
Wanita itu keluar dari sebuah sedan hitam yang menjemputnya di bandara di depan sebuah Mansion mewah. Dengan tenang ia memasuki Mansion mewah tersebut. Dan kedatangannya disambut oleh dua pemuda yang pastinya adalah Felix dan Max.
Keduanya saling bertukar pandang. Baik Felix maupun Max sama-sama tidak mengenal siapa perempuan ini, wajahnya asing dan tampak angkuh. Mungkinkah dia adalah tamu dari tuannya.
"Nona, Anda mencari siapa?" Tanya Max pada perempuan itu.
"Aku ingin bertemu dengan Zian Lu, panggilkan dia dan katakan jika Tiffany Wong datang." Ucapnya dengan angkuh.
"Maaf, Nona Tiffany. Tapi Bos tidak ada di rumah, dia sedang pergi keluar dan belum kembali sampai sekarang. Apa sebaiknya tidak Anda hubungi saja," ucapnya.
Wanita itu melepas kaca matanya dan menatap kedua pemuda di depannya itu dengan tajam. "Siapa kau berani memerintahku?! Jika bisa, sudah ku hubungi dari tadi. Sebaiknya siapkan minum untukku, aku haus!!"
Melihat sikap angkat wanita ini membuat mereka tidak merasa segan lagi. "Ogah, memangnya kau siapa berani memerintah kami. Kami hanya patuh pada Bos saja." Balas Max menimpali. "Lix, ayo pergi. Lebih baik lanjutkan yang tadi." Felix mengangguk. Kemudian meninggalkan Tiffany begitu saja.
"Yakk!! Kalian mau kemana?! Berani sekali kalian mengabaikanku!!" Teriak Tiffany emosi.
Dia tidak terima diabaikan seperti ini. Tiffany adalah calon nyonya di mansion mewah ini. Dan sebagai calon nyonya besar, Tiffany ingin dihormati.
-
-
Ponsel dalam saku celana Zian berdering menandakan ada panggilan masuk. Nama Felix menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan menerima panggilan tersebut.
"Ada apa kau menghubungiku?" Tanya Zian tanpa basa basi.
"Bos, ada wanita g!la yang datang ke rumah dan mengaku-ngaku sebagai tunanganmu. Namanya kalau tidak salah adalah Tiffany,"
Mata Zian memicing. "Tiffany?! Hn, aku mengenalnya. Katakan padanya jika aku pulang sebentar lagi. Tapi jangan biarkan dia masuk ke area pribadiku, aku tidak suka jika ada orang lain sampai melewati batasannya!!"
"Baik, Bos."
Zian menghampiri Nara lalu mengulurkan tangan padanya. "Sudah malam, ayo pulang." Nara mengangguk seraya menerima uluran tangan Zian. Keduanya kemudian meninggalkan pantai Gwanggalli.
Pemuda itu mengendarai mobilnya dengan tenang. Mobil mewah keluaran terbaru itu melaju di jalanan beraspal dengan kecepatan sedang. Zian ingin menikmati perjalanannya bersama Nara.
"Kau mau langsung pulang atau makan malam dulu?" Zian menoleh dan menatap Nara yang juga menatap padanya.
__ADS_1
Nara mengangkat bahunya. "Aku sih terserah. Kalau mau berhenti untuk makan malam dulu juga tidak masalah, kebetulan juga aku sedang lapar." Ucapnya menimpali.
"Lalu kau ingin makan malam dimana?"
"Dimana saja yang penting kenyang. Kedai pinggir jalan pun tidak masalah, toh rasanya juga tidak kalah dari restoran mewah dan hotel bintang lima." Ujar Nara.
Zian mengangguk paham. Kemudian dia menghentikan mobilnya di sebuah cafe sederhana yang pernah dia datangi bersama Nara sebelumnya.
Keduanya kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe tersebut.
Zian dan Nara memilih meja dekat jendela, supaya lebih bisa menikmati pemandangan di luar cafe.
Tak ada yang menarik, hanya puluhan mobil yang sedang hilir mudik. Tak hanya mobil pribadi saja, tetapi kendaraan umum juga seperti taksi dan bus.
Sambil menunggu pesanannya datang. Nara dan Zian menyibukkan dirinya dengan kesibukan masing-masing. Nara sibuk dengan ponselnya, sementara Zian hanya terus menatap ke luar cafe. Tak ada yang menarik sama sekali, hanya hilir mudik kendaraan.
