Pengantin Palsu Sang Mafia

Pengantin Palsu Sang Mafia
Bab 21: Reuni


__ADS_3

Dengan langkah penuh percaya diri. Nara memasuki sebuah restoran mewah tempat dia akan bertemu dengan teman-teman lamanya. Gadis itu memeluk lengan Zian dengan sangat mesra, seolah-olah mereka berdua adalah pasangan yang sebenarnya.


Dari kejauhan, Nara bisa melihat semua yang datang hampir berpasangan, kecuali tiga pemuda yang sepertinya sampai sekarang masih betah sendiri meskipun teman-temannya yang lain sudah memiliki kekasih dan pasangan hidup.


"Mereka ada di-sana, aku harap kau bisa bekerja sama dengan baik. Jangan sampai mereka curiga jika sebenarnya kita adalah pengantin Palsu," ujar Nara memberi isyarat.


"Kau bisa mengandalkan ku, Nona. Dan aku sudah tau harus berbuat bagaimana, kau tenang saja."


Nara semakin dekat dengan mereka. Salah seorang temannya berseru sambil melambaikan tangannya. Nara tersenyum dan ikut melambai juga. Ia dan Zian kemudian bergabung bersama mereka semua.


"Wah, Nara. Siapa laki-laki tampan yang datang bersamamu ini? Apa dia kekasihmu?" Tanya seorang teman pada Nara.


"Bukan kekasih, tapi dia suamiku. Dan terimakasih untuk pujiannya, dia memang sangat tampan." Balas Nara.


"Mwo?! Jadi kau sudah menikah, lalu kenapa tidak kabar-kabar dan mengundang kami?" Protes seorang perempuan berkaca mata yang di pangkuannya tampak seorang bayi mungil dan menggemaskan.


"Kebetulan sekali kami menikah diluar negeri. Rencananya bulan depan kami akan mengadakan resepsi lagi, dan kalian bisa datang jika berkenan." Ujar Zian dan membuat kedua mata Nara membelalak sempurna. Hampir saja dia tersedak minuman di dalam mulutnya mendengar apa yang pemuda itu katakan.


Sontak Nara menoleh dan melotot ke arah Zian. Dia merasakan remasan pada jari-jari lentiknya. Zian berusaha meyakinkan pada Nara jika semua akan baik-baik saja.


"Benarkah, tentu saja kami pasti datang. Mana mungkin kami melewatkan hari kebahagiaan kalian berdua, apalagi kalian terlihat sangat serasi."


"Hahaha.. Kalian memang harus datang. Kalian harus menjadi saksi kebahagiaanku dan Zian." Ucap Nara sambil tersenyum bodoh.


Rasanya Nara ingin menghilang detik ini juga. Bagaimana bisa Zian mengatakan omong kosong sepeti itu, bagaimana dia harus menjelaskan pada kedua orang tuanya. Bisa-bisa ayah dan ibunya menggantung hidup-hidup jika dia bermain-main dengan yang namanya pernikahan.


Dan Nara ingin sekali mengutuk Zian karena sudah berani menempatkan dirinya dalam masalah besar. Bagaimana Nara akan menghadapi masalah yang anak datang nantinya.


"Aku ke toilet dulu." Nara bangkit dari duduknya dan segera memisahkan diri dari yang lain.


Sesampainya di toilet. Nara segera mengirim pesan singkat pada Zian, di dalam pesan singkat tersebut, Nara memarahi pemuda itu habis-habisan. Dan Nara pasti akan membuat perhitungan dengannya.

__ADS_1


Sekembalinya dari toilet. Nara menghampiri Zian dan mengajaknya pulang. Dia mencari jalan aman daripada harus menghadapi berbagai pertanyaan tak terduga dari teman-teman lamanya.


Nara menghentikan langkahnya setibanya mereka di parkiran restoran. "Apa maksudmu mengatakan jika bulan depan kita akan mengadakan resepsi ulang, membuat pesta dan mengundang mereka untuk datang?"


"Kenapa? Bukankah kau ingin sandiwara ini terlihat nyata?!"


"Iya, tapi apa perlu sampai membuat kebohongan sebesar itu?! Ayolah Zian, bagaimana aku harus menjelaskan pada orang tuaku?!" Nara menatap Zian dengan frustasi.


"Gampang. Sekarang ayo pergi menemui orang tuamu dan memberitahu mereka jika bulan depan kita akan menikah, beres kan?!"


