Pengantin Palsu Sang Mafia

Pengantin Palsu Sang Mafia
Bab 9: Hati Malaikat


__ADS_3

Sang penguasa malam berpendar lembut di ufuk langit, perlahan tapi pasti malu-malu menapaki orbitnya menuju tahtanya di puncak langit.


Bintang-bintang berpendar dalam konfigurasinya, laksana kerling manja sang gadis remaja. Angin mendesau lembut, menggoyangkan dedaunan, melantunkan irama temaram malam. Aroma bunga-bunga yang berguguran dari pohonnya karena sapuan angin merebak di angkasa.


Dibawa langit bertabur bintang dan sang penguasa malam yang berpendar di-singgasananya. Tampak sepasang muda-mudi berjalan menyusuri malam dalam keheningan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir mereka berdua, hanya suara sepatu yang beradu dengan aspal dan beberapa binatang malam yang memecah dalam keheningan.


Sesekali si gadis menoleh dan menatap sosok tampan yang berjalan disampingnya. Memperhatikan wajah tampannya lekat-lekat. Meskipun mereka berdua memiliki rupa bak pinang dibelah dua. Akan tetapi mereka memiliki kepribadian dan aura berbeda.


Dan jika diibaratkan sepasang kakak beradik itu seperti musim dingin dan musim panas, malam dan siang. Memiliki sifat yang bertentangan. Yang satu lembut dan penuh kasih sayang, yang satu dingin dan tak berhati.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah di wajahku?" Zian tiba-tiba berhenti dan membalas tatapan Nara, membuat gadis itu terkejut dan gelagapan.


Nara menggeleng. "Siapa juga yang sedang menatapmu, kau terlalu percaya diri, Tuan. Lagipula aku menatap pasangan tua itu, bukan menatapmu!!" Lalu Zian mengikuti arah tunjuk Nara. Tampak sepasang lansia sedang duduk di salah satu bangku taman.


Zian terus memperhatikan pasangan lansia itu. Ada rasa iba dihatinya melihat keadaan mereka berdua. Pakaian yang mereka pakai tampak lusuh, dan makanan yang mereka makan pun bukan sesuatu yang istimewa, hanya sepotong roti yang dibagi untuk dimakan berdua.


Tiba-tiba beberapa pemuda menghampiri mereka berdua dan mengusir pasangan tua itu untuk pergi. Mereka tak hanya mengusir, tetapi juga membentak dan memaki mereka berdua. Mengatakan jika keberadaan mereka di taman itu hanya merusak pemandangan.


Zian meninggalkan Nara begitu saja. Pemuda itu menghampiri beberapa pemuda yang bersikap sok berkuasa tersebut. Tanpa banyak basa-basi, Zian menendang salah satu dari mereka bertiga hingga tersungkur di tanah.


"Yakk!! Apa yang kau lakukan?! Kau sudah bosan hidup ya?!" Bentak orang itu marah. Lalu dia menatap kedua temannya. "Kenapa diam saja, cepat maju dan hajar dia!!"


Zian mundur beberapa langkah ke belakang. Mencari lokasi yang lebih luas agar dia lebih bebas ketika menghajar dan memberi pelajaran pada mereka berdua. Kedua orang itu melayangkan serangannya pada Zian berkali-kali, namun tak satu pun ada yang berhasil mengenainya.


Pemuda itu menghindari setiap serangan yang mengarah padanya dengan apik dan terarah. Mereka benar-benar sudah mencari masalah dengan orang yang salah. Karena Zian bukanlah pemuda kemarin sore yang hanya tau tawuran saja, akan tetapi dia adalah pemuda yang sudah mengikuti pelatihan selama bertahun-tahun.


"Aaaahhh..." Kedua pria itu berteriak histeris dan refleks mundur beberapa senti kebelakang saat sebuah belati yang Zian lemparkan nyaris saja memotong senjata tempur mereka. Kurang dua centi lagi, mereka kehilangan harta karunnya.


"Masih ingin main-main denganku?!" Zian menatap ketiganya dengan sinis.


Ketiganya menggeleng. "A..Ampun, Tuan. Kami tidak berani," mereka pun bergegas pergi sebelum menjadi perkedel ditangan Zian.

__ADS_1


Lalu Zian berbalik dan menghampiri pasangan tua itu. Sedangkan Nara masih terbengong-bengong melihat bagaimana Zian menghajar mereka bertiga. Zian menumbangkan mereka kurang dari 10 menit saja. Sungguh pencapaian yang luar biasa.


"Paman, Bibi. Apa yang kalian lakukan disini? Kenapa malam-malam begini tidak pulang dan beristirahat di rumah?" Zian mencoba berbicara pada pasangan tua itu. Usia mereka sudah diatas 70 tahun, dan itu yang membuat Zian merasa iba.


