Pengasuh Tuan Muda Arrogant

Pengasuh Tuan Muda Arrogant
Bab 2


__ADS_3

Papa, please. Aku tidak mau papa mencarikan aku pengasuh, aku sudah besar pa! Gak seharusnya papa memperlakukan aku seperti anak kecil” ucap seorang pria bernama Aditya putra tunggal dari seorang pria yang bernama Bram Darmawan


“Cukup Aditya, kamu akan tetap ada pengasuh dan papa tidak akan membiarkanmu hidup sendiri, mengurus semua sendirian. Ingat itu” bantah tuan Bram kepada putranya bernama Aditya.


“Silahkan kalau papa bersikeras, tapi Aditya pastikan kalau yang bekerja sebagai pengasuh Aditya tidak akan bertahan dalam sebulan paling lama Pa! Bahkan Aditya akan membuatnya seminggu berhenti” Ancam Aditya kepada ayahnya.


Tuan Bram menghela nafas ketika mendengar ucapan putranya, dan semua itu setiap pengasuh yang ia bayar untuk mengurusi putranya semua berhenti sebelum sebulan, namun Tuan Bram tidak akan menyerah sampai mendapatkan pengasuh yang bisa bertahan dan mengurus putranya. Sebagai pewaris tunggal, Tuan Bram tidak ingin putranya terus menerus melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya. Sehingga Tuan Bram membayar pengasuh agar bisa menjaga putranya dan juga mengurus putranya.


“Jika sampai kamu melakukannya papa akan mengambil semua fasilitas milikmu Aditya termasuk ATM dan mobil yang papa berikan” Ancam tuan Bram kembali ke Aditya. Tuan Bram tau kalau putranya tidak bisa hidup di luar sana tanpa semua kemewahan yang ia berikan.


“Ayolah Pa,! Aditya sudah besar bukan anak kecil lagi”


“Tapi bagi papa kamu tetap putra kecil papa, dan sudah jadi tanggung jawab papa menjaga kamu” jawab Tuan Bram tegas


“Papa,....!” teriak Aditya sambil menyentakan kakinya yang gak terima dengan keputusan ayahnya.


Ketika tuan Bram keluar dari rumah menuju ke mobilnya, tiba-tiba teman Aditya datang menyapa tuan Bram.


“Selamat siang Tuan Bram” ucap salah satu teman Aditya yang bernama Edo. Dan di ikuti oleh yang lainnya sambil tertawa.


Tuan Bram tidak begitu menyukai teman-teman aditya yang setiap harinya mengajak Aditya balapan liar, mabuk-mabukan dan menyiksa orang yang lemah. Tuan Bram tidak ingin putranya hidup sia-sia tak berguna seperti teman-temannya.


“Kita kembali ke kantor pak Didi, dan oh iya saya minta tolong ke pak Didi agar menempelkan kembali pencarian pengasuh untuk Aditya”


“Baik tuan”


Pak Didi tidak keheranan lagi dengan tuannya meminta tolong, setiap minggunya pak Didi harus menempelkan brosur di setiap-setiap tempat sesuai perintah tuan Bram.


“Kenapa lagi Bram ? Berantem dengan ayahmu?” tanya salah satu temannya bernama Sesil


“Kalian taukan gimana sifat ayahku”jawab Aditya dengan malas

__ADS_1


“Terima aja Dit, kan enak buat mainan.” Ucap Edo


“Oh iya, pengasuh lu yang kemarin masih adakan?” tanya Yoga


“Udah pergi dia, kemarin sore surat pengunduran dirinya di berikan ke ayahku” jawab Aditya.


“Gua berharap Ayah lu mendapatkan pengasuh yang lebih muda, biar enak ngerjainnya. Kalau udah tua gak asyik banget masa di kerjain dikit langsung pasrah gitu aja” Ucap Edo


“Kena karma lu, Do. baru tau rasa masa orang tua kayak gitu lu kerjain” ucap Yoga


“Buahahahaha, siapa suruh dia sok ngatur kita di sini” jawab Sesil


“Nah setuju gua, ama Sesil. Udalah yoga gak usah munafik lu juga menikmatinya kan” Ucap Edo


“Udahlah, yuk main keluar bosan gua” ucap Sesil dengan mengajak mereka main keluar


“Balapan gimana? Yang kalah harus traktir kita-kita makan” ucap Edo dengan memberikan ide yang ada di pikirannya.


