
Hari ini Zian dan Nara akan terbang ke America untuk menemui keluarga gadis itu. Zian hendak meminta ijin pada kedua orang tua Nara untuk menikahi putri mereka.
Mungkin Nara hanya menganggap jika mereka berdua hanyalah pengantin Palsu karena pernikahan yang akan dilangsungkan tanpa dilandasi cinta sedikit pun, tetapi tidak bagi Zian, karena dia memang serius dengan pernikahan itu.
Pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat di bandara. Langit sudah tampak gelap ketika Nara dan Zian turun dari pesawat yang membawa mereka datang ke negara ini.
Meski malam sudah tiba, New York tetap tak kehilangan kilau semangatnya. Seperti kata Frank Sinatra dalam lagu legendarisnya New York, New York, kota ini tak pernah tidur.
Kota yang dikenal dengan simbol Patung Liberty ini, memang menjanjikan pengalaman luar biasa selama 24 jam. Menjelajah New York non-stop akan mendatangkan pengalaman unik tersendiri untuk wisatawan.
"Aku lapar, kita makan malam dulu." Ucap Nara sambil mengusap.perutnya yang keroncongan.
Zian mengangguk. Bukan hanya Nara saja yang lapar, tetapi dirinya juga. Saat di dalam pesawat perut Nara masih terisi dua potong sandwich tuna kesukaannya, sementara Zian tidak sama sekali.
Dan setelah mengisi perutnya di restoran bandara. Mereka melanjutkan perjalanan menuju kediaman orang tua Nara. Sebelum mereka pergi, Nara sudah memberitahu ibu dan ayahnya jika dia akan datang bersama calon menantu mereka. Dan tentu saja mereka menyambutnya dengan gembira.
Setibanya di Mansion mewah milik keluarga William. Kedatangan Nara dan Zian disambut oleh Nyonya dan Tuan William. Keduanya menunggu di teras depan. Nara pun segera turun dari mobil dan berlari menghampiri sang ibu.
"Mama, aku merindukanmu." Ucap Nara sambil memeluk ibunya dengan erat.
"Mama juga merindukanmu," jawab nyonya William.
"Hei, gadis nakal. Apa yang kau rindukan hanya Mamamu saja, bukankah kalian baru saja bertemu beberapa Minggu yang lalu. Lalu bagaimana dengan Papa?" Seru tuan William yang merasa iri pada sang istri karena putri mereka lebih memilih memeluknya.
Nara melepaskan pelukan ibunya lalu beralih memeluk sang ayah. "Aku juga merindukan, Papa." Ucapnya sambil memeluk sang ayah dengan erat.
Melihat kedekatan dan keakraban Nara dengan orang tuanya sedikit banyak membuat Zian merasa iri. Bagaimana tidak, sejak kecil dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang apalagi perhatian dari mereka. Dan Zian hanya bisa memendam di dalam hatinya setiap kali melihat orang lain begitu dekat dan akrab dengan keluarganya.
Zian terkejut saat merasakan tepukan lembut pada bahunya. Ia menoleh dan Nyonya William yang sedang tersenyum lebar padanya. Senyum yang hangat dan penuh ketulusan, dan senyum itu berhasil membuat hati dingin Zian tersentuh.
__ADS_1
"Nak, ayo masuk. Kalian berdua pasti lelah, Bibi sudah menyiapkan kamar untuk istirahat." Ucap nyonya William meminta Zian untuk masuk.
Pemuda itu mengangguk seraya mengukir senyum tipis di bibirnya. "Baik, Bibi."
Keempatnya lalu berjalan beriringan memasuki Mansion mewah yang memiliki tiga lantai tersebut. Zian dan Nara berjalan mengekor di belakang nyonya dan tuan William.
Mereka akan membahas rencana pernikahan Nara dan Zian esok hari. Hari sudah larut malam ditambah lagi Nara dan Zian yang baru saja menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan. Dan kedatangan Zian di sana disambut baik dan hangat oleh orang tua Nara.
