Pengasuh Tuan Muda Arrogant

Pengasuh Tuan Muda Arrogant
Bab 1


__ADS_3

Suatu hari sebuah rumah makan kecil terlihat begitu ramai, suara keributan para pengunjung memenuhi ruangan rumah makan tersebut.


Wanita separuh baya menyiapkan semua pesanan pengunjung, dan putrinya melayani setiap pengunjung yang datang dengan mencatat pesanan yang akan mereka makan.


Keramaian rumah makan membuat mereka kecapean, setelah pengunjung meninggalkan rumah makan, mereka menutup dengan menempelkan sesuatu di depan pintu. malam sudah begitu larut namun Zakia masih membersihkan rumah makan milik ibunya. sedangkan ibunya sudah pergi beristirahat karna tidak mampu lagi untuk berdiri.


Zakia duduk dengan menuangkan bir di gelasnya untuk di minumnya. ia mengingat ibunya yang tidak sengaja ia lihat siang tadi.


Zakia memiliki mimpi yang begitu menakjubkan yaitu ingin melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi dengan bercita-cita ingin menjadi seorang dokter namun semua cita-citanya terhalang oleh ekonomi.


Zakia mengurungkan semua impiannya dan beralih impiannya sekarang adalah kebahagian ibunya. Zakia akan melakukan semua demi ibunya adiknya. dalam pikiran Zakia ibunya dan adiknya adalah yang paling utama dari semua keinginannya. Sekarang Zakia menjadikan tujuan utamanya yaitu kebahagian ibunya dan Zio adiknya.


Selain membantu ibunya mengurus rumah makan kecil yang ayahnya tinggalkan, Zakia melakukan beberapa pekerjaan paruh di luar yang tanpa di ketahui oleh ibunya.


Zakia harus membiayai sekolah adiknya yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah dasar (SD). dengan semua pekerjaan yang Zakia lakukan, ia sesekali mengunci dirinya di dalam kamarnya dengan memeluk guling sambil menangis menceritakan apa yang ia lalui, bahkan Zakia mengatakan kalau dirinya tak sanggup lagi harus melakukannya. namun demi sang ibu dan adiknya Zakia mencoba tegar dan kuat.


Pagi ini Zio menemui Zakia dan mengatakan kalau ia harus membeli buku pelajaran seperti yang gurunya pesankan.


"Kak Kia,..! Zio mau beli buku dan buku itu akan Zio pakai Minggu depan buat belajar kak" ucap Zio adik Zakia.


Kia adalah sapaan Zakia di dalam keluarganya yaitu sapaan ibunya dan juga Zio. namun dengan banyaknya orang mengenal dengan nama Zakia bukan Kia.


"Baik, nanti sebelum harinya datang kak Kia usahain" jawab Zakia dengan berjanji ke Zio adiknya.


"Zio pamit berangkat dulu Bu" pamit Zio ke ibunya. dan pagi itu Zakia mengantar Zio ke sekolah dengan naik motor yang di belikan ayahnya waktu Zakia duduk di bangku kelas satu SMA. motor itu adalah satu-satunya kenangan ayahnya yang Zakia miliki sebelum ayahnya pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Setelah mengantarkan adiknya Zakia pergi ke tempat kerja paruhnya yaitu ke sekolah taman kanak-kanak, sebagai pengasuh anak-anak yang bersekolah di sana. Zakia bekerja menjaga mereka sampai mereka pulang dengan di jemput oleh orang tua mereka.


Zakia terlihat seperti seorang pengasuh dengan menjaga mereka, memberi mereka makan, dan pergi ke toilet. Zakia bekerja sampai pukul sepuluh setelah itu ia akan membersihkan sekolah taman kanak-kanak. setelah Zakia menyelesaikan pekerjaannya di sana, tepat pukul sebelas Zakia harus masuk kerja ke toko bunga yaitu sebagai penjaga toko bunga.


Namun dengan bekerja di toko bunga Zakia memanfaatkan waktunya di sana yaitu belajar dengan membaca buku-bukunya yang selalu ia bawah kemanapun ia pergi. menurutnya tanpa guru yang membimbingnya tidak apa-apa. Zakia merasa senang dan bersyukur ia bisa belajar sambil bekerja, mendapatkan ilmu dan juga mendapatkan uang.


Waktu sudah sore dan pekerjaannya di toko bunga telah selesai, saatnya pergantian sift dan Zakia harus ke Restoran tapi sebelum ke tempat kerja selanjutnya, Zakia menjemput adiknya di tempat Les lalu mengantarnya ke rumah.


