
Ellen merasa tubuhnya menghangat setelah memeluk Draco, mereka bersender di sebuah pohon.
"Drac, apa pahamu masih sakit?" tanya Ellen perhatian.
Draco yang memejamkan matanya, membukanya perlahan.
"Aku bisa menahannya," jawab Draco kemudian.
Ellen mengelus dada Draco dengan lembut. "Apa kau tidak mau tahu tentang aku? Kenapa kau tidak bertanya apapun?"
"Kalau aku mau, aku bisa meminta Kerel untuk mencari informasi tentang dirimu," sahut Draco seraya memejamkan matanya lagi.
"Padahal kau bisa bertanya langsung padaku," ucap Ellen.
Ellen semakin merasa kedinginan jadi dia semakin memeluk Draco dengan erat. "Aku menyukai tubuhmu!"
Sementara Rara ingin terus menjauh saat Kerel memeluknya. Dia tidak nyaman apalagi karena lelaki itu dia mengalami perundungan.
"Mulai sekarang aku akan melindungimu jadi tetaplah bersamaku, kau bukan budak lagi," bujuk Kerel.
Rara tidak bisa menjawab, dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Dan tiba-tiba tangan Kerel mengusap bibirnya itu.
__ADS_1
"Jangan terus menggigitnya, bukankah itu tugasku?" Kerel mencium bibir Rara dengan lembut.
Awalnya Rara menolak, Kerel selalu saja mencuri kesempatan. Tapi Kerel terus merayunya, permainan lidah lelaki itu membuatnya terhanyut yang membuat Rara tanpa sadar membuka mulut dan membalas ciuman Kerel.
"Cih!" Freya yang melihat kedua pasangan itu berdecih, dia berdiri dan berjalan menjauh dari rombongan.
Pada saat itu, Eros tengah memeluk Ruzel supaya bocah itu tidur. Tapi saat melihat Freya yang menjauh, Eros mengikuti Freya dari belakang.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Freya saat sadar ada seseorang yang mengikutinya.
"Aku kira kau akan kabur, kau pasti akan tersesat nanti," jawab Eros yang akhirnya menampakkan diri.
Freya membalik badannya. "Aku mendengar suara air, aku rasa itu sungai, aku ingin buang air kecil!"
Dan benar kata Freya, ada sebuah sungai di dalam hutan itu. Mereka hanya dibantu oleh pencahayaan bulan.
"Aku akan buang air kecil dibalik batu," ucap Freya.
Freya berjalan ke arah batu yang dia maksud kemudian membuka celananya dan melepaskan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.
"Argh!" Freya berteriak karena dia merasa ada sesuatu yang menyentuh bokongnya. Dia berlari dan menubruk badan besar Eros.
__ADS_1
"Aku rasa ada ikan yang mematukku," ucap Freya.
Eros terkekeh, Freya yang sebelumnya angkuh ternyata ada yang ditakutinya juga.
"Sebaiknya kita cepat menjauh," ucap Eros.
Mereka duduk di tepi sungai karena tidak bisa memejamkan mata.
"Aku penasaran dengan satu hal, kenapa kau bisa berpikir jika sudah menghabiskan malam dengan king Draco?" tanya Eros to the point.
"Karena aku memang merasa seperti itu," jawab Freya ketus. Dia memang merasa basah keesokan paginya tapi anehnya dia tidak merasakan sakit karena memang jika malam itu dia berhubungan dengan Draco, itu adalah pengalaman pertamanya.
Freya berpikir tidak merasa sakit mungkin karena selaput daranya sudah pecah saat dia sering berkuda atau latihan keras yang diberikan oleh Robert.
"Apa sebenarnya tujuanmu masuk ke De Servant? Apa hanya untuk menggulingkan king Draco?" tanya Eros lebih jauh lagi.
"Ya, tujuan Robert dari dulu memang untuk menduduki posisi king De Servant, dia ingin menguasai dunia bawah tanah dan banyak orang yang tunduk di bawah kakinya," jelas Freya.
"Tapi..." Freya menghembuskan nafasnya kasar. "Aku tidak menyangka jika Robert akan menjadikan aku pion utama! Menculikku dari bayi dan membesarkanku dengan keras, setelah itu dia menikahkan aku dengan saudaraku sendiri!"
"Aku sangat ingin membunuhnya sekarang!"
__ADS_1
Eros menganggukkan kepalanya. "Sepertinya banyak yang menginginkan nyawa Robert, sebenarnya aku mempunyai rencana!"