Penggoda King Mafia

Penggoda King Mafia
PKM BAB 69 - Merebut


__ADS_3

Ellen melihat kepergian Rara dan Ruzel melewati jalan rahasia. Setelah mereka benar-benar hilang, Ellen akan menyusul untuk pergi ke stadion sesuai perintah Draco.


"Apa rencana king sebenarnya?" gumam Ellen. Dia tidak mau berpikir lebih jauh, sebaiknya Ellen bergegas pergi.


Ellen tidak menyadari jika sedari tadi Draco tengah memperhatikannya. Sebenarnya Draco sengaja menjauhkan Ellen supaya pengantin dan bayinya selamat.


"Apa kau sudah siap?" tanya Kerel yang mengalihkan atensi Draco.


Draco mengangguk. "Ayo kita akhiri semua ini!"


Lalu Draco bergabung dengan Eros dan Freya. Kedua orang itu tampak kewalahan karena sesuatu.


"Ada apa?" tanya Draco.


"Sambungan dengan Loyd terputus," jawab Eros.


Draco mendengus, dia sudah menduga cepat atau lambat Loyd pasti akan ketahuan juga.


"Kalau begitu, kita ubah rencana. Kita akan masuk melalui gerbang utama!" perintah Draco.


"Itu sungguh nekat, Brother," komentar Freya.


"Apa kau takut, Sister?" tanya Draco dengan tersenyum miring.

__ADS_1


"Tidak sama sekali. Ayo bergerak!" Freya langsung memimpin jalan mereka dan maju paling depan.


"Aku benar-benar harus memeriksa mataku!" batin Eros yang lagi-lagi melihat Freya begitu seksi.


Mereka berempat berjalan menuju gerbang utama De Servant dengan tenang. Mata mereka melirik kanan dan kiri untuk menjaga kewaspadaan.


"Apa Robert sudah menyambut kita?" gumam Kerel.


"Sepertinya begitu," sahut Draco yang melihat gerbang utama terbuka lebar.


Dan benar saja, Robert memang sudah menyambut kedatangan Draco dengan menginjak badan Loyd yang sudah babak belur.


"Selamat datang kembali, akhirnya kalian menyerahkan diri sendiri," ucap Robert yang melihat kedatangan Draco.


"Tapi, sayang sekali. Kalian akan kehilangan satu anggota kalian!" seru Robert yang semakin menekan kakinya dengan kuat.


Loyd sampai terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Hentikan!" teriak Draco geram. Kini Draco sudah sepenuhnya tidak terpengaruh dengan masa lalunya. Dia menyingkirkan jauh-jauh rasa trauma yang ada pada dirinya. Banyak nyawa yang bergantung padanya jadi Draco tidak mau menjadi lemah, dia harus menunjukkan king De Servant yang sesungguhnya.


Draco maju tanpa takut akan ditembak atau diserang.


"Rupanya kau sudah berani sekarang," cibir Robert.

__ADS_1


Robert kemudian menendang Loyd, kakinya melangkah mendekati Draco. Kedua lelaki beda usia itu saling beradu tatap dengan tajam.


"Kau pikir posisi king De Servant hanya sebatas duduk di kursi pemimpin," ucap Draco kemudian.


Draco menggeleng. "Kau salah! De Servant bukan hanya sebatas wilayah dan pemimpin dunia bawah tanah tapi kami melebihi itu, kami semua adalah keluarga tanpa istana ini kami tetap menjadi anggota De Servant!"


"Akan aku tunjukkan, apa yang aku maksud!?"


Draco memundurkan badannya, dia lalu memandangi para pasukan atau anggota De Servant yang berdiri di belakang Robert.


Pasukan yang jumlahnya ratusan itu berjejer membentuk barisan. Draco menatap mereka satu persatu.


"Aku tahu selama ini tidak memberi perhatian pada kalian semua, untuk itu aku meminta maaf," ucap Draco yang membuat semua terkesiap karena seorang Draco merendahkan dirinya untuk meminta maaf pada bawahannya.


"Mungkin ini terkesan tidak tahu diri tapi apa kalian bersedia bersamaku untuk membangun revolusi di De Servant?"


"Aku meminjam kekuatan kalian untuk itu!"


Hanya sepenggal kalimat Draco yang seperti itu bisa membuat hati para bawahannya melunak. Pasukan yang sudah dibentuk oleh Loyd sebelumnya kini berjalan dan berdiri di belakang Draco meninggalkan Robert.


"Apa-apaan ini!?" teriak Robert tidak terima.


Draco berseringai. "Apa sekarang kau sudah mengerti apa yang aku maksud, Robert Kendley?"

__ADS_1


__ADS_2