Pengasuh Tuan Muda Arrogant

Pengasuh Tuan Muda Arrogant
Bab 16


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Zakia tetap mulai bekerja lagi, sebagai seorang yang tidak memiliki apa-apa Zakia hanya bisa menangis dan meminta maaf kepada adiknya yang saat ini terlihat begitu shok dengan kejadian semalam.


"Maafkan kak Kia. Zio. Kak kia bukanlah seorang kakak yang baik, yang bisa menjaga dan melindungi kmu dan ibu." ucap Zakia sambil menangis


"Tapi kak Kia berjanji mulai skarang kak Kia akan menjadi tembok buat kalian berdua, apapun itu Kak Kia akan melindungi kalian." Ucap Kia. Lalu ia menyeka Ir matanya dan bersiap-siap pergi bekerja.


"Mungkin saat ini mereka berpikir kalau kak Kia tidak bisa berbuat apa-apa, karna kita adalah orang miskin. tapi kak Kia janji suatu saat nanti mereka akan membayar semuanya" ucap Zakia dengan menahan tangisnya.


Keesokan paginya sebelum berangkat Zakia membuatkan makanan untuk ibunya yang saat ini sedang duduk di kursi roda. sedang Zio tak mau lagi masuk sekolah, iy ingin di rumah saja merawat ibunya.


"Zio kamu gak ke sekolah?" tanya ibunya


"Gak Bu, Zio hari ini izin mau jagain ibu" jawab Zakia cepat


Zio pun hanya diam saja setelah melihat tatapan Zakia memberitahu agar Zio diam tidak mengatakan apa-apa kepada ibu.


"Ibu jangan lupa makan yaa, Zakia udah siapkan makan siang untuk ibu di situ, nanti Zio yang akan bantu ibu" ucap Zakia sambil memegang tangan ibunya dengan berlutut di hadapan sang ibu.


Ibu Zakia menganggukkan kepalanya sambil menahan tangis mengingat putri sulungnya yang bekerja keras sedang ia hanyalah seorang ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ibu jangan sedih lagi yaa." ucap Zakia


Zakia pamit pergi namun sebelum pergi, ia menyeka air mata ibunya dan juga mencium pipi ibunya.


"Zakia pergi dulu bu, ingat jika butuh sesuatu jangan lupa kalau Zio ada di dekat ibu, atau hubungi Zakia." ucap Zakia. lalu ia pergi dengan menutup pintu rumah mereka.


*****


#Kediaman tuan Aditya.


Seperti biasa Zakia menyiapkan makanan untuk tuannya, namun setelah makanan itu matang Aditya tak mau menyentuh sedikitpun. namun Zakia mencoba membujuk Aditya.


Aditya yang terlihat begitu kesal ke Zakia. ia melemparkan makanan yang Zakia buatkan. dengan tindakan yang Zakia lakukan membuat Zakia terkejut.


"Apa yang kamu lakukan tuan?" tanya Zakia yang terkejut


"Aku tidak ingin makan, makanan dari tangan kotormu itu" ucap Aditya dengan menunjuk Zakia


"Apa kamu bilang ?! tangan kotor? jika memang tanganku kotor kenapa kamu menyuruhku untuk membuatkan makanan untuk mu selama ini" teriak Zakia marah

__ADS_1


Aditya yang melihat sikap Zakia melawannya ia terdiam, lalu ia tertawa.


"Ck, itu karna sudah jadi tugasmu sebagai pembantu di rumah ini atau pengasuh"


"Jika itu tugasku trus ini apa, kenapa kamu membuang semua makanan ini dan mengatakan tanganku kotor" ucap Zakia tak mau kalah.


"Mulai saat ini kamu tidak perlu menyiapkan makananku, dan jangan muncul di hadapanku" ucap Aditya mengingatkan Zakia


" Maksud kamu apa?" tanya Zakia. yang tiba-tiba di kejutkan dengan ucapan Aditya. Zakia tidak ingin di pecat karna ia masih memiliki tanggung jawab untuk merawat dan mengobati ibunya.


"Kenapa kamu tidak terima kalau kamu di pecat haaa, atau kamu sedih karena sumber uangmu akan hilang" ucap Aditya


Plaaakkk, Zakia menampar Aditya dengan keras.


"Tutup mulutmu Aditya, jaga ucapanmu" ucap Zakia dengan mata mulai berkaca-kaca, ucapan Aditya begitu menyakitinya.


"Beraninya kamu menamparku dengan tangan kotormu itu dan menjijikan" ucap Aditya dengan mendorong Zakia lalu ia meninggalkan Zakia.


Bertahanlah Zakia demi ibu, kamu tidak bisa mengeluh. kamu tidak boleh kehilangan pekerjaan ini, aku butuh uang demi ibu. batin Zakia yang mencoba membuang jauh-jauh harga dirinya agar tidak memikirkan apa yang Aditya ucapkan.


