Pengantin Palsu Sang Mafia

Pengantin Palsu Sang Mafia
Bab 6: Kepulangan Zian


__ADS_3

"Kau yakin mau pulang hari ini?"


Zian menoleh dan menatap gadis penolongnya. Nara menatapnya dengan tatapan yang sulit Zian jabarkan maknanya. Pemuda itu mengangguk, menjawab pertanyaan gadis itu. Saat ini dia sedang bersiap-siap untuk pulang ke kediamannya.


"Kalau begitu aku akan mengantarkanmu, kau tinggal arahkan jalannya padaku,"


Zian menggeleng. "Itu tidak perlu, aku sudah meminta seseorang untuk datang menjemputmu dan sebentar lagi dia akan sampai." Jawab Zian.


Dan benar saja. Sebuah mobil sedan mewah memasuki halaman rumah Nara. Dengan hanya melihatnya saja, Nara langsung bisa tau jika mobil yang datang itu bukan mobil sembarangan apalagi berharga ratusan juta, melainkan puluhan milyar.


Seorang laki-laki berkulit Tan keluar dari balik kemudi lalu menghampiri Zian dan membungkuk padanya. "Tuan, senang melihat Anda baik-baik saja. Semua orang mencemaskan Anda." Ucap laki-laki itu setibanya dia di depan Zian.


"Semua berkat gadis ini. Jika tidak ada dia yang menolongku tepat waktu, mungkin aku sudah mati." Ujar Zian. Pandangannya lalu bergulir pada Nara. "Terimakasih untuk beberapa hari ini. Suatu saat aku pasti akan membalas kebaikanmu ini. Aku pergi."


Zian masuk ke dalam mobil itu dan duduk di kursi penumpang. Laki-laki yang menjemput Zian membungkuk pada Nara sebelum masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya pergi. Kosong dan hampa, itulah yang Nara rasakan setelah pemuda itu pergi. Hanya tersisa dirinya sendiri di rumahnya. Meskipun hanya beberapa hari saja, tetapi kehadiran Zian cukup berkesan baginya.


Nara kemudian berbalik dan melenggang masuk ke dalam rumah. Dia harus bersiap-siap untuk bekerja. Ia sudah hampir terlambat dan bisa-bisa Nara malah kena semprot atasannya.


-


-


Dua puluh lima menit berkendara mobil sedan hitam itu tiba disebuah bangunan megah nan mewah yang memiliki tiga lantai. Seorang laki-laki muda keluar dari mobil tersebut lalu melenggang masuk ke dalam.


"ZIAN!! HUAAA..." Tubuhnya terhuyung kebelakang karena terjangan seorang pria yang kini sedang memeluknya sambil menangis histeris. "Huhuhu, aku pikir kami semua sudah kehilanganmu. Tapi saat mendengar kau masih hidup dan baik-baik saja aku langsung lega." Ujarnya.


"Ck, hentikan dramamu ini, Ge. Lihat ke-sekelilingmu, anak buahmu sedang memperhatikanmu. Apa kau tidak merasa malu?!"


Buru-buru Alex melepaskan pelukannya dan bersikap biasa saja. Tak terlihat konyol sama sekali seperti tadi. Dia tak ingin kehilangan muka di depan anak buahnya.


"Maaf, itu tadi hanya refleks saja. Dan kalian semua, kenapa menatapku dan menertawakan ku?! Apa kalian pikir aku ini seorang badut?!" Alex mengomeli anak buahnya yang menertawakannya. Dan mereka pun langsung menundukkan kepala.


Zian mendengus berat. Mengabaikan kakak sepupunya. Kemudian dia melenggang pergi menuju kamarnya di lantai dua. Zian perlu istirahat sebentar, tiba-tiba kepalanya terasa agak sedikit pusing.


-

__ADS_1


-


Nara menghentikan langkahnya saat tiga perempuan tiba-tiba menghalangi langkahnya ketika dia hendak meninggalkan parkiran rumah sakit. Nara menatap ketiganya satu persatu.


"Apa-apaan ini? Kenapa kalian menghalangi jalanku? Minggirlah!!" Pinta Nara menuntut.


"Tidak sebelum kami memberimu pelajaran. Kenapa kau berani sekali mendekati dokter Lu, bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhinya, tapi kenapa kau tidak mendengarnya juga?!"


Nara mendengus berat. "Memangnya kau siapa bisa mengatur dan memerintahku. Aku mau dekat dengan siapa pun, itu tidak ada urusannya denganmu. Lagipula kau ini siapa seenaknya memintaku untuk menjauhi senior?! Meskipun aku mau, belum tentu dia setuju!!" Cecar Nara.


