
Sepasang mata dingin nan tajam itu hanya menatap datar pada beberapa orang yang terkapar di aspal dalam keadaan bersimbah darah. Darah segar masih mengalir dari tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Tak hanya luka tembak yang menghiasi tubuh mereka, tetapi luka bekas sayatan benda tajam juga.
Pemuda itu menoleh kebelakang saat mendengar deru suara mobil yang berjalan menghampirinya. Beberapa pria berpakaian formal buru-buru menghampirinya.
"Kalian terlambat!!" Ucap pemuda itu sembari menatap mereka dengan tajam.
"Maaf, Bos. Jalanan sedikit padat karena ada arak-arakan penyambutan gubernur baru," ucap salah seorang dari mereka penuh sesal.
"Bereskan mayat-mayat itu dan buang jasad mereka ke dasar jurang," perintah pemuda itu dan pergi begitu saja. Dia berjalan kearah mobilnya yang terparkir di jarak lima meter dari lokasi perkelahian tadi.
Baru saja dia hendak masuk ke dalam mobilnya. Mobil lain berhenti disampingnya, dua lelaki turun dari mobil tersebut dan menghampiri si pemuda. "Zian, dimana bajingan-bajingan itu? Biar aku beri mereka pelajaran," ucap pria itu yang pastinya adalah Alex.
Zian menatap Alex dan Jimin dengan sinis."Kalian datang terlambat, mereka semua sudah jadi bangkai!!" Jawab Zian kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Jari-jarinya mengambil beberapa lembar tisu yang kemudian dia pakai untuk menyeka darah segar yang keluar dari luka sayat dibawah mata kirinya. Setelah memastikan darahnya bersih kemudian Zian menutup luka itu dengan perban dan plester.
Beberapa menit kemudian, mobil itu pun melaju pergi menuju jalanan kota yang ramai dan padat kendaraan. Tak ada yang melihat kejadian berdarah itu karena lokasinya jauh dari keramaian kota. Dan harga mahal yang harus mereka bayar karena berani mencari masalah dengannya adalah kematian.
-
-
"Apa, jadi mama sudah ada di Seoul? Baik, Ma. Malam ini aku akan pulang,"
Nara memutuskan sambungan telfonnya setelah dia menyetujui permintaan sang ibu untuk pulang malam ini.
Ibu dan kakaknya baru tiba dari luar negeri siang tadi dan Nara sudah tidak sabar untuk bertemu mereka. Terutama sang ibu. Untungnya Devan memberikan ijin pada Nara untuk libur sampai besok.
__ADS_1
"Nara, ada keadaan darurat. Terjadi kecelakaan beruntun dan kepala rumah sakit meminta semua dokter dan perawat bersiap-siap untuk menyambut para korban. Diperkirakan jumlahnya lebih dari 50 orang."
"Apa?!" Nara memekik kencang setelah mendengar apa yang disampaikan oleh teman kerjanya itu. Terjadi kecelakaan beruntun dan jumlah korbannya tidak main-main, 50 orang.
Nara dan perawat itu bergegas menuju lobi utama rumah sakit, bergabung dengan para dokter dan perawat yang sudah berkumpul di sana. Dan tak berselang lama terdengar suara sirine ambulan yang jumlahnya puluhan.
Dan kebanyakan adalah para pelajar sekolah menengah akhir, karena bus sekolah yang mereka tumpangi juga menjadi salah satu dari puluhan kendaraan di dalam kecelakaan beruntun tersebut.
Para perawat mulai berhamburan untuk menyambut para pasien dan membawa mereka ke ruang inap. Jumlah mereka yang banyak membuat para perawat maupun dokter menjadi sedikit kewalahan. Beruntung jumlah kamar kosong yang tersisa masih cukup untuk menampung mereka semua.
Nara menatap para korban dengan pandangan nanar. Sungguh peristiwa yang menyayat hati. Dan sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang baginya dan semua orang yang bekerja di rumah sakit ini. Harus mengecewakan ibunya, jika malam ini dia tidak bisa pulang lagi.
