
Sesil dengan rasa penasarannya mendekati meja makan, ia menatap mie yang ada di atas meja dan sesekali ia melirik ke pintung belakang memastikan Zakia benar-benar pergi. Dengan begitu penasaran Sesil pun mencicipi mie yang ada di atas meja. Sesil mulai memasukan mie ke dalam mulutnya, seketika matanya langsung melotot, wajah sudah mulai memerah. Dengan tidak tertahankan lagi Sesil menumpahkan semua mie yang ada di mulutnya ke wastafel.
Sesil mengambil air minum dan meminumnya namun tidak menghilangkan rasa pedes di mulutnya.
“Sialan Lu Zakia” teriak Sesil dengan mengipaskan tangannya ke arah mulutnya sendiri.
Zakia yang sedari tadi berdiri dengan mengintip Sesil di balik tembok tertawa ketika melihat Sesil kepedesan.
“Emang enak” ucap Zakia dengan menahan tawa, namun Zakia mengatur nafas dan berjalan depan pelan ke arah Sesil.
“Kamu sedang apa di sini? “ tanya Zakia dengan berpura-pura tidak tau.
“kamu sengaja kan melakukannya?” ucap Sesil nada kesal
“Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan Nona”
“Halaaahh, kamu sengaja kan. Dasar wanita miskin” ucap Sesil dengan menghina Zakia. Namun Zakia hanya tertawa ia sengaja menertawakan wajah Sesil yang terlihat merah.
Mendengar keributan Aditya dan Edo bergegas pergi ke dapur. Sesampainya di dapur Edo tertawa lepas, ia tidak bisa menahan tawanya ketika melihat wajah Sesil. Bibir Sesil memerah dan mulai terlihat membengkak.
“Buahahahaha!! Lu kenapa Sil? Wajah lu lucu skali, sebentar gua ambil handphone gua dulu”ucap Edo dengan tertawa lepas
Cekrek... bunyi handphone Edo yang baru saja mengambil gambar wajah Sesil.
“Lu ngapain Njrit” ucap Sesil dengan kesal sambil merampas handphone Edo dari tangan Edo.
__ADS_1
“Lihat Dit wajah Sesil lucu banget” ucap Edo dengan memandang gambar Sesil yang ada di handphonenya yang baru saja ia ambil.
Aditya pun menahan tawa ketika melihat wajah Sesil. Melihat Aditya menahan tawa Sesil pun menatap Aditya dengan tatapan kesal. Lalu mengalihkan tatapannya ke arah Zakia.
“Ini semua gara-gara lu” ucap Sesil marah
“Gara-gara aku? Memangnya aku buat salah apa ke kamu Sil?” tanya Zakia dengan menatap Sesil
“Ini semua gara-gara lu, liat wajah gue, bibir gue. Lu iri kan dengan kecantikan yang gua miliki kan? Jujur aja lu” ucap Sesil dengan marah
“Aku iri sama kamu? Memangnya ada untungnya buat aku ? aku rasa gak ada deh karna wajahmu itu gak cantik-cantik amat” ucap Zakia. Lalu ia meninggalkan Sesil yang tengah berdiri.
Aditya menatap Zakia sambil tersenyum tipis ketika melihat ketangguhan yang Zakia miliki, Aditya begitu bangga dengan Zakia yang pemberani.
Sesil yang mendengar Edo terus tertawa tanpa henti membuatnya begitu kesal “Puas lu ngetawain gua terus, lu gak setia kawan Edo gua di hina di depan lu, tapi lu mala tertawa seperti itu, dan lu Dit. gua kecewa sama lu gak ada sedikitpun lu belain gua” ucap Sesil dengan pergi meninggalkan Aditya dan Edo.
“Dasar brengsek” ucap Sesil kesal lalu pergi.
Di ruangan belakang Zakia sedang duduk sambil melihat bi Inem sedang menjemur pakaian. Mereka saling berbicara satu sama lain, Zakia yang sudah menganggap Bi inem seperti ibu kandungnya sering kali ia bermanja ke bi inem, dan bi inem pun begitu menyayangi Zakia.
