Pengantin Palsu Sang Mafia

Pengantin Palsu Sang Mafia
Bab 14: Dia Suamiku.


__ADS_3

Semua yang berani mencari masalah dengannya pasti akan mendapatkan hukuman tanpa terkecuali. Baik itu musuh maupun orang dalam. Dan nasib sial itu menimpa Alex, bukannya sebuah penghargaan yang dia terima dari Zian karena sudah menyiapkan wanita cantik untuknya, Alex malah mendapatkan hukuman.


Mahluk dua alam, adalah yang paling Alex takuti. Alex bisa lari terbirit-birit setiap kali bertemu dengan mereka. Dan parahnya, Zian malah mendatangkan mereka untuk Alex. Tidak hanya satu, tetapi tiga.


Dan saat ini Alex sedang menangis histeris dan memohon supaya dia dibebaskan dari mereka bertiga.


"Yakk!! Jangan pegang-pegang burungku!!" Teriak Alex pada salah satu dari ketiga perempuan jadi-jadian itu.


Alex tak bisa berbuat apa-apa. Tangan dan kakinya terikat kuat, mereka menahan Alex diatas ranjang dalam keadaan bulat. "Zian, kau memang Iblis!! Huaaa... Siapa pun, bebaskan aku dari mereka!!" Teriak Alex histeris.


Sekujur tubuhnya penuh tanda merah bekas bibir ketiga mahluk dua alam tersebut. Rasanya Alex ingin sekali mengutuk Zian, dan jika bukan karena dia, pasti Alex tidak akan tersiksa seperti ini. Dan apa yang Alex alami saat ini adalah hukuman atas apa yang dia perbuat semalam pada Zian.


"Tampan, jangan berteriak terus. Bagaimana kalau kita bertiga lebih memanjakanmu?!"


Alex menggeleng. "Tidak, tidak, tidak...!! Jangan lakukan itu lagi, Aaarrrrkkkhhh!!"


-


-


"Tidak, tidak, tidak...!! Jangan lakukan itu lagi, Aaarrrrkkkhhh!!"


Zian menikmati wine-nya dengan tenang. Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk seringai tipis dibibir Kiss able-nya. Bukannya merasa iba, Zian malah menikmati teriakan frustasi Alex. Ini masih pukul 07.00 pagi, dan Zian sudah mendapatkan hiburan yang sangat menyenangkan.


Lagipula bukan salah Zian juga, Alex sendiri yang berani macam-macam dan telah menggali kuburnya sendiri, padahal dia sudah mengenal pemuda itu dengan baik. Tapi dia tetap melakukan kebodohan yang membuat dirinya berada dalam masalah besar.


"Jimin, suruh mereka bertiga pergi meninggalkan Alex Ge. Berikan bayaran mereka dan pastikan tidak muncul lagi disini!!"


"Baik, Bos,"


Zian bangkit dari kursinya sambil meletakkan gelas bekas wine-nya diatas meja dan melenggang pergi. Dia ada janji untuk bertemu seseorang hari ini, ada transaksi besar. Kali ini Zian pergi tanpa Alex dan Jimin melainkan dengan Felix dan Max.


Black Devin. Adalah organisasi kriminal tingkat S karena mereka tidak hanya menjual morf!n dan obat-obatan terlarang tapi juga senjata api illegal dan berbagai bentuk transaksi berbahaya. Tak jarang mereka juga menerima pekerjaan sebagai pembunuh bayaran. Dan menggunakan jasa mereka tentu saja tarifnya tidak murah.


Zian tidak pernah ikut terjun langsung dalam mengeksekusi targetnya. Karena orang yang menjadi target mereka bukanlah orang-orang berbahaya.


-


-


Nara mengerjapkan matanya kala sinar matahari menembus melalui jendela kamar yang tidak tertutup gorden itu. Beberapa kali ia mengedipkan matanya sambil mengumpulkan kesadarannya. Sekujur tubuhnya rasanya sakit semua.

__ADS_1


Gadis itu terdiam sejenak mencoba mengingat sesuatu. Bukankah ini kamarnya, lalu bagaimana ia bisa berada di kamar ini.


Nara tidak ingat jika dia telah berjalan ke kamarnya sendiri, seingatnya dia tertidur di mobil Zian. Lalu apakah pemuda kutub itu yang membawanya ke kamar ini? Dia sendiri tidak tau dan Nara terus bertanya-tanya.


Setelah mencuci muka dan menggosok giginya. Nara meninggalkan kamarnya untuk sarapan. Perutnya sudah keroncongan minta segera disini. Baru juga menginjakkan kakinya di tangga, namun aroma lezat makanan langsung tercium dan berkaur di dalam hidungnya.


Nara buru-buru turun dan mendapati sang ibu yang sedang sibuk memasak di dapur. Ini bukan pagi lagi, karena matahari sudah tinggi di langit. Nara terlalu lelah karena pulang dari rumah sakit sudah menjelang pagi, jadi dia sengaja bangun lebih terlambat dari biasanya.


"Ma, kapan kau datang?" Tegur Nara sambil menghampiri sang ibu.


"Satu jam yang lalu, karena Mama lihat kau masih tertidur pulas. Jadi Mama tidak tega untuk membangunkanmu, makanan hampir siap. Setelah ini cepat makan,"


"Mama sendirian? Dimana Nic?"


"Kakakmu mulai bekerja hari ini. Dan bisakah kau berhenti memanggilnya Nic? Bagaimana pun juga Nicholas lebih tua darimu. Ini Korea, bukan barat!!"


