Pengantin Palsu Sang Mafia

Pengantin Palsu Sang Mafia
Bab 34: Akhir Yang Bahagia


__ADS_3

Sekali lagi Nara mematut dirinya di depan cermin, Memastikan apakah ada yang kurang atau tidak ada penampilannya. Hari ini, adalah hari paling bersejarah dalam hidupnya, karena hari ini pernikahannya dan Zian akan dilangsungkan.


Bukan sebuah pernikahan mewah yang hadiri oleh ribuan tamu undangan, tak ada jamuan mewah di hotel bintang lima. Karena pernikahannya dan Zian hanya dihadiri oleh orang-orang terdekatnya saja.


Bagi Nara, pernikahan bukanlah sebuah ajang pamer untuk menunjukkan pada semua orang jika kedua mempelai dan seluruh keluarganya adalah orang-orang yang berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya.


Baginya, pernikahan adalah sebuah hal yang sangat sakral, dan hal yang paling penting dalam sebuah pernikahan adalah kehadiran kedua mempelai.


Gaun pengantin mewah, cincin berlian hanyalah sebuah simbol. Bahkan tanpa semua itu, pernikahan tetap bisa dilangsungkan.


Tak seperti kebanyakan perempuan pada umumnya, yang menginginkan sebuah pernikahan mewah, Nara justru menginginkan pernikahan yang dilakukan secara sederhana. Dan yang paling penting baginya adalah, kehadiran kedua orang tuanya dan juga Zian. Karena tanpa kehadiran mereka bertiga, apa artinya pernikahan yang dilangsungkan hari ini.


Suara pintu dibuka mengalihkan perhatian Nara. Terlihat Tuan dan Nyonya William menghampirinya, wanita paruh baya itu menyeka air matanya melihat putrinya yang tampak begitu cantik dan anggun dalam balutan gaun pengantinnya.


Nyonya William masih tidak percaya jika hari ini akan tiba juga. Hari dimana ia akan melepaskan putrinya, untuk sebuah hidup yang baru. Rasanya baru kemarin ia melahirkan dan melihat Nara tumbuh dewasa, tetapi hari ini putrinya itu sudah mau menikah.


"Lihatlah Putri Mama yang cantik ini, rasanya baru kemarin Mama melihatmu membuka mata untuk pertama kalinya." ucap Nyonya William dengan mata berkaca-kaca.


Nara menyeka air matanya lalu berhambur ke pelukan ibunya. "Jangan membuatku sedih, Ma. Lihatlah, aku hampir menangis karena Mama," ucap Nara.


"Kau tidak boleh menangis, bagaimana bisa seorang mempelai wanita menangis di hari pernikahannya. Bagaimana jika Zian malah menuduh kami mengintimidasimu." Canda Nyonya William.

__ADS_1


"Apa yang Mama katakan?! Bercanda Mama tidak lucu sama sekali," ucap Nara sambil mempoutkan bibirnya. Nyanyian William terkekeh geli melihat ekspresi putrinya.


"Sudah-sudah, ini bukan waktunya bercanda. Ayo, acaranya sudah hampir dimulai. Dan calon suamimu sudah menunggu di altar, jangan sampai Zian menunggumu terlalu lama." tuan William menengahi perdebatan kecil istri dan putrinya.


Nara mengangguk seraya menerima uluran tangan ayahnya. Lalu ketiganya meninggalkan ruangan dan menuju altar.


Jantung Nara berdebar dua kali lebih cepat dari sebelumnya saat melihat sosok Zian menunggunya di atas altar. Pria dingin itu tampak begitu tampan dan gagah dalam balutan taksido hitamnya, sudut bibir Zian tertarik keatas melihat kedatangan pengantinnya yang tampak begitu cantik dan anggun dalam balutan gaun berwarna putih gading itu.


Setibanya di altar, tuan William menyerahkan Nara pada Zian. Yang dengan senang hati, diterima oleh pemuda itu. "Papa serahkan, putri Papa padamu. Jaga dan lindungi dia baik-baik," pinta Tuan William pada Zian.


Zian mengangguk. "Tentu Pa, aku pasti akan selalu menjaga dan melindunginya. Karena dia adalah segala-galanya bagiku." Jawab Zian sambil menatap langsung ke dalam mata Nara. Gadis itu tersenyum malu mendengar ucapan Zian.


Sementara itu. Nic yang melihat adiknya melewatinya dan menikah lebih dulu darinya tak bisa menahan diri untuk menangis. Bukan lagi tangisan haru, melainkan tangisan sedih karena ia belum juga menemukan jodoh sampai detik ini.


Tapi bukan berarti Nic tidak bahagia untuk adiknya. Tentu dia sangat bahagia, karena akhirnya Nara menemukan lelaki yang benar-benar tulus mencintainya.


"Tidak perlu sedih, Hyung. Kau tidak sendirian kok, kita semua juga jones, sama-sama jomblo ngenes. Jadi nikmati saja hidup ini yang rasanya seperti nano-nano." Ucap Jimin sambil menepuk bahu Nicholas.


Kedua mempelai saling bertukar pandang dan saling menatap selama beberapa detik. Senyum terlukis dibibir masing-masing. Lalu perhatian mereka berdua tercurah sepenuhnya pada sosok pria yang berdiri di depan keduanya.


"Apakah kau, Zian Lu, bersedia menerima Nara William sebagai istrimu dan menemaninya di saat senang maupun sedih? Akankah kamu mencintai, menghormati, serta melindunginya, disaat sehat maupun sakit? Hingga ajal memisahkan kalian?" tanya orang yang memimpin pernikahan ini.

__ADS_1


"Aku bersedia," jawab Zian mantap.


Kali ini perhatiannya bergulir pada si mempelai wanita. Dia menatap Nara. "Apakah kau, Nara William, bersedia menerima Zian Lu sebagai suamimu dan menemaninya di saat senang maupun sedih? Akankah kamu mencintai, menghormati, serta melindunginya, disaat sehat maupun sakit? Hingga ajal memisahkan kalian?"


Nara menatap Zian dengan senyum lebar dibibir ranum tipisnya. "Ya. Aku bersedia." Dan setelah saling mengucap janji, kedua mempelai kemudian saling berciuman untuk menunjukkan kebahagiaan mereka saat ini.


Baik Nara maupun Zian sama-sama tidak ada yang mengira jika pernikahan palsu mereka akan berubah menjadi sebuah pernikahan yang sebenarnya. Mereka saling mencintai, jadi tidak ada alasan untuk tidak bersama dan mengikat janji suci selamanya.


Kebahagiaan mereka sempurna, dan tak ada lagi batu sandungan yang menghambat perjalanan cinta keduanya. Karena satu-satunya hambatan yang mereka miliki saat ini sudah tenang di dalam selnya. Ya, tuan Lu dipenjara seumur hidup atas tuduhan pembunuhan berencana.


"Aku mencintaimu, Nara William."


"Aku juga mencintaimu, Zian Lu!!"


Zian menarik tengkuk Nara dan mencium bibirnya sekali lagi. Dan melalui ciuman itu mereka ingin menyampaikan betapa besar cinta yang mereka miliki untuk pasangannya. Tak ada duka apalagi air mata, yang ada hanya sebuah kebahagiaan tak terkira.


-


-


THE END:

__ADS_1


__ADS_2