Bi inem sesekali menatap ke arah Zakia yang terlihat begitu lusuh, ia tau kalau saat ini Zakia sedang memikul beban yang begitu berat, dan ia pun bisa melihat kalau Zakia sedang memikirkan sesuatu namun bi inem tidak ingin menanyakannya ia menghargai kehidupan pribadi Zakia. Sebagai seorang ibu bi inem tidak tega melihat Zakia memikul beban yang begitu berat di tengah usianya yang begitu muda. Zakia yang seharusnya dengan umur seperti itu menikmati masa-masa remajanhya di bangku kuliah namun keadaan tak mengizinkan Zakia menikmati masa remajanya saat ini.
“Nak Kia” panggil bi inem dengan menyadarkan Zakia dari lamunannya.
“Ada apa bi?” tanya Zakia setelah sadar dari lamunannya.
__ADS_1
“Tuan Aditya memanggil”
“Oh iya bi, Zakia ke dalam dulu” pamit Zakia dengan tersenyum
Zakia bergegs masuk ke dalam menemui Aditya. Dari jauh Zakia melihat kalau Aditya sedang menatapnya. “Ganteng sekali, tubuh kekarnya. Terima kasih ya allah telah menciptakan seseorang yang tampan dan juga bertubuh kekar” batin Zakia yang terus menatap Aditya.
Aditya yang terus memanggil-manggil Zakia namun Zakia terdiam dalam lamunanya.
“hey gadis gila, lu tuli ya.” Panggil Aditya yang tak mendapatkan respon dari Zakia. Dengan kesalnya Aditya melemparkan air ke wajah Zakia sehingga membuat wajah dan pakaiannyanya sedikit basah.
Zakia kaget dengan apa yang Aditya lakukan kepadanya. Zakia menatap dirinya sendiri dan pakaiannya yang sedikit basah. Zakia terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Namun Zakia mencoba menahan agar air matanya tidak keluar.
“Ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya Zakia dengan suara sedikit bergetar
Mendengar nada suara Zakia sedikit bergetar membuat Aditya merasa tidak enak ia merasa dirinya sudah keterlaluan terhadap Zakia. Namun agar tidak di curigai oleh Edo. Aditya tetap bersikap seperti sikapnya yang angkuh dan arogant.
"Buat aku makanan, aku lapar" perintah Aditya kepada Zakia
"Baik tuan" Zakia pun pergi ke dapur menyiapkan makan siang yang di minta tuan Aditya.
Di dapur air mata Zakia jatuh menghiasi pipi tembemnya, perlakuan Aditya membuat Zakia terkejut. "Ku tarik semua pujianku untukmu tuan jahat, kamu tidak pantas di puji" ucap Zakia dengan menyeka air matanya yang keluar. "Kamu hanya pria yang beruntung karna orang tuamu memiliki harta berlimpah, kamu hanyalah pria yang tidak berguna hanya bermodalkan uang orang tua. dan Ck, dengan bangganya dia memamerkan diri pada hal semua itu hanya milik ayahnya" ucap Zakia dengan kesal
"Dan ini apa? dengan sok nya dia melemparkan air ke wajahku, sungguh kasar sekali, ku sumpahin kamu jatuh miskin dan gak ada yang mau satu cewekpun dengan kamu tuan Aditya angkuh, ya kecuali si Sesil aku setuju kan mereka sama-sama tak berguna di dunia ini" ucap Zakia lagi sambil memasak lalu ia tertawa
"Kamu hebat Zakia. Doamu keren, siapa dulu dong Zakia" ucap Zakia dengan memuji dirinya sendiri dan di barengi tertawa bangga.
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamar Aditya terus memikirkan apa yang ia lakukan ke Zakia tadi benar-benar sudah keterlaluan. Aditya terus memikirkan bagaimana perasaan Zakia saat ini ia berharap kalau Zakia tidak menganggapnya serius dengan tindakannya melemparkan air ke wajah Zakia.