Jam menunjukan pukul 5 sore, tuan Bram telah sampai di kediamannya. di ruang tamu Aditya sudah menunggunya.


"Aditya minta agar papa memecat Zakia. Aditya tidak ingin dia ada di rumah ini" ucap Aditya tanpa menatap tuan Bram.


"Kenapa kamu ingin papa memecatnya Dit?"


"Papa tidak perlu tau, yang papa harus lakukan saat ini adalah memecatnya"


Tuan Bram yang mengetahui keadaan Zakia selama ini, ia tidak bisa memecatnya begitu saja sedangkan Zakia. ia tau begitu membutuhkan uang demi kesembuhan ibunya.


"Papa tidak bisa memecatnya Dit. dan papa tidak bisa mencarikanmu pengasuh lagi"


Mendengar ucapan tuan Bram. Aditya langsung menatap tuan Bram dan berdiri.


"Kenapa papa tidak bisa memecatnya?"


"Papa tidak bisa Aditya. Zakia adalah anak yang baik dan dia cocok jadi pengasuh buatmu"


"Tapi Aditya tidak menginginkannya pa, Aditya tidak mau tau pokoknya papa harus memecatnya"

__ADS_1


"Ada apa denganmu Aditya?"


"Bukan Aditya, tapi ada apa dengan papa sehingga papa tidak bisa memecatnya"


"Papa tidak bisa memecatnya karna papa punya alasan untuk itu"


"Alasan ? papa punya alasan ? alasan apa, alasan karna dia adalah simpanan papa" ucap Aditya dengan lantang.


"Tutup mulutmu Aditya" ucap tuan Bram yang hampir saya menampar Aditya


"Kenapa? papa mau nampar Aditya, tampar pa tampar " ucap Aditya dengan melawan tuan Bram


Aditya begitu marah dengan Zakia, entah apa yang Zakia lakukan sehingga Aditya begitu membencinya.


Zakia terdiam ketika tidak sengaja melihat dan mendengar pertengkaran tuan Bram dan juga Aditya hanya karna dirinya. Zakia sadar dengan sikap Aditya. Yang dari dulu pertama Zakia datang ke rumah itu memang sudah tak di harapkan oleh Aditya.


Zakia kembali ke dapur ia mulai membersihkan semua pekerjaannya bahkan pekerjaan bi inem pun ia kerjakan. Zakia pun tak kuasa menahan air matanya sehingga ia menangis dalam diam, tapi bi inem tau jelas kalau saat ini Zakia sedang menangis namun bi inem berpura-pura tidak mengetahuinya.


"Ada apa nak Kia? kenapa kamu harus mengerjakan semua pekerjaan bi inem" ucap bi inem sekali bertanya ke Zakia


Zakia yang mendengar suara bi inem, ia pun langsung menyeka air mata dan menjawab pertanyaan bi inem.


"Gak apa-apa bi, Kia hanya ingin membantu bi inem saja" ucap Zakia sambil tersenyum


"Tapi nak Kia"


"Gak apa-apa bi, Kia beneran mau bantu bibi" ucap Zakia yang terus ngotot membantu bi inem.


"Baiklah kalau itu yang nak Kia mau" ucap bibi dengan mengalah, dan membiarkan Zakia melakukannya.


Malam telah tiba, tepat pukul 9 Zkia harus segera kembali tapi sebelum kembali Zakia pergi menemui tuan Bram. Zakia mengetuk pintu ruang kerja tuan Bram. setelah mendapatkan jawaban Zakia masuk ke dalam.


Zakia menemui tuan Bram untuk pamit sekaligus berterima kasih karna sudah banyak membantu dirinya dan juga ibunya selama ini.


"Zakia mengundurkan diri tuan, pekerjaan ini tidak cocok untuk Zakia. dan Zakia juga berterima kasih atas semua kebaikan tuan selama ini, sekali lagi terima kasih tuan" ucap Zakia dengan membungkukkan tubuhnya.


"Kamu yakin mau berhenti Zakia? kalau kamu berhenti trus pengobatan ibumu bagaimana?" tanya tuan Bram. yang tidak tega jika melihat kesehatan ibunya.


"Iya tuan, Zakia sudah cukup merepotkan tuan, sudah saatnya Zakia pamit dan harus berjuang sendiri tanpa harus mengharapkan bantuan dari orang lain" ucap Zakia

__ADS_1


Tuan Bram menghela nafasnya setelah mendengar keputusan Zakia yang sudah matang, tuan Bram mengeluarkan sesuatu dari laci nakasnya. ia memberikan itu ke Zakia. awalnya Zakia menolak namun tuan Bram memaksanya dan ketika Zakia menerimanya tiba-tiba pintu terbuka. seseorang membukanya dan melihat tuan Bram memberikan amplop dan Zakia menerimanya ketika amplop itu sudah di pegang oleh Zakia betapa terkejutnya Zakia melihat seseorang yang berada di balik pintu tersebut.


__ADS_2