Pengantin Palsu Sang Mafia

Pengantin Palsu Sang Mafia
Bab 16: Club' Malam


__ADS_3

Cahaya terlihat berkilauan di mana-mana, siap menyambangi setiap mata yang melihat cahaya indah itu. Berkerlap-kerlip bagaikan bintang malam, dan berwarna-warni seperti pelangi.


Suara musik hip-hop juga terdengar mengiringi cahaya itu berputar, berputar di bawah para manusia yang tengah bersenang-senang sekarang. Menikmati indahnya clubing di malam minggu.


Aroma minuman beralkohol tercium dimana-mana, menampilkan orang-orang yang tengah asik bergoyang dibawah lampu disko menggerakkan tubuh mereka dengan sesuka hati, semaunya, sepuasnya.


Diantara banyaknya yang memadati tempat itu. Terlihat juga beberapa pria hidung belang tengah bercumbu mesra dengan para wanita penghibur. Termasuk seorang pria berambut hitam yang sedang duduk manis diatas sebuah sofa merah dengan wanita cantik dipangkuannya.


"Malam ini, Tuan Alex akan melakukan berapa ronde denganku?" Tanya wanita yang diketahui bernama Sena, yang kini sedang duduk dipangkuan Alex dan membelai dada bidangnya.


"Tujuh ronde pun oke," jawab Alex.


"Lalu bagaimana denganmu, Tuan Jimin? Apa kau juga ingin bermain beberapa ronde denganku?" Tanya wanita yang menemani Jimin.


"Tentu saja, Sayang." Jawab Jimin lalu mengecup bibir wanita di-pangkuannya.


Disaat Jimin dan Alex memilih bermanja dengan wanita-wanita kesayangannya, Felix dan Max memilih menari di dance floor. Sementara Zian menikmati rokok dan minumannya dengan tenang, berbeda dari malam-malam sebelumnya, kali ini dia menolak semua wanita yang hendak menemaninya.


Seorang pria berpakaian rapi terlihat menghampiri Zian lalu berbisik pelan di telinga kanannya. "Bos, mereka sudah menyetujui pelegalan senjata yang akan dikirim ke China. Dia akan membantu usaha penyelundupan kita,"


Zian hanya berdehem, kemudian kembali menghisap rokok dengan harga fantastisnya itu. Hidup dalam kekuasaan memang sangat menyenangkan.


Tidak hanya tangguh dan kuat, namun Zian dikenal sebagai orang yang jenius dalam hal berbisnis. Penyelundupan senjata, n"rkoba, organ t*buh, maupun manusia, tidak pernah ada yang terbongkar. Polisi tidak akan bisa mencium kejahatan Zian dan kelompoknya yang sangat rapih dan tertata.


Dia cerdik, dan tak ada ruginya menyuap orang dalam sebagai mata-matanya, padahal dia ketua polisi, tapi bisa semudah itu dirayu dengan uang. Dasar murahan. Begitulah yang Zian pikirkan.


"Devan, sedang apa dia disini?!" Alex memekik keras saat tanpa sengaja melihat keberadaan pemuda yang wajahnya bak pinang di belah dua dengan Zian.


Sontak Zian menoleh dan mendapati Devan memasuki tempat terkutuk ini. Tak hanya sendirian, dia datang bersama Nara dan seorang laki-laki yang Zian ketahui bernama Lee Mino.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan Alex dan Jimin. Zian bangkit dari kursinya lalu menghampiri mereka bertiga. Namun ada orang yang lebih dulu menghampiri ketiganya, lebih tepatnya orang itu menghampiri Devan. Dan Zian mengenal betul siapa orang itu.


-


-


Tanpa membuang banyak waktu. Nara langsung melesat pergi ke sebuah club' malam saat mendengar Devan pergi ke sana.


Devan bukanlah pria yang hobi mendatangi tempat terkutuk dimana orang-orang berd*sa berkumpul. Mino yang mengajaknya, dan Nara hendak membuat perhitungan dengan dia karena Mino berusaha menjerumuskan Devan ke dalam lembah penuh dosa.


Dua puluh lima menit berkendara. Nara tiba di sebuah club' malam bernama 'Golden Bar' setelah menunjukkan kartu anggotanya pada para penjaga, Nara pun diijinkan untuk masuk ke dalam.


