Pengantin Palsu Sang Mafia

Pengantin Palsu Sang Mafia
Bab 26: Pengakuan Zian!!


__ADS_3

Hampir seharian Nara mengurung diri di dalam kamarnya. Sejak obrolannya dengan Zian pagi tadi, Nara belum keluar sampai sekarang, bahkan dia melewatkan makan malamnya.


Dan ketika nyonya William menghampirinya dan bertanya kenapa dia tidak mau keluar, Nara hanya mengatakan jika dia malas. Nyonya William juga bertanya apakah Nara bertengkar dengan Zian, tapi Nara mengatakan tidak.


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Nara. Terlihat sosok Zian yang memakai celana jeans panjang dan singlet hitam memasuki kamarnya.


Zian menutup pintu kamar Nara dan menguncinya dari dalam supaya tidak ada yang masuk tiba-tiba, karena yang hendak ia bicarakan dengan Nara adalah hal yang pribadi.


"Kenapa tidak keluar sama sekali, bahkan kau melewatkan makan malam-mu. Apa ini ada hubungannya dengan identitasku yang aku ungkapkan padamu tadi? Kau terkejut?" Tanya Zian tepat sasaran.


Karena memang itu alasan Nara tidak mau keluar kamar, dia memang sangat syok setelah mengetahui identitas Zian yang sebenarnya. Nara sungguh tidak pernah terpikirkan jika Zian adalah seorang Mafia, bukan... Melainkan bos besar dari organisasi hitam tersebut.


Nara tak memberikan jawaban apa-apa. Karena Zian sudah mengetahui alasan kenapa dia mengurung diri seharian.


Zian lantas berjalan menuju jendela kamar Nara lalu membukanya lebar-lebar. Udara malam yang dingin seketika menyapanya dengan lembut. Lalu pemuda itu berbalik dan menatap Nara yang juga menatap padanya.


"Aku memang bukan pria baik-baik, Nara. Kau ingat saat pertama kali menemukanku hampir mati di depan pagar rumahmu?! Itu adalah perbuatan orang-orang yang selama ini bermusuhan denganku. Beruntung hari itu aku masih diberi hidup oleh Tuhan melalui dirimu. Hidupku penuh dengan bahaya, dan kedua tanganku ini selalu berlumuran darah orang-orang yang suka mencari masalah dan gara-gara denganku."


"Aku tidak menampik jika aku memang seorang bajingan!! Aku sering tidur dengan banyak wanita lalu membunuh mereka saat aku merasa bosan dan muak. Tentu saja mereka bukan wanita baik-baik sepertimu. Mereka adalah para ****** rendahan yang suka menjajakan diri di club' malam.D


"Dan aku menyewa mereka dengan harga tinggi. Kenapa aku selalu memilih wanita malam, karena aku tidak ingin menghancurkan masa depan gadis baik-baik demi kepentingan pribadiku. Kau boleh menilaiku dengan sesuka hatimu, kau boleh menganggapku sebagai iblis tak berhati. Karena itu memang kenyataan, tapi satu hal yang perlu kau tau. Jika sikapku padamu selama ini tulus tanpa ada maksud tertentu." Tutur Zian panjang lebar.


Nara diam dan terbungkam mendengar semua yang Zian katakan. Dimatanya tak ada dusta sama sekali. Apalagi ketika Zian mengatakan jika sikapnya pada dirinya itu tulus tanpa ada maksud tertentu. Zian menatapnya begitu dalam dan penuh ketulusan.


"Zian, sebenarnya aku~"

__ADS_1


"Kau belum makan apapun. Sebaiknya keluarlah untuk makan malam, jangan sampai penyakit lambung mu kambuh. Kau adalah seorang dokter, tentu saja kau lebih memahami dirimu sendiri dari pada orang lain. Aku keluar dulu," Zian menutup kembali jendela kamar Nara dan pergi begitu saja.


Zian meninggalkan Nara dalam kebisuan. Suasana seketika menjadi hening setelah Zian meninggalkan kamar itu. Terasa kosong dan dingin. Kemudian Nara beranjak dari duduknya dan melenggang keluar meninggalkan kamarnya.