"Tau ah, aku pusing. Sebaiknya sekarang antarkan aku pulang!!" Ucapnya.


Nara beranjak dari hadapan Zian lalu masuk ke dalam mobil pemuda itu. Nara benar-benar dibuat pusing oleh keputusan sepihak Zian, pemuda itu benar-benar sudah menempatkannya dalam masalah besar.


-


-


Usai mengantarkan Nara pulang. Zian tidak langsung pulang ke kediamannya, dia pergi ke-suatu tempat setelah mendapatkan panggilan dari Alex. Alex baru saja mendapatkan sebuah informasi dari sumber yang akurat jika salah satu markas milik Zian yang ada di Busan di tempati oleh orang lain tanpa ijin.


Satu jam lima belas menit, waktu yang perlu Zian tempuh untuk tiba di sana. Sudah ada Alex dan Jimin yang memang menunggu kedatangannya.


"Kenapa lama sekali?! Lihatlah sekujur tubuhku dimakan oleh nyamuk-nyamuk yang haus darah!!" Seru Alex sambil menunjukkan bentol-bentol merah ditubuhnya bekas gigitan nyamuk pada Zian. Bukannya kata maaf yang dia terima, Alex justru mendapatkan tatapan tajam dari Zian.


Zian melewati mereka begitu saja. "Dimana orang-orang itu?"


"Mereka ada di dalam, Bos. Kami tidak berani masuk tanpa perintah darimu, apalagi jumlah mereka di dalam lebih dari dua puluh orang." Jelas Jimin.


Zian menatap keduanya bergantian. "Kenapa kalian malah jadi pengecut?! Panggil anak buah kalian, kita berikan kejutan kecil pada tamu-tamu tak diundang itu." Perintah Zian pada Jimin dan Alex. Zian masuk ke sana terlebih dulu. Tak ada rasa gentar sedikit pun, meskipun yang Zian hadapi nantinya lebih dari 20 orang.


"Siapa kau? Dan kenapa kau datang kemari?! Cari mati ya?!" Kedatangan Zian langsung disambut senjata oleh mereka.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bertanya, siapa kalian dan berani sekali menempati bangunan ini tanpa ijin dariku selaku pemilik yang sah!!"


"Jangan mengatakan omong kosong. Rumah ini adalah milik dari Kak Mir, dan dia yang mengijinkan kami untuk tinggal disini!!"


Zian memicingkan matanya. "Mir?! Oh jadi dia yang meminta kalian untuk tinggal disini, benar-benar cari mati rupanya. Jimin, segera urus mereka. Ge, temukan Mir dan seret dia ke-hadapanku. Dia sungguh-sungguh berani mencari masalah denganku!!"


Tak perlu turun tangan sendiri untuk menghabisi mereka semua. Jimin dan anak buahnya saja sudah cukup jika hanya menghadapi para pecundang itu. Jadi Zian tak perlu turun tangan langsung. Karena anak buahnya selalu bisa diandalkan, dan mereka tak pernah mengecewakan.


-


-


Lingkaran hitam seperti mata panda menghiasi mata Nara. Semalam Nara tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan kata-kata Zian yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Bagaimana dia harus mengatakannya pada kedua orang tuanya, kata-kata Zian benar-benar membuatnya frustasi.


Devan yang baru saja tiba terkejut melihat penampakan Nara yang sedikit berantakan itu. Lalu Devan menghampiri Nara dan bertanya padanya.


"Kenapa kau terlihat lesu seperti kurang tidur?" Tegur Devan sambil memberikan satu kap kopi pada Nara.


Gadis itu mengangkat wajahnya dan menghela napas berat. "Aku lagi dilanda galau berat, adikmu benar-benar membuatku frustasi." Jawabnya.


Devan memicingkan matanya. "Zian?"


Nara mengangguk. "Lalu siapa lagi jika bukan dia. Cuma dia yang bisa membuatku kalang kabut tidak karuan. Senior, kalian kakak beradik, tapi kenapa sikap dan perilaku kalian berbanding balik. Kau sungguh baik dan pengertian, tapi dia suka seenaknya." Curhat Nara.


"Memangnya apa yang Zian lakukan padamu?" Tanya Devan penasaran.


Nara menatap Devan dengan serius. "Dia... mengajakku menikah!!"


"Apa?! Mengajakmu menikah?!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2