
Zakia mengantarkan makanan ke kamar Aditya.
“ini makanannya tuan” ucap Zakia dengan meletakannya di atas meja dan mempersilahkan Aditya dan juga Edo.
Aditya hanya diam saja dengan diam-diam mencuri pandang ke Zakia.
“Waww!! Kelihatannya makanannya enak” ucap Edo dengan mulai menyendok makanan ke piring miliknya.
“Jika sudah tidak ada lagi yang anda butuhkan tuan, saya permisi kembali ke dapur
“Ya sudah pergi sana” ucap Edo dengan menyuruh Zakia pergi. Sedangkan Aditya hanya diam saja ketika melihat mata sembab Zakia.
Zakia menangis sesegukan di pundak bi inem, ia tidak bisa memendung air matanya.
“Ada apa ?” tanya bi inem kebingunan melihat sikap Zakia yang tiba-tiba menangis.
“Gak apa-apa bi” jawab Zakia dengan menyeka air matanya
“Cerita sama bibi” ucap bi inem dengan menarik tangan Zakia agar duduk bersama dengannya.
“Nanti aja bi, Zakia mau kerja dulu” ucap Zakia dengan berdiri sambil tersenyum menatap bi inem.
Setelah Zakia pergi bi inem terus menatap Zakia dari jauh.
“Semoga kamu selalu bahagia nak, bibi tau apa yang kamu rasakan saat ini” ucap bi inem yang terus menatap punggung Zakia.
Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, sudah saatnya Zakia pulang karna pekerjaannya telah selesai. Zakia keluar dengan melewati taman. Dari jauh di balik jendela kamar yang ada di lantai dua seseorang sedang memperhatikan Zakia berjalan, siapa lagi kalau bukan tuan muda yang begitu sombong.
Dalam perjalanan Zakia melihat beberapa orang siswa yang berkeliaran di jalanan dengan masih menggunakan pakaian sekolah di jam malam.
“Bukannya belajar baik-baik malah keluyuran seperti ini, dasar anak zaman skarang apalagi anak orang kaya memang beda” ucap Zakia dengan menatap mereka lalu berbalik dan berjalan. Ketika Zakia berbalik ia merasa ada sesuatu yang aneh yaitu melihat seseorang yang ia kenal.
Setelah mengingat ternyata orang yang ia lihat itu seperti adiknya, dengan cepat Zakia berbalik dan benar itu adalah adiknya Zio. Namun ia terkejut melihat adiknya di dorong ke tengah jalan dengan salah satu mobil melaju dengan kecepatan.
Zio terlihat begitu ketakutan, ia menangis sambil memohon-mohon ampun namun teman-temannya terus mendorong Zio ke tengah jalan, mereka menikmati dengan melihat Zio yang ketakutan.
Zakia berlari ke arah adiknya dengan terus menyebut nama Zio. Dengan tak tertahan lagi Zakia memanggil Zio.
“Zio....!!!!” panggil Zakia dengan berlari
Zio yang mendengar suara kakaknya, ia pun menengok ke arah Zakia.
__ADS_1
“Kak Kia..!” ucap Zio lalu ia tersenyum senang akhirnya kakaknya datang. Zio berfikir kalau dirinya akan berakhir di tengah jalan dengan di lindas mobil dan itu akan menjadi pertemuan terakhir dirinya dengan kakaknya.
Zakia terkejut melihat adiknya yang melayang sambil melemparkan senyuman kepadanya.
“Zio....!!!!!” teriak Zakia ketika melihat adiknya tergeletak di jalanan. Ia berlari sambil menangis dan mengangkat kepala adiknya ke pangkuannya.
“Zio..!!” panggil Zakia dengan suara bergetar sambil menangis.
“Maafin Zio kak” ucap Zio dengan suara terbata lalu mulutnya mengeluarkan darah segar.
Zakia menangis sesegukan sambil menatap wajah adiknya. Tubuhnya terus bergetar melihat keadaan adiknya.
Tiba-tiba Zakia terbangun dari lamunannya dengan bunyi truk, ia sadar kalau semua itu hanya hayalan,
Zio berfikir kalau dirinya akan berakhir di tengah jalan dengan di lindas mobil dan itu akan menjadi pertemuan terakhir dirinya dengan kakaknya.namun siapa sangka ternyata itu hanyalah ilusi Zio.
