
Hingar-bingar musik berdentuman terdengar keras kala Sang DJ terus memainkan alat musiknya dengan lihai, jari-jari lentiknya bergerak dari sisi lain kesisi lainnya, memutar serta menggeser apapun benda dihadapannya agar menghasilkan sebuah irama yang indah dan jauh dari kata mendayu-dayu.
Lampu-lampu disco yang berwarna-warni berkelap-kelip semakin meramaikan hingar bingar suasana malam panas ini, dan suasana di dance floor semakin malam bertambah semakin ramai, penuh dengan orang-orang yang menari, berteriak bahkan tertawa dengan keras seolah ingin menyaingi kerasnya suara yang ada di dalam sana.
Seorang lelaki muda berusia 25 tahunan terlihat berjalan dan menempati salah satu kursi kosong yang berjajar di depan meja bar. Seorang bartender lalu menyapanya.
"Bos, kau datang. Sudah cukup lama kau tidak datang kemari," ucap si bartender.
Dia sedang meracik sebuah minuman dalam gelas besar milenium, mengocoknya untuk kemudian menuangkan minuman berwarna kuning terang itu kedalam gelas krystal kecil berisi es batu dan menyerahkan pada seorang pelanggan pria yang duduk beberapa kursi di samping Zian.
"Hn, aku sibuk akhir-akhir ini. Buatkan aku satu." Katanya ketika pria bernama Zico, atau yang lebih akrab di panggil Zee itu berdiri kembali dihadapannya.
"Seperti biasa?" Zian mengangguk.
"Oke, Bos." Zee menjawab sesaat sebelum mengambil beberapa alkohol seperti Dark Rum, Brandy, Bourbon Whiskey dan Champagne lalu menuangkannya ke dalam Shot Glass (sloki) sebagai takaran.
Lalu Ia mencampurkannya serta ditambahkan es batu, lemon dan ceri ke dalam gelas Brandy tersebut.
Chatham Artillery Punch. Adalah salah satu jenis cocktail yang diakui sebagai minuman berjenis punch terkuat sepanjang sejarah. Tak heran karena persentase alkohol tinggi dari berbagai jenis minuman keras yang dicampur dalam satu gelas.
Segera sang bartender menyajikannya pada Zian. Warna jingga menghiasi gelas transparan tersebut. "Beberapa waktu tidak kesini, bar-mu semakin ramai saja." Ucap Zian sambil menikmati minumannya.
"Itu karena malam ini sang primadona datang untuk menunjukkan kebolehannya,"
"Sang primadona?" Muncul perempat siku-siku di kening Zian mendengar ucapan bartender di depannya ini.
Zee mengangguk. "Ada seorang gadis cantik yang secara suka rela menjadi DJ di club' ini. Tapi sayangnya dia tampil tidak setiap hari, hanya ketika malam Minggu saja." Jelas Zee.
Zian tak memberikan respon apapun. Dia bersikap acuh, toh tidak ada hubungannya juga. Sampai sebuah suara yang begitu familiar masuk dan berkaur di dalam telinganya.
"APA KALIAN INGIN YANG LEBIH?"
Zian menoleh kearah suara itu berasal dan mendapati seorang gadis yang sangat dia kenal berdiri di depan sebuah peralatan yang biasanya di pakai oleh para DJ ketika sedang melakukan aksinya.
"Nara~!!!"
-
__ADS_1
-
Dentuman musik terdengar memenuhi seluruh ruangan. Kelap-kelip lampu yang menyilaukan mata tidak sedikitpun menyurutkan niat manusia untuk tidak menghabiskan waktunya di tempat terkutuk ini.
Bau alkohol tercium dengan sangat jelas di setiap penjuru tempat. Kepulan asap rokok pun pengganti oksigen di tempat ditempat ini. Menemani lautan manusia yang menari dengan bebas sembari memegang botol alkohol mereka.
Tidak peduli jika sesekali mereka terdorong atau bahkan berdesak-desakan dengan yang lainnya. Para manusia bodoh yang mencoba melarikan diri dari masalah mereka di tempat seperti ini. Akan tetapi, itu bukan urusannya.
Bahkan jika boleh jujur, dia pun sama seperti mereka. Hanya seorang gadis yang mencoba melarikan diri dari segala rutinitas memuakkan di siang hari, dan malam hari ini ia menjadi pemimpin para manusia-manusia itu untuk menari.
Yup, betul sekali. Dia adalah seorang DJ yang secara suka rela menunjukkan kebolehannya di club ini.
Gadis itu membenarkan kembali ikatan rambutnya yang agak miring dan mengambil cocktailnya kemudian meminumnya dengan santai sembari menatap lautan manusia itu sekilas.
