
Gubrakkk...
Nara terlonjak kaget oleh suara benturan keras yang berasal dari balkon kamarnya. Buru-buru gadis itu berlari ke balkon untuk melihat apa yang terjadi.
Dan setibanya dia di sana, Nara tak menemukan benda apapun selain sosok wanita berbaju putih yang sedang tengkurap di lantai balkon kamarnya.
Dengan ragu-ragu, Nara mendekati sosok itu sambil memegang sebuah tongkat pemukul base ball. "Siapa kau dan kenapa kau bisa jatuh dari atap rumahku? Kau penyusup ya?" tegur Nara.
Mendengar ada yang berbicara dengannya. Sontak sosok berbaju putih itu mengangkat wajahnya dan... "SETAN!!" Nara berteriak histeris sambil melemparkan tongkat base ball itu kearahnya. Alhasil tongkat tersebut mendarat mulus pada kepala sosok tersebut.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah nasib yang dialami oleh sosok berbaju putih tersebut. Habis jatuh dari atap, kepalanya malah tertimpuk tongkat base ball. "Aduh kepala Markonah," ucap sosok berbaju putih itu sambil mengusap kepalanya.
"Ka..Kau ini siapa? Setan atau manusia?" Nara memastikan.
"Hehehe. Sepertinya kita harus berkenalan dengan baik dan sopan. Perkenalkan, namaku Diajeng Markonah Harjo Hamengkubuwono Joyo Dumilah. Tapi kau bisa memanggilku Markonah saja. Aku adalah Miss K yang berasal dari Indo, dan kedatanganku untuk berburu Oppa-Oppa tampan disini," jelasnya panjang lebar.
Nara menggaruk tengkuk tengkuknya yang tidak gatal. Awalnya sangat takut, tapi setelah dia memperkenalkan dirinya membuat Nara geli sendiri. Bahkan namanya begitu panjang dan sulit diucapkan, yang dia ingat hanya Markonah.
"Miss K? Ja..Jadi kau ini setan ya!" Sekali lagi Nara memastikan.
Markonah mengangguk. "Dan Onah adalah Miss K paling cantik, paling semok dan paling aduhai di dunia perkuntian. Markonah juga punya pengemar rahasia, tapi sudah bosan sama mereka semua. Setelah menjelajah benua Eropa dan mencari om-om bule, sekarang Onah mau berburu Oppa-Oppa Korea. Misalnya dari Suju dan lain-lain." Ujar si Miss K bernama Markonah itu panjang lebar.
Nara miris sendiri mendengarnya. Bagaimana bisa ada setan' modelan kayak gini. Bukannya mengerikan dia malah menggelikan. Malas mendengar ocehannya lagi, akhirnya Nara memilih masuk ke dalam untuk beristirahat.
"Dasar setan edan!!"
-
-
Dihari yang terik. Seorang wanita terlihat menarik sebuah koper besar meninggalkan bandara Incheon, Seoul Korea Selatan. Wanita yang baru saja kembali dari luar negeri itu terlihat menghentikan langkahnya lalu menyapukan pandangannya, seperti sedang mencari seseorang.
Selang beberapa menit. Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan wanita itu berdiri. Lalu seseorang keluar dan menghampirinya. Wanita itu menatapnya kesal. "Kau terlambat lebih dari 5 menit, bukankah aku sudah memintamu untuk datang tepat waktu!!"
__ADS_1
"Maaf, Nona. Jalanan agak sedikit macet makanya saya datang terlambat." Ucap sopir penuh sesal.
"Alasan, antarkan aku bertemu dengan tunanganku. Aku ingin memberikan kejutan padanya tentang kepulanganku ini." Kemudian wanita itu masuk ke dalam mobil jemputanya.
Dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan laki-laki yang selama ini menjadi ruangannya. Meskipun laki-laki itu tidak pernah mencintai sama sekali, apalagi menganggapnya sebagai tunangannya. Akan tetapi dia begitu teramat sangat mencintainya.
-
-
"Pagi senior," sapa Nara kemudian berjalan disamping Devan.
Devan menoleh dan menatap gadis yang berjalan disampingnya itu dengan alis terangkat sebelah. "Kenapa kau terlihat lesu pagi ini. Apa semalam tidak tidur dengan baik?" Ucap Devan memastikan.
