Pengantin Palsu Sang Mafia

Pengantin Palsu Sang Mafia
Bab 31: Tuan Lu Berulah


__ADS_3

"Zian,"


Langkah kaki Zian terhenti saat mendengar suara yang sangat familiar berkaur di telinganya. Ia berbalik dan mendapati kedatangan Tuan Lu. Pria setengah baya itu menghampiri Zian sambil menundukkan kepalanya.


"Mau apa Paman datang kemari?" Seru seseorang dari lantai dua mansion mewah itu.


Tuan Lu mengangkat wajahnya dan menatap tidak suka pada gadis yang baru saja berbicara dengannya tersebut. "Perluku dengan Zian, bukan denganmu!!"


"Aku tau!! Tapi tanpa ijin dariku, Paman tidak bisa menemuinya. Dia butuh banyak waktu untuk istirahat, jadi sebaiknya Paman pulang saja!!" Pinta Nara.


"Kau belum menjadi istrinya, tapi kenapa berani sekali mengatur ini dan itu. Dia adalah putraku, dan aku ayahnya, jadi di bandingkan dirimu, tentu aku yang lebih berhak!!" Kata tuan Lu menegaskan.


"Memangnya sejak kapan Anda mengakuinya sebagai putra?! Bukankah selama ini Anda hanya menganggapnya sebagai sampah yang tidak berguna, dan sekarang tiba-tiba Anda mengatakan jika dia adalah putramu. Jika Anda memang ayahnya, lalu kemana saja kau selama ini? Dan mana ada ayah yang ingin membunuh putranya sendiri?!"


"Kau!!!"


"Max, Felix, cepat usir pria ini keluar dari sini. Jangan biarkan dia masuk tanpa ijin dariku ataupun Zian!!" Seru Nara.


Nara tau jika dia sudah melewati batasannya, apalagi pernikahannya dan Zian belum resmi dilangsungkan. Tapi Nara tidak ingin jika kejadian yang sama sampai terulang kembali, apalagi dia tidak melihat ada penyesalan sama sekali dimata Tuan Lu atas apa yang pernah dia perbuat pada Zian dimasa lalu.


Tuan Lu tetap menunjukkan kearoganannya sebagai seorang ayah. Dan Nara tau betul, orang seperti dia tidak akan pernah bisa berubah.


"Yakk!! Kalian ini apa-apaan, jangan sembarangan menarikku. Aku ini adalah ayah dari bos kalian, seharusnya kalian bersikap lebih sopan padaku!!" Teriak Tuan Lu.


"Max, Felix, berhenti!!" Seru Zian tiba-tiba. Lalu dia berbalik dan menatap keduanya. "Cepat lepaskan dia."


Tuan Lu tersenyum dan menyeringai kearah Nara. "Aku bilang juga apa, aku ini ayahnya, sudah pasti dia lebih memilihku. Zian, mari kita buka lembaran baru dan lupakan masa lalu. Kita adalah keluarga, demi Papa tinggalkan perempuan tak punya sopan santun itu. Papa akan mencarikan yang lebih baik darinya." Ucap Tuan Lu. Dia merasa menang karena ternyata lebih memilihnya.


Zian menutup matanya dan menghela napas panjang. "Kau salah paham, aku cuma ingin memberitahumu satu hal. Segera angkat kakimu dari rumah itu. Karena Devan sudah membalik nama menjadi namaku. Semua harta milikmu termasuk rumah dan seluruh isinya sekarang milikku. Jadi segera pergi dari sana!!"

__ADS_1


"A..Apa kau bilang?" Tuan Lu menatap Zian dengan pandangan bertanya.


"Aku rasa tidak perlu menjelaskannya lagi. Intinya, semua harta milikmu sekarang adalah milikku. Kau tidak memiliki hak apapun lagi, anggap saja semua itu sebagai kompensasi karena kau sudah pernah menelantarkan ku dimasa lalu!!"


Tuan Lu menatap Zian dengan emosi. "Kau!! Benar-benar anak tak tau diri. Kenapa kau tidak mati saja hah!!!" Teriaknya emosi. Tuan Lu menyambar vas bunga yang ada disamping kanannya lalu menghantamkan pada kepala Zian, membuat vas itu hancur dan melukai wajahnya.


"Yakk!! Tua Bangka, apa yang kau lakukan hah?!" Bentak Nara melihat apa yang baru saja Tuan Lu lakukan pada Zian.