Sedikit informasi, tempat yang dia gunakan adalah tempat hiburan VIP , agar bisa masuk ke tempat ini harus menjadi anggota dan mempunyai tanda pengenal khusus. Jadi tidak bisa sembarangan orang memasuki tempat ini.
Dia memainkan tangannya dengan lincah di atas peralatan DJ di depannya. Ditemani dengan Headphone di telinganya, gadis itu merasakan euforia menyenangkan di sekelilingnya. Segala kepenatan yang dia rasakan lenyap begitu saja.
Dengan semangat, gadis itu menaikan volume dan mengubah tempo musik menjadi musik yang cepat. Semua orang terlihat menikmati permainan tangannya yang memainkan alat musiknya dengan sangat lincah.
Dan setelah menyelesaikan aksinya. Gadis itu turun dari panggung dan berjalan menuju bar stool. Matanya membelalak saat bersirobok dengan sepasang mata dingin milik seorang pemuda yang duduk di depan konter bar.
"Zian, sedang apa kau disini?"
"Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan disini dengan pakaian kurang bahan seperti ini?!" Zian balik bertanya sambil menunjuk pakaian yang Nara pakai. Sebuah dress hitam model kemben diatas lutut.
"Aku sedang mencari hiburan, lalu bagaimana dengan kau sendiri?" Nara kemudian dudu disamping Zian.
Bukannya menjawab pertanyaan gadis itu. Zian malah menariknya pergi dari sana dan membawanya meninggalkan bar. Menurutnya tempat semacam ini tidak cocok untuk seorang gadis baik-baik seperti Nara. Sedangkan Nara tak mengatakan apa-apa dan hanya mengikuti Zian kemana akan membawanya.
Pemuda itu mendorong Nara masuk ke dalam mobilnya lalu melemparkan jas miliknya ke pangkuannya.
"Pakai jas itu, karena penampilanmu bisa mengundang singa-singa yang sedang kelaparan," ucapnya seraya menghidupkan mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik saja, mobil itu melaju kencang meninggalkan club' malam.
-
-
__ADS_1
Mobil sedan bernuansa hitam mengkilap itu tiba-tiba mogok. Membuat sang empunya mau tidak mau harus keluar untuk memeriksa mesinnya. Padahal di luar dengan gerimis. Dan yang dia sesalkan, kenapa mobil itu harus mogok di tempat sepi dan gelap seperti ini?!
Lelaki itu sedikit panik saat melihat beberapa pemuda menghampirinya. Dan dari gelagatnya, mereka terlihat seperti bukan orang baik-baik. Andaikan saja dia memiliki kemampuan bela diri, pasti bukan masalah dihadang seperti ini juga.
Dan dia bisa bernapas lega saat terdengar suara sirine polisi patroli dari kejauhan. Ketiga orang itu pun perlahan menjauh.
Disaat bersamaan, sebuah mobil sport mewah tiba-tiba berhenti di depan mobilnya. Seorang gadis menghampirinya.
"Senior, apa yang terjadi pada mobilmu?" Tegur gadis itu yang pastinya adalah Nara.
"Tiba-tiba berhenti dan tidak mau jalan lagi,"
"Mungkin saja habis bensin?" Nara ingat pada pengalamannya sendiri.
Devan menggeleng. "Bensinnya baru aku isi siang tadi. Jadi tidak mungkin jika habis bensin." Jawabnya. "Dan sepertinya ada masalah dengan mesinnya." Jawab Devan.
Kemudian Zian menghampiri mereka berdua. Tanpa mengatakan apapun, dia memeriksa mesin mobil Devan, dan benar saja ada salah satu kabelnya yang lepas. Dan itu yang menyebabkan mobilnya tiba-tiba berhenti.
"Sekarang cobalah." Pinta Zian dingin.
Devan mengangguk. Kemudian dia masuk ke dalam mobilnya dan mencoba menghidupkan kembali mobilnya. Dan berhasil. "Zian terimakasih, kalau tidak ada kamu, mungkin aku pulang dengan berjalan kaki." Ucapnya tapi tak dihiraukan oleh Zian. Pemuda itu pergi begitu saja.
"Ayo, pulang,"
Nara menggeleng. "Kau duluan saja, aku akan pulang bersama senior saja. Dan ini jas-mu, senior ayo." Nara memeluk lengan Devan lalu menarik lelaki itu dari hadapan Zian. Devan pun merasa tidak enak, terlebih lagi saat melihat tatapan tajam Zian yang penuh ketidaksukaan.
"Zian, kami duluan."
-
-
Bersambung.
Zian & Devan...
__ADS_1