Tak lama berselang. Pesanan mereka datang. Tatapan sang pelayan tak sedikit pun lepas dari Zian. Dia merasa seperti mengenali pemuda itu, wajahnya terlihat tidak asing, dan wajah Zian mengingatkannya pada orang yang telah m*mbunuh kakaknya.
Zian mengangkat wajahnya saat merasa sedang diperhatikan. "Kenapa kau menatapku terus, apa kau memiliki masalah denganku?!" Zian bertanya tanpa basa-basi.
Mata Zian memicing. "Kau mengenalku?" tanya Zian.
"Bajingan, akhirnya aku menemukanmu juga. Hari ini aku pasti akan membalaskan dendam saudaraku yang mat! di tanganmu!!" Pelayan itu menyambar pis*u pemotong steak yang ada di atas meja lalu mengangkatnya tinggi-tinggi dan mengarahkan pada Zian.
Traangg...
Pis*u itu terhempas dari genggaman pelayan cafe tersebut setelah pergelangan tangannya ditendang oleh Nara. Nara juga menahan dan mengunci pergerakan pelayan tersebut dengan menempatkan tangannya di belakang punggung.
"Yakk!! Wanita si*lan, apa yang kau lakukan?!" Bentak pelayan itu emosi.
"Tindakanmu sudah membahayakan pengunjung, dan yang kau lakukan itu merupakan sebuah tidak krim*nal dan harus ditindak dengan tegas." Jelas Nara.
Mereka menjadi pusat perhatian pengunjung lain. Tapi Nara tak perduli. Lalu gadis itu berteriak memanggil manager cafe supaya menindak pelayannya dengan tegas. Sang manager datang dan menghampiri mereka bertiga.
"Kau managernya?" Nara menatap pria berjas yang saat ini sedang membungkuk meminta maaf padanya dan Zian.
"Benar, Nona. Saya ingin meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh karyawan kami. Dia biar kami yang mengurusnya, dan sebagai kompensasi, semua makanan yang kalian pesan malam ini kami gratiskan."
__ADS_1
"Tidak perlu!! Kami sudah tidak lapar lagi!! Zian, ayo pergi." Nara menarik Zian meninggalkan cafe. Insiden yang terjadi membuat Nara dan Zian kehilangan nafsu makannya.
Mereka masuk ke pusat perbelanjaan dan membeli beberapa potong cake, minuman dingin dan juga makanan siap saji di-sana. Yang nantinya hendak mereka makan di dalam mobil. Nara membeli beberapa potong sandwich rasa tuna kesukaannya.
"Bukankah di rumahmu ada tamu. Apa tidak apa-apa membiarkannya menunggu?" Nara menatap Zian yang berjalan disampingnya.
"Bukan tamu yang penting, kau mau beli apa lagi?"
Nara menggeleng. "Ini saja sudah cukup." Jawabnya.
"Aku butuh bantuanmu, ikutlah pulang ke rumahku."
Nara memicingkan matanya. "Untuk apa?"
"Nanti kau juga akan tau." Keduanya lalu berjalan beriringan menuju parkiran.
Setelah menghabiskan rotinya. Zian menghidupkan mesin mobilnya, dan mobil itu melaju kencang meninggalkan pusat perbelanjaan. Nara tidak tau bantuan seperti apa yang Zian butuhkan darinya, mungkinkah ini ada hubungannya dengan orang yang bertamu di rumahnya?! Entahlah, Nara tidak tau.
.
.
Mobil Zian memasuki halaman luas mansion mewahnya. Zian dan Nara keluar dari mobil mewah itu bersamaan lalu melenggang masuk ke dalam.
Melihat kedatangan Zian membuat Tiffany tersenyum lebar. Namun senyum itu seketika pudar saat melihat seorang perempuan cantik datang bersamanya. Tiffany menghampiri Zian dan bertanya padanya.
"Zian, siapa wanita itu? Kenapa dia datang bersamamu?" Tiffany menunjuk sosok gadis yang ada disamping Zian.
Zian menatap Nara yang juga menatap padanya. Seolah-olah memberi kode supaya dia mau bekerjasama. Kemudian Zian merangkul bahu gadis itu dengan sangat mesra. Dan Nara mengikuti permainan Zian.
"Dia adalah, Nara. Istriku!!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1