Pengantin Palsu Sang Mafia

Pengantin Palsu Sang Mafia
Bab 22: Galau


__ADS_3

"Apa?! Mengajakmu menikah?!"


Devan tak bisa menahan keterkejutannya setelah mendengar apa yang baru saja Nara katakan. Dengan gamblang gadis itu mengatakan jika Zian mengajaknya menikah, rasanya Devan tak percaya. Zian yang selama ini suka bermain-main dengan banyak wanita, tiba-tiba mengajak seorang gadis untuk menikah.


Nara menjatuhkan kepalanya pada lipatan lengannya diatas meja. Kepalanya terkulai dengan posisi miring ke kanan menghadap Devan.


"Senior, aku harus bagaimana? Jika aku setuju, itu artinya statusku bukan lagi single melainkan istri orang. Jika aku menolak, semua teman-temanku sudah pada tau karena Zian mengumumkan jika bulan depan kami akan melakukan resepsi. Aku benar-benar galau berat," ujar Nara yang terdengar begitu frustasi.


Devan mengambil napas panjang dan menghelanya. "Aku tidak bisa memberimu masukan apa-apa. Semua keputusan ada ditangan mu. Kau yang menjalaninya, jadi kau yang lebih tau. Apakah itu yang terbaik untukmu atau bukan. Jalani saja seperti air mengalir dan ikuti arusnya."


"Baiklah, aku mengerti. Ya sudah, aku mau bekerja dulu."


Devan mendesah berat. Sepanjang dia mengenal Nara, ini pertama kalinya Devan melihat dia segalau itu. Dan hebatnya lagi, orang yang berhasil membuatnya galau adalah adiknya sendiri.


Sepertinya Devan memang harus berhenti berharap untuk mendapatkan cinta Nara. Karena hati dan cinta Nara sudah terikat pada orang lain.


-


Tiffany menolak untuk pergi meninggalkan kediaman Zian. Padahal dia sudah diusir keluar oleh Alex dan Jimin. Bahkan mereka berdua sampai frustasi karena wanita itu. Tiffany datang dengan membawa sebuah koper besar, dia bersikukuh ingin tinggal dan menetap.


Menurut Tiffany, hanya dia satu-satunya wanita yang paling layak ada disisi Zian. Meskipun Zian tidak pernah menyukainya apalagi menganggapnya sebagai tunangannya, akan tetapi Tiffany tak pernah lelah untuk terus mengejarnya.


"Sebaiknya kau pulang saja, sampai kapan mau menunggu Zian? Dia belum pasti pulangnya kapan," Alex menghampiri Tiffany dan memintanya untuk pulang.


"Tidak mau!! Apa kau tidak melihat koper yang aku bawa ini?! Mulai hari ini dan seterusnya aku akan tinggal disini sebagai Nyonya besar!!" Jawabnya menegaskan.


"Memangnya siapa yang memberimu ijin untuk melakukannya?!" Sahut Zian dari arah pintu.


Sontak Tiffany menoleh lalu menghampiri pemuda itu. "Zian, lihatlah apa yang dia lakukan padaku. Dia menindasku, kau harus bersikap tegas padanya. Aku kan calon istrimu, tapi dia melarangku untuk tinggal disini." Ujar Tiffany mencoba mencari simpati dari Zian.


Zian menyentak tangan Tiffany dan menatapnya tajam. "Memangnya siapa yang memberimu ijin untuk tinggal disini?"

__ADS_1


"Daddy, dia bilang aku harus tinggal denganmu karena bulan depan kita akan menikah. Begitu yang Daddy katakan padaku."


"Daddy-mu bermimpi terlalu tinggi. Jika dia begitu terobsesi memiliki menantu sepertiku, sebaiknya suruh dia cepat bangun dari tidur panjangnya dan kasih tau jika bermimpi jangan terlalu tinggi. Karena jika jatuh itu sakit rasanya."


"Zian, kenapa kau bicara begitu? Daddy-ku sangat peduli pada kita. Dia ingin supaya kau bahagia dan menemukan pasangan yang tepat. Tapi kenapa kau tidak bisa menghargai niat baiknya sama sekali?"


"Aku tidak peduli. Lagipula hubunganku dengan Ayahmu tidaklah sedekat itu. Ge, seret wanita ini keluar dari sini dan jangan ijinkan dia datang lagi!!" Perintah Zian dan pergi begitu saja.