"Kak Kia gak mampir dulu ke dalam ketemu ibu" ucap Zio


"Gak Zio, kak Kia harus pergi" jawab Zakia


Selama ini ibu Zakia mengetahui kalau Zakia belajar bersama dengan teman-temannya untuk mempersiapkan menuju ke perguruan tinggi. sehingga ibu Zakia tidak menanyakan lagi keberadaan Zakia.


Seperti biasa Zakia bekerja sebagai waiter di sebuah Restoran, dengan melayani siapapun yang datang memesan makanan ataupun minuman. Zakia sering bertemu dengan begitu banyak orang karna Restoran yang saat ini menjadi tempat kerja Zakia begitu ramai setiap hari dengan banyaknya orang yang datang. dan hanya Zakia yang bisa menghendelnya bahkan Zakia begitu cekatan dalam melayani pengunjung.


"Saya pesan satu Red Velvet " ucap salah seorang pengunjung


"Baik" jawab Zakia dengan mulai membuatkan minuman yang mereka pesan. setelah selesai Zakia memberikan minumannya.


"Terima kasih" ucap Zakia dengan sopan.


Setiap usai bekerja Zakia selalu pergi ke tempat yang selalu menjadi tempat mengeluarkan semua emosinya bahkan semua yang ada di kepalanya.


Zakia pergi ke suatu pantai, ia berdiri di sebuah dermaga dengan berteriak sekuat mungkin melepaskan semua beban yang ada di pikirannya. setelah selesai berteriak Zakia tersenyum lalu kembali ke rumahnya dengan motor yang di belikan oleh ayahnya.

__ADS_1


Pukul sembilan malam Zakia sampai di rumahnya, ia melihat rumah makan kecil ibunya terlihat sepi. Zakia masuk ke dalam dengan menyapa mereka.


"Zakia pulang, ibu masak apa hari ini?" ucap Zakia mengalihkan pikiran ibunya agar tidak terlalu sedih. Zakia masuk ke bagian dapur ia melihat sebuah makanan yang masih terlihat begitu banyak.


"Hari ini rumah makan kita sepi Kia, hanya ada beberapa pengunjung saja" ucap ibunya dengan wajah sedih


Zakia mengalihkan pandangannya ke ibunya. ia berjalan mendekati sang ibu. Zakia duduk di lantai sambil meletakan kedua tangannya di paha ibunya.


"Bu,..! semua akan ada saatnya, kita hanya perlu bersabar saja. bukankah ibu selalu bilang kalau kita harus percaya kalau rezeki itu sudah di atur sama yang maha kuasa, kita sebagai manusia hanya cukup berusaha dan berdoa saja" ucap Zakia memegang tangan ibunya.


Ibu Zakia menangis, dirinya merasa dunia ini terlalu kejam baginya. ia harus berjuang sendiri demi kedua anaknya.


"Seandainya bapakmu tidak meninggalkan kita seperti ini, pasti kalian akan hidup enak dan gak harus capek bantu ibu ngurus rumah makan kecil ini" ucap ibunya dengan mengelus rambut Zakia yang saat ini wajahnya ia letakan di atas paha ibunya.


"Semua sudah menjadi kehendaknya Bu, kita semua akan kembali kesana hanya saja siapa yang lebih dulu pergi" ucap Zakia


Zakia berdiri lalu menatap ibunya dengan mengulurkan tangannya.


"Mau apa kamu Kia, jangan aneh-aneh kamu"


"Tenang aja Bu, kita hanya perlu merilekskan pikiran kita." ucap Zakia dengan mengalihkan tatapannya ke adiknya. lalu Zakia berteriak memanggil nama adiknya.


"Zio,...! musik, waktunya kita berpesta" teriak Zakia dengan menarik tangan ibunya agar berdiri sambil mengikuti ketukan dari musiknya.


Malam itu mereka melepaskan semua beban pikiran mereka dengan cara menghibur diri. walaupun hanya di temani sebuah speaker kecil yang di colokan ke handphone sudah bisa menghibur mereka dan semua itu mereka anggap sedang berada di tempat orang-orang berduit kunjungi yaitu seperti club atau pun Bar.

__ADS_1


Beberapa menit mereka melepaskan semua yang ada dipikiran mereka, ibu Zakia dan Zio pergi istrahat, sedangkan Zakia masih membersihkan rumah makan mereka. Zakia yang menatap jualan masih banyak, tanpa ia sadari kalau malam itu air matanya keluar. Zakia memejamkan kedua matanya ia menangis dalam diam.


__ADS_2