-
-
Dua hari Nara tidak masuk bekerja. Gadis itu mengambil cuti selama beberapa hari untuk kepentingan pribadi. Dan selama Nara tidak masuk bekerja, Devan merasa ada yang kosong dan hilang. Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan kehadirannya.
Akan tetapi dia mencoba membiasakan diri tanpa kehadirannya, karena cepat atau lambat Nara juga akan pergi sejauh mungkin dari hidupnya.
Dokter muda nan tampan itu baru saja selesai memeriksa pasiennya. Dia hendak kembali ke ruang kerjanya, namun langkahnya terhenti saat tanpa sengaja berpapasan dengan teman semasa kuliahnya dulu.
Sontak yang dipanggil menoleh dan menghentikan langkahnya. Gadis dengan mata indah itu menghampiri Devan. "Kau Devan, kan?" Ara berkata ragu. Devan mengangguk. "Astaga, tidak disangka kita bertemu lagi. Bagaimana kabarmu?" Tanya Ara memastikan.
"Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Bagaimana kalau kita cari tempat yang nyaman untuk mengobrol?" Usul Devan.
"Bagaimana kalau saat jam makan siang saja. Kita makan siang sama-sama. Aku masih ada perlu dengan kepala rumah sakit ini." Ucap Ara. Devan mengangguk, mengiyakan usulan Ara.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Devan. Ara tersenyum dan melenggang pergi.
Kemudian keduanya berpisah dan berjalan berlawanan arah. Devan kembali ke ruangannya, sedangkan Ara pergi ke ruang kepala rumah sakit. Rencananya Ara akan bergabung dengan rumah sakit ini.
-
__ADS_1
-
Zian menghampiri Nara di kamarnya. Kamar mereka bersebelahan, jadi Zian bisa leluasa untuk menemui gadis itu kapan saja. Nara sedang berdiri di balkon kamarnya ketika Zian masuk ke dalam.
Nara menoleh, melirik Zian dari ekor matanya. Pemuda itu berjalan menghampirinya. "Kau belum tidur?" Tegur Nara setibanya Zian di tempatnya.
"Aku tidak terbiasa tidur di jam segini. Lalu kenapa kau sendiri belum tidur?" Zian balik bertanya.
"Bintang, aku masih ingat menikmatinya. Kau lihat saja langit malam ini, bukankah malam ini sangat cerah dan bersahabat." Ucap Nara, pandangannya bergulir pada pemuda disampingnya.
Zian mengangguk. "Ya," jawabnya singkat.
Setelah obrolan singkat itu. Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka, Zian dan Nara sama-sama diam dalam keheningan.
Zian menoleh, Nara menyandarkan kepalanya pada bahu kanannya.
Sejak kecil Nara memang paling suka melihat bintang. Hampir setiap malam Nara selalu memandangi langit malam yang dipenuhi bintang. Ia akan membuka jendela kamarnya, menatap langit tanpa bosan.
"Apa yang membuatmu sangat menyukai bintang dan langit malam?" Tanya Zian memecah keheningan.
Nara menutup matanya. "Bintang itu penuh harapan. Kau pasti tau rumor tentang bintang jatuh, kan? Bintang jatuh yang katanya bisa mengabulkan satu permohonan. Kalau aku lebih suka bikin perumpamaan 'satu bintang untuk satu harapan.' Menitipkan satu harapan kita pada bintang, sementara kita berusaha mewujudkan harapan itu. Membiarkan bintang itu menjaga harapan kita, sampai suatu saat kita mengambil harapan itu kembali." Jawab Nara panjang lebar.
Ia kembali menghadap langit di atas sana, memandang sebuah bintang yang berpijar paling terang diatas sana. Nara sedang menunggu bintang jatuh, akan tetapi dia tidak pernah beruntung dan menemukannya. Padahal dia sering menunggu sampai lewat tengah malam, sayangnya keberuntungan itu tak pernah datang padanya. Sampai akhirnya...
"Zian, ada bintang jatuh!!" seru Nara dengan hebohnya.
Gadis itu menautkan kedua tangannya di depan dada sambil menutup rapat-rapat matanya. Nara ingin membuktikan sendiri jika bintang memang bisa mengabulkan permohonannya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.