Nara melihat ke dance floor, namun tak terlihat sosok yang dia cari. Kemudian Nara pergi ke bar yang berada di lantai dua, dia yakin jika Devan ada di-sana.


Nara menyapukan pandangannya, dan tak sulit baginya untuk menemukan orang yang dia cari.


"Senior," seru Nara, dia bergegas menghampiri Devan.


Rasanya Nara ingin memecahkan telor Mino karena sudah membawa Devan yang seorang pria baik-baik datang ke tempat ini. "Aku yang seharusnya bertanya padamu. Apa yang kalian lakukan disini, dan kenapa kau membawa senior datang ketempat terkutuk seperti ini?!" Nara meminta penjelasan.


"Aku~"


"Zian Lu, akhirnya kita bertemu lagi!!" Seorang laki-laki menghampiri mereka bertiga. Disusul empat orang bersenjata yang kemudian berdiri dibelakang pria itu. "Sepertinya malam ini Dewi Fortuna sedang berpihak padaku, makanya aku dipertemukan dengan pembunuh berdarah dingin sepertimu."


Devan menatap pria itu penuh tanya. "Maaf, kau siapa ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Maaf, tapi aku bukan Zian, namaku Devan. Mungkin yang kau cari adalah adik kembarku." Ucap Devan memberi penjelasan.


Pria itu tertawa dan menatap Devan dengan pandangan meremehkan. "Bagus sekali, Zian Lu. Ternyata kau hanya seorang pengecut rupanya, sungguh tidak seperti desas-desus yang tersebar. Jika sebenarnya kau adalah~!!" Pria itu tak melanjutkan ucapannya karena seruan seseorang dari belakang.


"Aku adalah apa?" Sahut orang itu menimpali.

__ADS_1


Sontak mereka menoleh pada asal suara. Seorang pemuda dalam balutan pakaian hitam tanpa lengan berjalan menghampiri mereka dengan seringai iblisnya. Pria itu pun terkejut, lalu menatap Zian dan Devan bergantian.


"Ka..Kalian sungguh kembar?" Dia berkata tak percaya.


"Apa masih perlu aku perjelas lagi. Urusanmu denganku bukan dengannya. Dan untuk kalian berdua, sebaiknya pergi dari sini. Tempat ini bukan tempat yang tepat untuk kalian berdua, dan untukmu!! Sebaiknya jangan sembarangan membawa orang lain ke tempat ini!!" Zian melirik Nara dan Devan dari ekor matanya. Lalu beralih pada Mino yang tampak ketakutan.


Susah payah Mino menelan salivanya melihat sorot tajam Zian yang mengintimidasi. Dingin, tajam dan berbahaya. Sangat berbanding balik dengan Devan yang hangat dan lembut.


"Ba..Baik, aku tau."


Nara menatap Zian begitupun sebelakinya. Mereka saling menatap selama beberapa saat . "Kau ikutlah pulang bersama mereka. Tempat semacam ini tidak pantas untukmu." Lalu Zian mendekati lima pria yang terlihat gugup itu.


Pria itu menatap keempat anak buahnya secara bergantian lalu memberikan perintah pada mereka. "A..Apa yang kalian tunggu?! Jangan diam saja, ce..cepat habisi bedebah ini!!"


"Baik, Bos!!"


Alex, Jimin, Felix dan Max menghampiri mereka dan berdiri di depan Zian. "Serahkan mereka pada kami. Kau pergi saja," Alex melirik Zian dari ekor matanya, memerintahkan pemuda itu untuk pergi saja. Toh hanya kumpulan cacing, jadi Zian tak perlu turun tangan secara langsung.


Pemuda itu melenggang pergi dan mendapati Nara masih berada di parkiran bar. Kemudian Zian menghampirinya. "Kenapa kau masih disini dan tidak ikut pulang dengan Devan dan si culun itu?" Tegur Zian setibanya dia di belakang Nara.


Gadis itu menoleh. "Aku mau pulang, tapi mobilku habis bensin." Jawabnya dengan suara lemah.


Zian menghela napas. "Lagi-lagi habis bensin, apa kau tidak mengeceknya dulu sebelum bepergian kemana-mana?" Tanya Zian memastikan. Nara menggeleng. "Dasar pikun, mobilmu biar diurus orang-orangku. Naiklah, aku akan mengantarmu pulang," gadis itu tersenyum lebar dan segera mengangguk dengan antusias.


"Oke,"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2