Tak ingin membuat ibunya menunggu dan kecewa, akhirnya Nara mengirimkan sebuah pesan singkat dan beberapa foto keadaan di rumah sakit saat ini. Keadaannya sangat darurat dan membuat Nara tidak bisa kemanapun.
-
-
Seorang laki-laki berusia kisaran diatas dua puluh lima dibawah tiga puluh tahunan menghampiri sang ibu yang sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur rumahnya.
"Malam ini Nara mau pulang, jadi Mama berencana memasakkan makanan kesukaannya," jawab wanita itu yang pastinya adalah Nyonya William.
"Sepertinya itu tidak mungkin, Ma. Baru saja aku melihat berita, ada kecelakaan beruntun dan semua pasiennya di larikan ke rumah sakit tempat Nara bekerja."
Mata Nyonya William membulat sempurna. "Apa?" Ia pun langsung mengecek ponselnya. Ada 10 panggilan tak terjawab dan sedikitnya 7 pesan singkat dari Nara. "Kalau begitu kita akan mengantarkan makanan-makanan ini ke sana. Kau juga seorang dokter, dan sudah mengantongi sertifikat resmi. Mungkin tenagamu juga diperlukan di-sana." Ujar Nyonya William.
Lelaki itu mengangguk. "Baiklah, Ma. Kalau begitu aku akan segera siap-siap dulu."
__ADS_1
Sebenarnya rumah sakit tempat Nara bekerja saat ini adalah milik keluarga William. Hanya saja mereka tidak mau memberitahu Nara. Dan Tuan William membeli rumah sakit tersebut untuk Nara dan kakaknya, dan kepulangan Nicholas ke Seoul saat ini adalah untuk bekerja di rumah sakit tempat adiknya bekerja.
-
-
Mansion Zian kedatangan tamu, dan tentu saja kedatangan orang itu tentu karena ada sebuah maksud. Akan tetapi bukan Zian yang mereka temui, melainkan Alex sebagai perwakilannya.
Berkali-kali pria itu menyeka keringat dingin yang mengalir di keningnya. Berhadapan langsung dengan para anggota mafia kelas kakap ternyata auranya sangat berbeda. Ini baru anak buahnya, lalu bagaimana jika yang dia temui adalah bos-nya yang terkenal dingin dan kejam. Mungkin dia bisa mati berdiri.
"Katakan apa perlu Anda, Tuan?" Tanya Alex tanpa banyak basa-basi.
Pria itu lalu memberi kode pada anak buahnya. Lelaki yang berdiri dibelakangnya mengangguk. Dia meletakkan sebuah koper yang penuh dengan uang diatas meja dan menunjukkannya pada Alex.
"Uang ini berjumlah 500 juta won. Aku ingin supaya kalian membantuku menghabisi seseorang. Dia adalah simpanan ku, aku ingin wanita itu mati supaya tidak bisa mengganggu hidupku lagi."
"Masalah yang gampang. Kalau begitu tunjukkan fotonya dan malam ini juga Anda akan menerima kabar baiknya!!" Ucap Jimin sambil mengamankan uang-uang tersebut.
"Namanya Dami, aku akan menunggu kabar baik dari kalian. Kalau begitu kami permisi dulu." Ucapnya dan berlalu.
Setelah pria itu pergi. Alex dan Jimin mengantar uang itu pada Zian. Mereka berdua memberitahu Zian tentang kedatangan pria tersebut.
"Ada pekerjaan. Seseorang membayar harga tinggi dan meminta kita mengeksekusi seorang wanita bernama Dami. Dan aku menjanjikan malam ini dia akan mendapatkan kabar baik dari kita."
"Hanya pekerjaan ringan. Aku rasa tidak perlu turun tangan, kalian berdua saja cukup." Zian mengambil beberapa gepok uang di dalam koper itu lalu memberikannya pada Jimin dan Alex. "Kalian keluarlah," pinta Zian pada mereka berdua. Saat ini Zian ingin sendiri dan tidak ingin di ganggu.
-
__ADS_1
-
Bersambung.