Nara menghela napas. Ibunya mengomelinya habis-habisan. "Huft, baiklah. Nanti kalau ketemu dia aku akan memanggilnya kakak, itupun kalau ingat!!"


"Nara~!!!"


"Iya, iya, Ma. Aku hanya bercanda."


Nyonya William mendengus berat. Berbicara dengan putri bungsunya terkadang memang membutuhkan sebuah kesabaran ekstra. Tak jarang Nara membuatnya naik darah karena ucapannya yang terkadang sangat-sangat menyebalkan.


.


.


Usai makan, Nara memutuskan untuk keluar. Hari ini dia libur kerja jadi lebih banyak memiliki waktu untuk bersantai. Nara pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, stok buah dan makanan di rumahnya sudah mulai menipis dan dia berencana untuk mengisinya lagi.


Nara menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja berpapasan dengan seseorang yang berasal dari masa lalunya. Mereka saling memandang selama beberapa detik, sebelum akhirnya Nara sendiri yang mengakhiri kontak mata diantara mereka.


"Nara," langkah Nara terhenti saat sebuah tangan menggenggamnya dengan erat. Gadis itu menoleh dan hanya menatap datar orang yang menggenggam tangannya. "Lama tidak bertemu, bagaimana jika jika cari tempat untuk mengobrol?"


Nara menyentak tangan lelaki itu. "Maaf, tapi aku sibuk!!" Ucapnya dan pergi begitu saja.


"Nara, tunggu!!" Dia kembali menahan pergelangan tangan Nara. Membuat gadis itu mau tidak mau berhenti lagi. "Banyak sekali hal yang ingin aku katakan padamu. Dan aku juga ingin meminta maaf karena dulu pernah meninggalkanmu."


"Sudah terlambat, karena pintu maafku sudah tertutup untukmu!!" Nara melewati lelaki itu begitu saja.


Dia adalah mantan kekasih Nara. Mereka berpacaran saat masih sama-sama duduk dibangku kuliah. Akan tetapi mereka berdua berpisah satu tahun lalu karena pemuda itu meninggalkannya dan berselingkuh dengan temannya sendiri.

__ADS_1


-


-


"Kau memang bedebah, Zian Lu!" Teriak seorang paruh baya sambil mencengkram kerah baju Zian erat, dengan amarah yang sedang meletup-letup saat ini.


"Kau tau sedang berhadapan dengan siapa?" Zian menyeringai sinis, menatap pria di depannya itu dengan sinis.


"Persetan dengan siapa dirimu! Aku tidak peduli! Aku akan membunuhmu, sebagai balasan atas kematian putraku!" Ancam pria itu dengan cengkraman yang semakin keras di kerah Zian.


Zian memutar jengah matanya dan mendesah malas. "Max, urusi serangga ini" Gumamnya pelan pada pria yang ada di belakangnya. Max mengangguk


Dor!


Tembakan keras segera menggema di seluruh loby, bahkan sampai lantai bawah. Pistol dengan akurasi tinggilah yang hanya bisa menyebabkan itu. Dan kenapa tembakan itu bisa terdengar? Kalian sudah pasti tau, kalau seseorang baru saja terbunuh.


"Inilah akibatnya jika berani mencari masalah denganku!!" Ucap Zian lalu melemparkan sebuah cek keatas tubuh pria itu. Anggap saja itu uang untuk pemakaman. Zian melenggang pergi meninggalkan mayat itu begitu saja.


Zian dan kedua anak buahnya baru saja kembali dari menghadiri sebuah pertemuan penting dengan mitra kerjanya, sebuah transaksi besar baru saja selesai dilakukan. Dan Zian mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit dari transaksi tersebut.


"Kalian duluan saja, aku masih perlu pergi ke suatu tempat." Zian menghentikan langkahnya dan menatap keduanya bergantian. Max dan Felix mengangguk.


Kemudian Zian masuk ke dalam mobil mewahnya. Dan mobil itu melaju pergi dengan kecepatan tinggi meninggalkan gedung perhotelan tempat dia melakukan transaksi.


.


.


Zian menghentikan mobilnya disebuah pusat perbelanjaan. Entah apa yang hendak dia lakukan di tempat ini. Karena sangat jarang seorang Zian Lu menginjakkan kakinya di tempat seperti ini.


Pemuda itu memasuki sebuah toko perhiasan dan menyerahkan sebuah desain cincin pada pemilik toko. "Buatkan persis seperti yang ada di gambar ini. Pastikan kemiripannya mencapai 99.99%." ucap Zian.


Perempuan berkaca mata itu lalu mengangguk. Dan sebelum meninggalkan toko perhiasan tersebut, tak lupa Zian memberikan uang muka sebagai jaminan dari barang yang dipesannya.


"Nara?!" Baru saja hendak meninggalkan pusat perbelanjaan. Tanpa sengaja dia malah melihat Nara yang sedang adu argument dengan seorang pemuda yang tampak asing baginya. Kemudian Zian menghampiri mereka berdua. "Nara, sedang apa kau disini?"


Sontak Nara menoleh dan bibirnya mengukir senyum lebar. "Sayang, akhirnya kau datang juga. Sekarang kau percaya bukan, jadi jangan banyak berharap lagi padaku. Kalau sudah putus ya putus saja. Jangan ganggu aku lagi, karena aku sudah memiliki suami!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2