Gadis itu menuruni tangga menuju lantai dasar. Nara pergi ke dapur dan meminta pelayan menyiapkan makan malam untuknya. Sebenarnya Nara juga sudah sangat kelaparan sejak tadi, tapi dia berusaha untuk menahannya. Entah memang karena dia itu bodoh atau keras kepala.


"Kenapa keluar kamar? Apa kau kelaparan?" Tegur Nyonya William saat melihat keberadaan putrinya dimeja makan.


"Jangan mulai deh, Ma. Saat ini aku sedang tidak ingin berdebat sama sekali. Aku lapar, dan biarkan aku menikmati makan malam ku dengan tenang." Jawab Nara menimpali.


"Kau pikir cuma kau saja yang belum makan malam. Zian juga rela melewatkan makan malamnya karena ingin menunggumu, dan sekarang kau malah duduk sendirian disini tanpa mengajaknya makan malam bersama!!" Omel Nyonya William.


Nara mengangkat wajahnya dan menatap sang ibu dengan terkejut. "Apa, jadi Zian juga belum makan malam?!" Nara menatap ibunya tak percaya.


"Iya-iya. Aku akan segera memanggilnya." Jawab Nara menimpali.


Nara sendiri tidak tau kalau Zian belum makan malam. Dia rela melewatkan malamnya hanya untuk menunggunya. Rasa bersalah menggerogoti perasaan Nara, jika tau begini dia tidak akan melewatkan makan malamnya.


Gadis itu pun bergegas pergi ke kamar Zian untuk mengajaknya makan malam. Jangan sampai saat pulang nanti dia jadi kurus kering.


.


.


Zian sedang berbaring saat Nara masuk ke kamarnya tamu yang sejak dua hari lalu dia tempati. Pemuda itu lantas bangkit dari berbaringnya dan merubah posisinya menjadi duduk.

__ADS_1


"Ada apa, Nara?"


"Kau belum makan malam?" Zian menggeleng.


Nara mendengus berat. "Dasar bodoh!! Kenapa harus menungguku segala, bagaimana saat pulang nanti tubuhmu malah kurus kering karena kurang makan. Ayo, makan malam sama-sama. Kebetulan aku sangat lapar." Ucap Nara sambil mengusap perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan.


"Tunggu sebentar." Zian menyambar kemeja berlengannya yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya. Dia merasa tidak enak pada kedua orang tua Nara jika harus seliweran hanya dengan memakai singlet saja. "Ayo,"


Nara lalu mengekor dibelakang Zian. Keduanya menuruni tangga menuju lantai satu untuk makan malam. Dan Setibanya di sana sudah ada 4 menu berbeda yang tersusun rapi diatas meja. Ada juga potongan buah segar dan dua gelas jus segar sesuai dengan kesukaan masing-masing.


Tanpa menghiraukan Zian. Nara segera menyantap makan malamnya, dia benar-benar sudah sangat kelaparan dan perutnya tidak bisa lagi diajak kompromi. Zian hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat cara makan Nara yang agak bar-bar tersebut.


"Pelan-pelan saja, tidak ada yang meminta makananmu." Ucap Zian sambil menghapus saus disudut bibir Nara. Membuat Nara terkejut


"Uhukk... Uhukk..." Dan apa yang Zian lakukan malah membuat Nara tersedak makanan di mulutnya. Buru-buru dia mengambil segelas air putih lalu meneguknya hingga tak tersisa.


Zian pun menjadi panik. Dia bangkit dari kursinya lalu menepuk-nepuk pelan punggung Nara. "Sudah aku bilang tidak perlu terburu-buru, minum lagi." Zian memberikan segelas air putih pada Nara. Yang kemudian dia teguk sampai habis.


"Lain kali jangan melakukan sesuatu yang membuatku terkejut." Gerutu Nara dan kembali menyantap makan malamnya.


Dan apakah Zian tidak tau jika yang dia lakukan itu bisa memberikan pengaruh besar pada Nara?!


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2