
Suara bising dari halaman belakang rumahnya membuat tidur nyenyak Nara sedikit terusik. Gadis itu menyibak selimutnya lalu beranjak turun dari tempat tidurnya dan berjalan kearah balkon kamarnya. Dari tempatnya berdiri saat ini, Nara melihat sang ayah yang sedang tanding basket bersama pemuda tampan yang pastinya adalah Zian.
Tubuhnya dalam balutan kaos putih polos tanpa lengan yang mengikuti lekuk tubuh kekarnya, dan celana hitam dibawah lutut.
Pandangan Nara tak sedikit pun lepas dari sosok tampan itu. Nara memandangnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan, tubuh kekarnya basah oleh keringat membuat sebagian rambut blonde-nya jatuh diatas keningnya. Sungguh tampan dan penuh pesona.
Nara menggeleng. Ia segera sadar dari pikiran gilanya. "Apa yang sebarnya aku pikirkan. Sadar Nara, sadar. Tidak seharusnya kau jatuh cinta pada pemuda dingin itu!!" Nara menepuk pipinya sendiri. Kemudian gadis itu beranjak dari balkon dan kembali ke kamarnya.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi. Nara pergi ke dapur dan mendapati sang ibu yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Gadis itu mengambil sebutir apel yang ada di meja makan lalu menghampiri Nyonya William.
"Aromanya sangat lezat, Mama masak apa?" Tanya Nara.
"Mama dengar Zian sangat menyukai tumis udang asam manis pedas. Jadi Mama menyiapkan makanan kesukaannya." Jawab Nyonya William.
Nara mempoutkan bibirnya. "Sebenarnya yang anak Mama itu siapa, aku atau dia? Kenapa semua dia, dia dan dia. Membuatku iri saja," Nara menggerutu kesal. Pasalnya Ibunya lebih mendahulukan Zian dalam segala hal dari pada dirinya.
"Jangan keterlaluan!! Zian adalah tamu di rumah ini, sedangkan kau itu Tuan rumah. Jadi tentu saja harus Zian yang diutamakan. Sudah, jangan ngomel lagi, cepat bantu Mama menyusun makanan yang sudah matang diatas meja."
Nara berdecak sebal. Sambil menghentakkan kakinya, gadis itu membawa makanan-makanan itu ke meja makan. Dan lebih menyebalkannya lagi, dari semua makanan yang dimasak pagi ini. Hanya ada satu makanan kesukaan Nara yang dimasak oleh Nyonya William. Karena hampir semuanya adalah makanan kesukaan Zian.
Obrolan dua pria yang berasal dari teras belakang menyita perhatiannya. Sang ayah berjalan beriringan dengan Zian memasuki rumah. Mereka baru saja selesai bermain basket, meskipun sudah hampir kepala 5, tetapi Tuan William masih sangat mahir dalam bermain basket meskipun tidak selincah dulu.
Glukk...
Susah payah Nara menelan salivanya melihat Zian yang begitu panas pagi ini. Dia memakai kaos tanpa lengan dengan keringat membanjiri sekujur tubuhnya, yang membuatnya terlihat, errr...seksi. Buru-buru Nara membuang muka kearah lain, kemana saja asal jangan kontak mata dengan Zian.
__ADS_1
Zian mendekati Nara lalu duduk di kursi samping dia berdiri. "Bisakah kau menuangkan air putih untukku?" Pinta Zian pada calon pengantinnya itu.
"Tidak mau, ruang saja sendiri. Dasar manja!!"
"Memangnya kenapa, bukankah manja pada calon istri sendiri?" Ucap Zian menimpali. Seringai tampak tercetak dibibir Kiss able-nya.
"Jangan mengatakan omong kosong lagi. Ini minum." Nara menyerahkan segelas air putih pada Zian.
Digoda seperti itu oleh Zian membuat Nara menjadi salah tingkah dan gugup setengah mati. Dan entah sejak kapan pemuda dingin seperti Zian bisa mengatakan omong kosong untuk menggoda perempuan, dan sepertinya Nara benar-benar sebuah pengecualian untuk Zian.