Nara menghampiri Zian dan memerintahkan Max serta Felix agar menyeret Lu tua itu keluar dari kediaman calon suaminya. Sedangkan Nara segera membawa Zian ke kamarnya untuk mengobati lukanya. Darah segar terus mengalir dari pelipisnya yang terluka.


Pelipis Zian sedikitnya mendapatkan enam jahitan, lukanya terbuka dan menganga lebar. Setelah dijahit, kemudian Nara menutupnya dengan perban dan merekatkannya dengan plester. Darah segar yang merembes keluar menandakan jika lukanya masih baru.


"Papamu benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa dia melakukan hal gila seperti itu pada putranya sendiri?! Kemarin-kemarin mengirim pembunuh bayaran, lalu satu Minggu yang lalu membuatmu masuk rumah sakit, dan sekarang membuatmu terluka. Lalu apa lagi selanjutnya?! Aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa ada ayah seperti itu?!" Ujar Nara panjang lebar.


"Jangan menggerutu lagi, buka mulutmu dan makan anggur ini." Pinta Zian.


"Ini bukan waktunya bercanda, Tuan Muda Lu!! Apa kau tidak tau jika aku sedang kesal setengah mati?! Ayahmu benar-benar membuatku ingin membakar Sungai Han!!"


Nara menghembuskan napas kasar."Sudahlah, aku sedang kesal sekarang. Sebaiknya aku pergi shopping saja. Mungkin itu membuatku lebih baik." Ucapnya.


"Pakai ini," Zian memberikan sebuah kartu hitam tanpa limit pada Nara. Gadis itu awalnya menolaknya, tapi Zian memaksa sehingga Nara tak memiliki pilihan selain menerimanya.


"Kalau begitu aku pergi dulu,"


"Hati-hati, jangan pulang sampai larut malam. Maaf tidak bisa menemanimu, kepalaku agak sedikit pusing." Ucap Zian penuh sesal.


Nara menggeleng. "Tidak apa-apa, aku bisa mengerti, kau istirahat saja di rumah. Ya sudah, aku pergi dulu." Ucapnya. Zian mengangguk. "Oya, kau ingin aku belikan apa?" Tanya Nara.


"Tidak perlu beli apa-apa. Cukup untukmu saja, beli apapun yang kau butuhkan."

__ADS_1


Nara mengangguk, lalu mencium tepat dipelipis Zian yang tertutup perban sebelum melenggang pergi dari ruangan itu. Zian mendengus, menggelengkan kepala melihat tingkah calon pengantinnya.


-


-


Tuan Lu telah kehilangan segala-galanya. Bukan hanya seluruh hartanya, akan tetapi juga putra tercinta yang selama ini menjadi kebanggaannya, Devan. Devan yang dulu sangat menyayangi dan peduli padanya kini justru sangat membencinya.


Devan tak mau bertemu dengan Tuan Lu meskipun dia tau jika ayahnya datang untuk bertemu dengannya.


Devan terlalu kecewa pada ayahnya. Jika saja Tuan Lu mau benar-benar menyesali perbuatannya, mungkin Devan bisa mempertimbangkan untuk memaafkannya.


"Dokter, Ayah Anda menunggu di luar dan tidak mau pergi. Katanya dia akan menunggu sampai Anda mau menemuinya." Ucap seorang perawat.


"Biarkan saja, nanti juga pergi sendiri." Jawab Devan dingin dan acuh tak acuh.


Dari pada menemui ayahnya. Lebih baik Devan memeriksa para pasiennya. Mereka lebih membutuhkan dirinya dibandingkan sang ayah.


"Devan, tunggu!!" Seru Tuan Lu melihat putranya itu keluar dari ruangannya. "Kita perlu bicara." Ucap Tuan Lu menahan pergelangan tangan Devan.


"Maaf, Pa. Aku sibuk, sebaiknya kau pulang saja. Para pasienku sudah menunggu," ucapnya dan melenggang pergi.


"Apa mereka lebih penting dari pada ayahmu sendiri?!" Seru Tuan Lu.


Langkah Devan terhenti. Kemudian dia berbalik dan menatap datar Tuan Lu. "Ya, mereka memang lebih penting darimu. Jadi mulai hari ini berhenti mengganggu disaat aku sedang bekerja!!" Ucapnya dan pergi begitu saja.


Devan tak ingin terlalu terikat lagi dengan ayahnya. Sebelum dia berubah dan menyadari semua kesalahannya pada Zian, Devan tidak akan memaafkannya.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2