran angin yang sangat kencang Aying mencoba menyatu.


Perlahan angin yang membawa Aying terus berputar menjadi sangat pelan, Aying bisa merasakan saat ini dirinya kembali duduk di tanah, hembusan seperti sebelumnya yang meniup seluruh tubuh kembali dirasakannya.


Tanah bergetar hebat menyambut Aying yang baru saja merasa kembali duduk dengan tenang, getaran yang bercampur banyaknya suara langkah kaki memenuhi telinganya hampir saja membuat Aying membuka matanya.


Suara langkah kaki pelan namun banyak terus terdengar, belum habis Aying mendengar suara langkah yang memekik di telinganya Aying merasa di bawah tempatnya duduk sesuatu bersiap ke luar.


Duuuuuuuuuuaaaaaaaar.


Tanah yang meledak tiba-tiba tak membuat Aying membuka matanya, saat ini dirinya berada di setengah kesadarannya dan setengah ilusi yang didapatnya karena ingin menguasai unsur bumi.


Tanah bekas ledakan berhamburan menimpa tubuh Aying, hal seperti itu masih tidak bisa menggoyahkan Aying yang benar-benar sangat ingin menguasai unsur Bumi.


Tap tap tap, tap tap tap.


Setelah cukup lama Aying tidak merasakan apa-apa suara langkah kaki kembali terdengar, Aying masih berusaha tetap tenang mencoba merasakan semua yang datang adalah ilusi yang harus di terima olehnya.


"Manusia itu menjadikan anakku sebagai sandra, Ratu tolong aku," teriakan yang terdengar di telinga Aying membuatnya langsung tanpa sadar membuka mata.


"Dia pasti teman manusia yang semalam," ucap Elf lainnya yang juga di dengar oleh Aying.


"Jangan salah, aku tidak mengenalnya," sahut Aying yang muncul tiba-tiba.


Aying menatap 6 orang berpakaian hitam menyandra seorang anak Elf, melihat tanda di baju keenam orang itu Aying mengepalkan tangannya, lambang itu masih teringat jelas oleh Aying beberapa hari sebelum Klan Saga milik nya dibantai.


"Kenapa? Apa mereka juga anggota pembunuh bayaran?" tanya Wang.


"Bukan, mereka anggota keluarga Ju, keluarga terbesar yang menjadi salah satu musuh Klan ku, aku yakin keluarga Ju terlibat pembantai keluargaku," sahut Aying.


"Jadi, apa kamu akan turun tangan?" tanya Wang.


"Tentu saja, sekalian mencari informasi tidak ada salahnya bukan," sahut Aying menyunggingkan bibirnya, terlihat kemarahan dari wajahnya sangat jelas.


"Lepaskan kami jika tidak aku akan membunuhnya," ucap Ketua pelayan keluarga Ju.


"Biarkan mereka pergi, serahkan saja padaku." Aying langsung bertelepati pada Ratu Elf.

__ADS_1


"Baiklah, kalian boleh pergi," ucap Ratu Elf menuruti perkataan Aying tanpa bertanya alasan Aying.


"Tapi ibunda," sahut Sain.


"Diamlah, ini jalan terbaik," ucap Ratu Elf.


Keenam orang berjalan mundur pergi sambil tersenyum, semua Elf yang melihat itu hanya bisa diam, tidak ada dari mereka yang berani menentang perintah Ratu Elf.


Aying diam-diam pergi mengikuti keenam orang yang membawa Elf kecil, setelah melewati perbatasan Aying mengeluarkan jubah hitamnya untuk menyamarkan identitasnya.


"Berhenti," ucap Aying.


Enam orang keluarga Ju yang dipimpin Ketua pelayan keluarga Ju menghentikan langkah mereka, semua menatap Aying sekilas dan saling pandang, semua serentak berpikir siapa orang berjubah hitam di depan mereka dan kenapa menghentikan mereka yang jelas sudah berhasil membawa satu Elf kecil pergi keluar dari wilayah Elf.


"Aku menginginkan Elf kecil itu," ucap Aying.


"Memangnya kamu siapa? Jika kamu menginginkannya kenapa kami harus memberikannya padamu," sahut Ketua pelayan keluarga Ju.


Aying tersenyum tipis, tanpa banyak bicara Aying mengeluarkan pedang miliknya dan membuat enam orang itu langsung termundur ketakutan.


"Dari mana kamu mendapatkan pedang itu?" tanya Ketua pelayan keluarga Ju yang berdiri dibarisan paling depan.


Aying menancapkan pedangnya ke tanah. Tepat setelah pedang menancap tanah yang bergetar membuat Aying tersenyum.


"Apa yang membuatmu senang?" tanya Wang.


"Sepertinya aku berhasil menguasai elemen Bumi," ucap Aying.


"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanya Wang lagi.


"Saat aku menancapkan pedang tanah langsung bergetar menyambutku," ucap Aying.


"Ternyata aku berhasil menyelesaikannya sebelum para bedebah keluarga Ju sialan ini datang," sambung Aying.


"Lalu apa kamu akan menghabisi mereka sekarang?" tanya Wang lagi.


"Tentu saja, tapi ada yang lebih penting dari itu," sahut Aying yang langsung berjalan maju, Aying menyeret pedangnya berjalan ke arah mereka membuat keenam orang di depannya semakin ketakutan.


"Ambillah, lepaskan kami," ucap Ketua pelayan Ju mendorong Elf kecil ke Aying.

__ADS_1


__ADS_2