Dengan senang hati Alex menyeret Tiffany keluar. Dia memang tidak pernah suka dengan keberadaan wanita itu. Lagipula wanita seperti Tiffany tidak cocok sama sekali bersanding dengan Zian.


-


-


Nara terlonjak kaget karena suara dering pada ponselnya. Baru saja gadis itu hendak menyantap makan siangnya, tapi sudah ada gangguan dari mahluk menyebalkan yang sudah berhasil membuat Nara galau setengah mati.


Dengan kesal, Nara menerima panggilan tersebut. "Ha~"


"Tapi~"


"Lima menit!! Jika kau tidak tiba dalam lima menit, aku akan naik dan menghukummu!!" Ucap orang itu menyela ucapan Nara.


"Ta~" panggilan itu terputus begitu saja. "Yak!! Dasar iblis menyebalkan, kenapa aku harus terikat dengan orang sepertimu sih!!" Teriak Nara memaki ponselnya.


Gadis itu menghela napas panjang. Nara meninggalkan ruang kerjanya dan bergegas turun menuju parkiran. Tak lupa dia membawa makan siangnya juga. Dia tidak mau mati kelaparan karena karena ulah Zian yang menurutnya sangat-sangat menyebalkan.


Nara berlari sambil sesekali melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Sudah tiga menit lebih 46 detik, artinya hanya tersisa 1 menit 14 detik lagi. Ia harus bergegas untuk sampai dipikiran.


Dari kejauhan Nara melihat seorang pemuda yang sedang bersandar pada sebuah mobil sport mewah sambil menghisap sebatang rokok yang diapit jari-jarinya. Nara menghampiri pemuda tersebut yang pastinya adalah Zian.


"Lima menit lebih tiga detik!!" Ucap Zian menyampaikan waktu yang Nara tempuh untuk tiba di parkiran.

__ADS_1


"Jangan keterlaluan, Zian Lu!! Aku sudah berlari sampai napasku mau habis, dan sekarang kau malah~"


Brakk...


Nara tak melanjutkan ucapannya dan kotak makan siangnya terlepas begitu saja dari genggamannya saat ia merasakan sebuah benda lunak dan basah menyentuh dan menyapu permukaan bibirnya.


Kedua mata Nara membulat sempurna, sepasang biner matanya yang terbuka lebar menatap langsung ke dalam sepasang mutiara milik pemuda yang saat ini sedang menciumnya. Ya, Zian menciumnya...tepat di-bibirnya. Namun ciuman itu berlangsung kurang dari tiga puluh detik.


"I..Itu ciuman pertamaku." Ucap Nara sesaat setelah Zian melepaskan tautan bibirnya.


"Dan ini akan menjadi ciuman keduamu!!" Ucap Zian dan kembali mencium bibir Nara seperti tadi. Dan ciuman kali ini durasinya lebih panjang dan lebih lama dari ciuman mereka sebelumnya.


Dan Zian baru mengakhiri ciuman sepihak itu satu menit kemudian. "Dan mulai hari ini, aku akan terus mengambil ciuman ketigamu, keempatmu sampai ciuman keseribumu. Ayo, aku bawa kau makan siang." Ucap Zian lalu membukakan pintu mobilnya untuk Nara.


Tujuan Zian datang ke rumah sakit adalah untuk mengajak Nara makan siang. Devan menghubunginya jika Nara belum sempat makan siang dan dia hanya memakan sandwich sebagai makan siangnya. Itulah kenapa Zian datang menjemputnya.


.


.


Zian menghentikan mobil mewahnya di halaman luas sebuah restoran mewah yang terletak di jantung kota. Sebuah restoran Eropa yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang berdompet tebal saja.


Nara menatap restoran tersebut lalu bergulir pada Zian. "Apa tidak sebaiknya makan di cafe saja. Makanan disini terlalu mahal, sangat-sangat mahal malah." Ucap Nara sambil mengunci pandangan pemuda itu.


"Hanya sesekali saja, aku rasa tidak masalah. Toh aku juga belum pernah membawamu makan di tempat ini. Ayo masuk, aku sudah memesan tempat untuk kita berdua." Ucap Zian lalu menggenggam tangan Nara.


Gadis itu tak sedikitpun meloloskan sedikit pun pandangannya dari tangannya yang digenggam oleh Zian. Sudut bibirnya tertarik keatas. Entah kenapa hati Nara berbunga-bunga hanya dengan tangannya di genggam oleh Zian begini.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2