"Nara, siang ini kita kembali ke Korea. Kita sudah terlalu lama disini, kau juga sudah harus kembali bekerja." Ucap Zian berubah serius.
Lalu Nara duduk berhadapan dengan Zian."Ya, itu juga yang aku pikirkan. Tadinya aku ingin membicarakan hal ini denganmu. Tapi syukurlah kau malah membahasnya terlebih dulu. Aku juga sudah memberitahu Mama dan Papa semalam jika secepatnya kita berdua akan kembali ke Korea." Ujarnya.
Zian mengangguk. "Ya sudah, aku mandi dulu." Zian menepuk kepala coklat Nara dan pergi begitu saja. Gadis itu menyentuh kepalanya sendiri yang baru saja di tepuk-tepuk oleh Zian.
-
-
"Aku ingin kalian menyingkirkan orang yang ada di dalam foto ini. Namanya Zian Lu, alamatnya sudah ada di belakang foto. Ini bayaran kalian, dan sisanya aku berikan setelah kalian berhasil menyelesaikan tugas yang aku berikan."
Tuan Lu melemparkan amplop coklat yang lumayan tebal pada tiga pria di depannya. Dia memerintahkan mereka bertiga untuk menyingkirkan dan menghabisi Zian. Tujuannya hanya satu, agar Devan tidak bersikeras membagi harta warisannya dengan adiknya itu.
Tuan Lu sungguh tidak rela jika harta kekayaan miliknya harus dibagi rata antara Devan dan Zian meskipun mereka sama-sama putra kandung dan darah dagingnya. Karena sejak awal Zian memang bukanlah siapa-siapa bagi Tuan Lu dan mendiang istrinya.
__ADS_1
"Bukankah ini adalah putra Anda yang berprofesi sebagai dokter itu, Tuan? Kenapa Anda ingin dia mati, bukankah Anda sangat menyayanginya?!"
Tuan Lu menggeleng. "Bukan, dia bukan Devan. Tetapi adik kembarnya, namanya Zian. Kalian jangan sampai salah orang, karena wajah Zian dan Devan menang sangat sulit di bedakan. Yang bisa membedakan mereka berdua adalah style dan warna rambutnya. Jadi perhatikan baik-baik orang yang ada di dalam foto itu!!" Pinta Tuan Lu.
Benar sekali apa yang tuan Lu katakan. Wajah Zian dan Devan menang sulit dibedakan, dan yang bisa membedakan mereka berdua hanya penampilannya saja. Zian lebih menyukai pakaian warna gelap, sementara Devan menyukai pakaian berwarna terang, seperti putih dan biru laut.
"Baik, Tuan. Kami mengerti, kalau begitu kami pergi dulu."
Pemuda itu buru-buru pergi dan menyingkir dari depan pintu saat melihat tiga orang suruhan ayahnya meninggalkan ruangan tersebut. Pemuda itu yang tak lain dan tak bukan adalah Devan telah mendengar semua apa yang mereka bicarakan di dalam sana.
Dan sungguh Devan tidak menduga jika ayahnya akan bertindak sejauh itu demi mencapai tujuannya. Akan tetapi Devan tidak mungkin tinggal diam dan membiarkan Zian berada dalam bahaya, dia akan menghentikan perbuatan gila sang ayah sebelum terlambat.
-
Ting...
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Zian. Zian meraih ponselnya yang ada di atas meja, dan nama Devan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Kemudian Zian membuka pesan tersebut karena penasaran kenapa Devan sampai mengiriminya pesan.
"Zian, dimana pun kau berada. Jaga dirimu baik-baik. Papa menginginkan kematianmu, dia mengirim orang-orang untuk menghabisimu. Hanya ini yang bisa aku sampaikan padamu."
Kurang lebih seperti itulah isi pesan yang Devan kirim pada Zian. Zian sungguh tidak menyangka jika ayahnya akan bertindak sampai sejauh ini. Tapi dia tidak ketakutan sana sekali, karena Zian akan menghabisi mereka terlebih dulu sebelum berhasil menyentuhnya. Mereka sudah mencari gara-gara dengan orang yang salah.
-
-
__ADS_1
Bersambung.