Nara mengangguk. Akhirnya dia pun menceritakan apa yang dialaminya semalam. Tentang kemunculan mahluk gila yang muncul dari alam lain.
"Semalam benar-benar menjadi hari paling sialku. Rumahku kedatangan setan gila dan membuatku tidak bisa tidur hampir semalaman karena dia yang terus saja mengoceh tidak jelas. Tidak seperti hantu-hantu lainnya yang menyeramkan, dia justru konyol dan menggelikan. Dan semoga kau tidak pernah bertemu dengannya." Celoteh Nara panjang lebar.
"Aku justru menjadi sangat penasaran," balas Devan menimpali.
"Itu konyol, ayo mulai kerja." Nara tersenyum seraya mengangguk.
Ia dan Devan berjalan beriringan menuju ruang kerja dokter muda itu. Sejak seminggu yang lalu, Nara tidak lagi bekerja sebagai dokter magang di rumah sakit tempatnya bekerja saat ini. Tapi Nara sudah diterima sebagai dokter tetap di-sana.
.
.
Jam makan siang pun tiba. Nara menghampiri sang kakak yang baru saja selesai memeriksa para pasiennya. Nara ingin mengajak Nic untuk makan siang bersama. Tapi justru Nic yang mengajak Nara makan siang bersamanya karena ibu mereka sudah menyiapkan makan siang untuk keduanya.
"Mama memang paling tau apa yang paling aku sukai," ucap Nara sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Iya, tapi jangan dihabiskan juga. Sisakan untukku!!" Protes Nic melihat Nara yang begitu lahap menyantap makan siangnya.
__ADS_1
Nara menatap sang kakak dengan tajam. Sedangkan Nic langsung menundukkan kepalanya. "Pelit sekali sih kau jadi Kakak, Nic. Lagipula makanan ini juga tidak sedikit!!" Ucap Nara.
"Iya, iya, tapi jangan ngegas juga. Lagipula aku hanya bercanda, kenapa kau menanggapinya dengan serius." Nic mempoutkan bibirnya.
Nara mendecih sebal, tanpa menghiraukan sang kakak, ia melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda. Nicholas mungkin bisa tegas pada orang lain, tapi sikapnya justru berbanding balik ketika berhadapan dengan Nara. Karena menurut Nic, Nara adalah orang paling mengerikan di dunia.
Ting ..
Ponsel Nara berdenting menandakan ada sebuah pesan masuk. Gadis itu segera mengetik pesan balasan untuk orang itu dan mengirimkannya, lalu melanjutkan kembali makan siangnya.
-
-
Senja memerah di pantai Gwanggalli. Angin membawa punggung air beriak bergulir, tersusun menjadi serangkaian gelombang yang bergulung dan pecah di bibir pantai, menghapus segala yang tertinggal di pasir. Suara burung-burung terbang rendah menggema di antara tebing-tebing di sebelah timur.
Zian dan Nara berdiri memandangi laut lepas, merasakan pasir basah di sela-sela jari mereka. Di pantai yang ramai, ketenangannya tidak terusik.
Matanya menatap lurus batas cakrawala, biru bercampur kemerahan dan mentari semakin turun. Air laut terasa begitu dingin, tetapi jiwanya terasa hangat. Begitu hangat hingga ia menikmati setiap hela napasnya. "Aku menyukai tempat ini." Nara menoleh membuat matanya bersirobok dengan mata Zian.
"Kenapa?"
"Karena suasana di tempat ini begitu tenang dan damai," jawabnya.
"Kau menyukai ketenangan?" Nara mengangguk. "Tapi kenapa kau sering pergi ke club' malam. Jelas-jelas di-sana sangat bising dan banyak hal-hal mengerikan terjadi."
Nara mengangguk membenarkan. Dia tidak menampik apa yang Zian katakan. Karena sebenarnya Nara memang membenci keramaian, akan tetapi di keramaian itu pula dia menemukan kenyamanan yang berbeda. Dan entah sejak kapan dia menjadi sangat menyukai keramaian, meskipun di satu sisi dia menyukai suasana yang tenang dan hening.
"Aku juga menyukai keramaian, ketenangan dan keramaian adalah dua hal yang menjadi bagian dari hidupku. Karena aku memang membutuhkan kedua-duanya." Jelas Nara.
"Aku sungguh tak memahamimu sama sekali!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.