Zakia bangun dari lamunannya, ia berlari menuju ke arah Zio. Langkah Zakia semakin cepat berlari ketika mendengar suara mobil truk yang menuju ke arah adiknya. dengan cepat Zakia menyelamatkan adiknya walaupun tangannya terasa sakit.
"Kamu gak apa-apa dek" tanya Zakia sambil menatap adiknya yang berada di sampingnya.
"Kak Kia..!!! panggil Zio dengan menangis sambil memeluk Zakia.
Siswa-siswa yang merencanakan untuk membunuh Zio. Mereka terlihat ketakutan karna ada saksi yang melihat ulah mereka bertiga.
"Aku bilang dia, dia mungkin melihat kita tapi dia gak punya bukti, tenang saja mereka tidak bisa melaporkan kita, kita kan masih di bawah umur" ucap Raka pemimpin genk mereka.
Raka dan teman-temannya bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Polisi pun datang dan ambulance, polisi mengamankan mobil yang menabrak Zio. Dalam perjalanan menuju rumah sakit Zio tak sadarkan diri ia masih shok dengan apa yang terjadi, sedangkan Zakia masih meringis dengan tangannya yang sakit.
*****
Di tempat lain gerombolan siswa terlihat ketakutan dan mereka saling menyalahkan satu sama lain atas gagalnya rencana mereka membunuh siswa yang mereka bully.
“Aku gak mau masuk penjara” ucap salah satu siswa
“Bukan aku yang mendorongnya, bukan aku” ucap siswa satunya
“Kami hanya menerima perintah dari kamu Raka. Kami hanya mengikutimu”
“Diam kalian semua” teriak Raka selaku ketua genk di sekolahnya.
__ADS_1
Semua terdiam mendengar suara Raka.
“Kalian harus ingat dia sendiri pergi ke tengah jalan, kita sudah menghalangi dia namun dia sendiri yang mau ke tengah jalan, ingat itu oke,bukan kita yang mendorongnya tapi dia sendiri yang mau di tabrak oleh truk itu. kalian pahamkan?” ucap Raka
“Tapi Raka”
Raka menatap salah satu temannya yang terus mengoceh menyalahkan dirinya.
“Kamu mau ikut denganku atau tidak, kalau tidak kamu bisa datang ke kantor polisi dan mengaku kamu yang mendorong dia ke tengah jalan sehingga dia hampir tertabrak”
“Gak Raka aku gak mau di penjara” ucap salah satu siswa sambil menggelengkan kepalanya.
“kalau kamu gak mau, kamu harus diam”
Seseorang yang sedang menyetir menatap Raka dan juga teman-temannya.
“Koq kalian gagal sih membunuh anak itu, berarti sampah di sekolah kalian belum hilang dong” ucap wanita yang sedang menyetir tak lain adalah kakak Raka sendiri.
“Gak usah di pikirin Raka. kan masih ada waktu buat ngerjain dia atau membunuh teman kalian itu" ucap sesil.
Setibanya di rumah sakit Zakia mencoba menyembunyikan apa yang terjadi kepada sang ibu, ia tidak mau sakit ibunya semakin parah karna ibunya baru saja sadar.
Zakia mendampingi Zio sampai ke ruang rawat saat ini Zio di berikan oksigen.
"Bagaimana dengan adik saya dok?" tanya Zakia
Dokter itu menatap Zakia dengan tatapan tak terbacakan, dia adalah salah satu dokter yang terbilang muda di rumah sakit. dan dia juga adalah dokter yang selalu memeriksa ibu Zakia.
"Berikan tanganmu" ucap Dokter yang bernama Reno.
"Bagaimana keadaan adikku dok?" tanya Zakia lagi.
Dokter Reno menghela nafasnya melihat sikap keras kepala Zakia.
"Berikan tanganmu biar ku periksa" ucap dokter Reno dengan meraih tangan Zakia.
Zakia meringis seolah tangannya begitu sakit.
"Aauuu.. pelan-pelan Dok"
"Kamu diam, biarkan aku yang mengobati tanganmu,dan Zio dia baik-baik saja kamu tidak perlu khawatir" ucap Reno
__ADS_1
Mendengar perkataan dokter Reno. Zakia lega kalau adiknya tidak apa-apa.