
Nara tak bisa membendung kesedihan dan menahan rasa takutnya saat mendengar jika Zian terluka parah. Bersama Alex dan Jimin, Nara pergi ke tempat di mana Zian dirawat.
Baik Nara, Alex maupun Jimin, tidak ada satupun yang tahu bagaimana keadaan Zian saat ini. Max hanya memberitahu jika Zian terluka dan dilarikan ke rumah sak!t.
Sepanjang perjalanan, air mata Nara tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk mata indahnya, dia benar-benar takut hal buruk sampai menimpa Zian. Alex mencoba menenangkannya, dan meyakinkan pada Nara jika Zian pasti baik-baik saja.
20 menit berkendara akhirnya mereka tiba di rumah sakit tempat Zian dirawat. Dari kejauhan, mereka bertiga melihat Devan yang terduduk lemas di depan instalasi gawat darurat. Ada juga Max dan Felix serta tuan Lu.
Nara menghampiri Devan untuk memastikan jika Zian baik-baik saja. "Senior Bagaimana keadaannya, dia baik-baik saja bukan?" tanya Nara memastikan.
Deva menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu, kita hanya bisa berdoa, semoga dia baik-baik saja." jawab Devan.
Alex menghampiri Devan. Dia penasaran dengan apa yang terjadi pada Zian. "Apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa Zian bisa terluka sampai seperti ini?" tanya Alex.
Lalu pandangan Devan bergulir pada ayahnya."Kau tanyakan saja padanya, karena dia yang menyebabkan ini semua terjadi." jawab Devan sambil menatap ayahnya penuh kebencian, sedangkan tuan Lu hanya bisa menunduk penuh penyesalan.
Nara mendekati tuan Lu dan bertanya padanya. "Paman, apa yang kau lakukan padanya? Apa yang kau lakukan sampai dia terluka parah dan masuk rumah sakit?" tanya Nara meminta penjelasan.
"Aku~"
"Dia ingin supaya Bos tiada!. Aku dengar dia mengirim pemb*nuh bayaran, tapi mereka memilih mundur karena tau yang dihadapi bukan orang sembarangan. Kemudian Bos mengabulkan keinginannya, dia menuntun tangan dia untuk men*sukkan pisau ke p*rutnya sendiri sampai dua kali." Sahut Max menjelaskan.
Max sampai meneteskan air matanya mengingat apa yang dilakukan oleh Zian tadi. Dan saat mengingat setiap kata yang keluar dari bibir Zian membuat hati Felix dan Alex seperti terkoyak-koyak.
Mereka sungguh tidak pernah menduga dan menyangka, jika bos yang selama ini mereka kenal dingin dan tak berperasaan ternyata memiliki masa lalu yang begitu menyakitkan.
Nara menatap Tuan Lu tidak percaya. "Kau benar-benar bin*tang!! Bagaimana bisa ada ayah sepertimu di dunia ini?! B!natang saja masih memiliki hati nurani, tapi kenapa kau tidak?! Dia putramu, darah dagingmu, tapi kenapa kau malah ingin memb*nuhnya?! Memangnya Apa yang sudah dia lakukan padamu, sampai-sampai kau begitu membencinya dan ingin agar dia tiada?!" Nara menatap pria paruh baya itu dengan sinis.
Tuan Lu menggeleng. "Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya~"
__ADS_1
"HANYA APA?!" bentak Nara menyela ucapan Tuan Lu. "Aku tidak peduli kau siapa, jika sesuatu yang buruk sampai terjadi padanya, jangan salahkan aku jika aku sampai menghabisimu!!" ancam Nara bersungguh-sungguh.
Meskipun mendengar bagaimana cara Nara berbicara pada ayahnya, tetapi tak sepatah kata pun keluar dari bibir Devan. Devan diam membisu, seperti sebuah patung yang tak bernyawa.
Sebenarnya bukan hanya Nara yang ingin memb*nuh Tuan Lu, tetapi Devan juga. Ayahnya sudah sangat keterlaluan, dan Devan tidak bisa memaafkannya.