"Kau~"


"Sudahlah, aku malas mengurusi manusia sepertimu. Minggir, kau menghalangi jalanku!!" Nara menabrak ketiga perempuan itu dan melenggang pergi meninggalkan parkiran rumah sakit.


Nara paling malas jika berurusan dengan para fans dari seniornya yang begitu fanatik. Dan tentu saja ini bukan pertama kalinya Nara dilabrak oleh para fans Devan yang menyebalkan.


.


.


"Kenapa dengan mukamu itu, datang-datang muka kusut begitu? Sangat tidak enak dipandang!!"


"Diamnya Sunny Lee, jangan membuat moodku semakin buruk!!" Tegas Nara sambil menatap sebal sahabatnya itu yang ternyata bernama Sunny.


"Karena Bella dan gengnya?" Tebak Sunny 100% benar. Nara mengangguk membenarkan.


Lagipula jika bukan mereka bertiga lalu siapa lagi yang suka mencari masalah dan gara-gara dengan Nara. Mereka mengira jika dirinya memiliki hubungan special dengan Devan. Pada kenyataannya, ia dan Devan tak lebih dari sebatas senior dan junior.


"Aku heran dengan mereka bertiga. Kenapa mereka tidak ada capek-capeknya mencari masalah denganku. Benar-benar merepotkan!!"


Sunny mendengus. "Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi. Mereka memang seperti itu, sebaiknya segera pergi ke ruang dokter Lu, dari tadi dia mencarimu." Pinta Sunny.


"Aku tau!!"


-

__ADS_1


-


Zian melepas lilitan perban yang membebat kening dan mata kirinya. Mata itu sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Bengkak dan memarnya juga sudah berkurang, tapi masih terlihat merah di Sklera-nya (Bagain putih mata).


Tidak ada masalah pada penglihatannya, dia bisa melihat dengan normal seperti biasa. Hanya saja penampakan mata kirinya benar-benar mengganggu penampilannya dan membuat Zian tidak nyaman jika sampai ada yang melihatnya.


"Zian, boleh aku masuk?" Ketukan pada pintu dan suara Alex menyita perhatiannya. Zian segera memasang sebuah benda hitam bertali pada mata kirinya lalu berseru.


"Masuklah,"


Setelah mendapatkan ijin dari sang empunya. Alex masuk ke dalam lalu menghampiri Zian. Alex sungguh sangat penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya dan bagaimana Zian bisa sampai terluka parah.


"Sebenarnya apa yang terjadi hari itu. Bagaimana kau bisa terluka parah sampai seperti ini. Apa kau tau siapa yang melakukannya?" Tanya Alex tanpa basa-basi.


Zian mengangguk. Pertanda jika dia mengetahui siapa dalang dibalik insiden yang menimpanya hari itu.


"Marco dan anak buahnya. Dia berencana membunuhku dengan melemparkan bom aktif ke dalam mobil yang aku kendarai. Beruntung aku bisa keluar tepat waktu, sebelum mobil itu meledak."


"Lalu bagaimana dengan luka tembak diperutmu?" Alex menatapnya penasaran.


Akhirnya Zian pun menceritakan semuanya pada Alex, tentang apa yang terjadi dan menimpanya hari itu. Yang membuatnya menghilang hingga orang-orang mengira jika dirinya telah tewas.


"Sebelumnya aku terlibat perkelahian dengan anak buah Marco, dia kehilangan dua puluh anak buahnya dalam waktu singkat. Salah satu anak buah Marco menembakku di-detik-detik terakhir hidupnya."


"Dalam keadaan terluka itulah aku pergi dari lokasi utama. Mereka mengejar dan melemparkan bom ke dalam mobilku. Tetapi aku berhasil membuat mobil mereka masuk jurang dan meledak. Dan aku terluka parah karena terpapar ledakan dari mobilku." Terang Zian panjang lebar.


Alex menghela napas. Marco memang tidak ada capek-capeknya mencari masalah dengan Zian. Meskipun berkali-kali berhasil Zian kalahkan dengan mudah, tapi tetap saja tak ada jera-jeranya.


"Kalau begitu istirahatlah. Aku keluar dulu. Sekarang aku lega setelah melihatmu baik-baik saja." Alex menepuk pundak Zian dan melenggang pergi.


Dan malam ini Alex bisa tidur dengan tenang karena Zian sudah kembali dalam keadaan hidup dan baik-baik saja. Meskipun sekujur tubuhnya penuh dengan luka.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2