“Cieee... si Sesil ngambil kesempatan meluk Aditya ”teriak Edo sambil tertawa


“Sialan lu, Edo.” Ucap Sesil dengan melepaskan pelukannya ke Aditya.


“Buahahahaha,... si Sesil nempel kayak prangko” teriak Edo lagi


“Sialan lu Edo” dengan kesal dan malu Sesil menutup wajah Edo yang sedang menyetir, sehingga mobil mereka hampir saja menabrak pohon.


“Hey, becanda jangan gini dong. Kalau kalian mau mati, mati aja sana jangan ngajak-ngajak gua” ucap Yoga panik


“Kalian kenapa sih berdua? Kita hampir saja kecelakaan” ucap Aditya dengan marah


“Sesil yang nutupin mata gua”ucap Edo dengan menyalahkan Sesil

__ADS_1


“Eehh lu yang lebih dulu bang*at” ucap Sesil marah


“Udah-udah, hari ini langsung pulang aja gak ada balap-balapan” ucap Aditya dengan pergi begitu saja


“Lu mau kemana Aditya ?” tanya Sesil dengan berteriak


“Pulang” jawab Aditya


Aditya kembali dengan taksi yang ia tumpangi, Aditya saat ini tidaklah ke rumah melainkan ke Bar untuk minum-minum sendiri.  Sedangkan Edo, dan Sesil masih berdebat dengan apa yang terjadi


“Ini semua gara-gara lu, Edo. Kalau lu nyetirnya dengan bener gak akan seperti ini” ucap Sesil


“Lu yang mulai go**ok dengan menutupi mata gua.” Ucap Edo yang gak mau mengalah


“Kalian apa-apaan sih, bukankah Aditya udah bilang sekarang waktunya balik semua yang di rencanakan batal. Dan semua ini gara-gara ulah kalian berdua tau gak sih” ucap Yoga dengan kesal


“Koq nyalahin kita berdua lu, Yoga. Bukankah lu juga naik mobil bareng kita berarti kesalahan lu juga” ucap Edo dengan nada tinggi dan mulai kesal


“Udah, udah Edo. Bukan saatnya kita berantem dan semua adalah kesalahan kita, okey?! Saatnya kita pulang” Sesil mencoba menjadi penenang di antara mereka berdua.


Edo adalah manusia yang emosian sedangkan Sesil adalah manusia yang keras kepala. Dan Yoga pria yang plin plan kadang baik kadang bikin kesal. Terutama adalah pria yang pura-pura baik padahal Yoga yang sifatnya lebih busuk dari mereka berteman. Jadi jika Yoga bersifat baik semua itu hanyalah kepura-puraannya.


Aditya memesan beberapa minuman beralkohol, saat ini sedang duduk sendirian dan beberapa wanita mendekatinya namun Aditya menolaknya.


“Ada yang bisa di bantu ganteng” ucap seorang wanita yang berada di bar dengan menggunakan pakaian agak sedikit terbuka


“Maaf, aku ingin sendiri gak mau di ganggu” ucap Aditya dengan sopan agar tidak menyinggung perasaan wanita itu.”


Bar adalah tempat sensitif bagi pengunjung untuk mendapatkan masalah, jika tak menjaga sikap akan kembali dengan membawah luka parah di wajah.


Dari jauh seseorang mengintai Aditya, mereka adalah suruhan tuan Bram. Ia tidak ingin terjadi sesuatu ke putranya sehingga ia memerintahkan menjaga putranya kemanapun ia pergi.

__ADS_1


Aditya mulai terlihat kesal ketika mengetahui suruhan ayahnya mengikutinya. Dengan kesal Aditya pergi dari Bar. Dan kabur dari orang suruhan tuan Bram.


__ADS_2