Pintu ruang gawat darurat terbuka. Seorang dokter keluar dari dalam sana. Nara mendekati dokter itu. "Dokter bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja bukan?" Tanya Nara memastikan.
"Tidak perlu cemas, pasien sudah melewati masa kritisnya. Dia akan sadar setelah pengaruh obat b!usnya hilang." Jelas dokter itu.
"Lalu kapan kami boleh menemuinya?" Tanya Devan yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakang Nara.
"Kalian bisa menemuinya setelah dia dipindahkan keruang inap, kalau begitu saya permisi dulu." Jawab dokter itu lalu pergi begitu saja.
Nara, Devan dan yang lainnya meninggalkan ruang gawat darurat dan Tuan Lu. Semua bersikap acuh padanya, termasuk Devan yang biasanya selalu bersikap hangat dan peduli padanya. Rasa kecewa yang Devan miliki pada sang ayah sudah terlalu besar, sehingga sulit bagi dia untuk memaafkannya.
-
-
"Zian!" Teriakan bahagia Nara mengawali tangisnya. Dan gadis itu mulai terisak seraya bergumam dengan tidak jelas, "Bodoh ... bodoh ... bodoh ..."
"Beginikah tanggapanmu setelah aku siuman?" Zian berkata dengan senyuman lemah yang membuat Nara menatapnya dengan tatapan kesal.
"Ini bukan waktunya untuk berkata seperti itu! Kau memang ... bodoh! Kenapa kau melakukannya?!" amuk Nara dengan air mata yang masih mengucur sedikit demi sedikit.
"Jangan menangis, aku baik-baik saja."
"Aku hampir mati melihatmu seperti itu, Zian. Dasar egois. Kau tak memedulikan perasaan orang-orang yang sayang padamu. Bodoh! Egois! Jelek!"
__ADS_1
"Nara—"
"Kumohon ... jangan seperti itu lagi ... hiks ... kau membuatku sangat takut ..."
Zian terdiam. Pemuda itu menjulurkan tangannya dan memberi kode pada Nara agar mendekat padanya. Setelah jarak mereka sudah mendekat, kemudian Zian meraih tengkuk Nara dan menyandarkan kepala gadis itu di dadanya seraya berucap. "Maaf..."
Keduanya sama-sama terdiam, menikmati kehangatan yang saling mereka salurkan. Sungguh Zian tidak menduga jika Nara akan memberikan respon seperti ini.
Detik berikutnya sudut bibir Zian tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.
"Baiklah, aku berjanji."
Tok! Tok!
Suara ketukan membuat mereka berdua sama-sama terkesiap. Gadis itu langsung bangkit dan berjalan menuju pintu. Terlihat Devan yang berdiri dibalik pintu. "Apa aku mengganggu kalian berdua?" Tanya Devan.
Nara menggeleng. "Sama sekali tidak, senior. Kau masuk saja. Dia sudah siuman kok." Ucap Nara dan mempersilahkan Devan untuk masuk.
"Zian," Devan berkata berlirih, menatap kondisi adiknya yang terlihat cukup buruk, ini pertama kalinya Devan melihat Zian dalam keadaan yang begitu lemah. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Devan lalu duduk disamping ranjang inap Zian.
"Seperti yang kau lihat, aku buruk." Zian tersenyum tipis.
"Atas nama Papa aku minta maaf padamu, aku sungguh tidak menyangka jika dia akan berbuat sampai sejauh itu. Jujur saja, Zian. Sebagai putranya, aku sungguh malu memiliki ayah sepertinya." Ujar Devan sambil menunduk dalam.
Devan mengangkat kembali kepalanya saat merasakan tepukan pada bahunya. "Itu bukan salahmu, kau tidak ada hubungannya dengan hal ini. Jadi kenapa harus meminta maaf." Jawab Zian.
Melihat dua saudara yang sudah berdamai itu membuat Nara tak bisa menahan rasa harunya. Gadis itu tersenyum lebar, sadar mereka berdua membutuhkan ruang untuk berbincang. Nara pun memutuskan untuk keluar dan meninggalkan mereka berdua. Nara hanya ingin mereka akur selayaknya kakak adik yang sebenarnya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.