"Kami tidak memiliki rumah. Aku dan istriku tinggal dari satu toko ke toko yang lain. Karena dia lapar, kami mencari roti untuk mengganjal perut." Jelas di Kakek.


"Anak dan keluargamu?" Zian memastikan.


"Mereka tidak mau menerima kami dan malah mengusir kita berdua pergi. Mereka malu memiliki orang tua seperti kami," jawab si nenek dengan mata berkaca-kaca.


"Benar-benar gila!!" Dia mengumpat tajan.


Nara menghampiri mereka bertiga. "Lalu darimana kalian mendapatkan roti ini? Ini seperti sudah tidak layak makan, sudah lewat tanggal dan berjamur,"


"Kami mendapatkannya di tempat sampah, karena tidak ada makanan yang lain. Terpaksa kami memakannya." Jawab si nenek.


"Nenek, Kakek, begini saja. Aku hanya tinggal sendirian. Bagaimana kalau kalian tinggal bersamaku saja. Kalian tidak akan kelaparan dan kedinginan lagi, apalagi ini sudah mau memasuki musim dingin. Kakek, Nenek, kalian mau ya. Aku tidak akan meminta kalian membayarnya dengan apapun, kalian juga tidak perlu melakukan apa-apa di rumahku. Hanya cukup tinggal dan makan saja di-sana, selama ini aku kesepian karena jauh dari keluargaku,"


"Kalian bertiga tunggu disini, aku akan segera kembali." Zian meninggalkan Nara dan pasangan tua itu begitu saja. Nara tidak tau kemana pemuda itu akan pergi, dan dia tak mau peduli.


.


.


Lima belas menit kemudian, Zian kembali sambil menenteng sesuatu dikedua tangannya yang kemudian dia berikan pada pasangan tua itu. "Ini ada pakaian hangat dan makanan untuk kalian berdua." Ucap Zian sambil menyerahkan pakaian dan makanan yang baru saja dia beli pada pasangan tua itu.


Nara menatap Zian dan tersenyum. Ternyata pemuda itu pergi untuk membeli pakaian hangat dan makanan untuk mereka berdua. Dan melihat mereka makan begitu lahap membuat Nara maupun Zian merasa iba, pasti kakek dan nenek ini sangat kelaparan.


"Orangku akan segera tiba disini, mereka berdua biar ikut denganku saja. Mereka sudah tau dan perlu pengawasan. Di kediamanku lebih banyak orang yang bisa menjaga mereka." Ucap Zian pada keputusannya. Dan Nara menyetujuinya.


Dia berpikir lagi. Saat dirinya bekerja, lalu siapa yang akan menjaga pasangan tua ini. Bahkan untuk berjalan saja mereka masih membutuhkan satu sama lain untuk saling menguatkan. Dah mereka beruntung mereka berdua bertemu dengan orang-orang berhati malaikat seperti Zian dan Nara.

__ADS_1


"Sudah malam, sebaiknya aku antar kau pulang. Jimin sudah datang, mereka berdua akan pulang bersama dia."


"Lalu bagaimana dengan mobilku?"


"Sudah diantarkan pulang, ayo." Nara menatap Zian kemudian mengangguk.


"Baiklah,"


-


-


Seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada yang berbeda dengan aktifitas Nara, bangun lebih awal dari orang lain kemudian mandi, menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri yang tak lebih dari hanya dua lembar roti tawar dan segelas susu hangat. Setelah sarapan dia bersiap-siap untuk pergi bekerja. Dan selalu seperti itu, tidak pernah berubah.


Nara menyusuri lorong rumah sakit tempatnya bekerja yang masih tampak sepi dan legang, belum banyak dokter maupun perawat serta para staf lainnya yang datang. Hanya perawat dan dokter yang semalam lembur serta beberapa keluarga pasien.


Gadis itu memasuki sebuah ruangan lalu menghampiri seorang dokter muda yang pastinya adalah Devan. "Senior, kopi untukmu." Nara meletakkan satu kap kopi diatas meja kerja Devan.


"Tumben kau datang lebih awal? Biasanya kau selalu terlambat 5 menit," lelaki berkaca mata itu memicingkan matanya.


"Kualitas tidurku semalam sangat baik. Jadinya aku bisa bangun lebih awal. Senior, ada jadwal besar tidak hari ini? Kalau ada bisakah kau libatkan aku lagi?" Nara memohon.


"Masih belum tau, kalau bukan kau yang aku libatkan, lalu siapa. Aku adalah senior pembimbingmu, jadi aku ingin kau berhasil dan menjadi dokter yang hebat." Ucap Devan sambil menepuk kepala coklat Nara. "Ya sudah, aku periksa pasienku dulu."


Nara mengangguk seraya tersenyum. "Oke, senior."


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2