
Seorang lelaki berdiri di depan makam kedua orang tuanya. Cukup lama dia berdiri sampai hujan turun pun dia bergeming dari posisinya.
Baju yang dikenakannya kini telah basah, dia hanya memejamkan matanya menikmati hujan membasahi tubuhnya.
Tak berselang lama, dia merasakan ada seseorang mendekat dan melindunginya dari hujan dengan sebuah payung.
Lelaki itu membalikkan badannya dan mendapati perempuan yang akhir-akhir ini mengisi kekosongan dalam hidupnya.
"Kenapa kau basah-basahan begini, Drac. Aku menyusulmu kemari karena Kerel yang memberitahu keberadaanmu," ucap Ellen seraya meraih salah satu tangan Draco yang dingin.
"Ayo kita kembali!" ajaknya.
Ellen datang diantar oleh salah satu anggota Wolf Shadow. Sebelumnya Ellen memaksa Kerel untuk memberitahu keberadaan Draco.
"Aku membawa baju ganti untukmu," ucap Ellen saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Tanpa banyak bicara, Draco membuka bajunya yang basah kemudian dia memakai baju yang dibawakan Ellen.
"Biar aku lihat lukamu dulu," ucap Ellen sebelum Draco memakai celananya.
Ellen mengganti perban di paha Draco setelah dia memberi obat.
__ADS_1
"Sebaiknya luka ini diperiksa saat di rumah sakit nanti, kau sudah siap untuk melihat hasil tes DNA, 'kan?"
"Sebenarnya tanpa tes DNA pun, aku yakin Freya memang saudaramu,"
Cicit Ellen terus saja mengeluarkan suara sampai dia merasakan tangan Draco membelai rambutnya, seperti biasa Draco akan mengambil rambut Ellen untuk dia cium.
"Katakan sesuatu yang bisa membuatku yakin untuk mempertahankanmu!" pinta Draco kemudian.
Ellen menatap Draco sejenak lalu berkata. "Aku tidak akan pernah menghakimi masa lalumu, lebih baik aku berdiri di sampingmu dan membantumu memperindah masa depan!"
Mendengar itu, Draco mengeluarkan cincin Yvone yang ada di sakunya. Beruntung dia membawa cincin itu.
Draco meraih jari manis Ellen dan menyematkan cincin itu, cincin yang pas di jari pemiliknya.
Ellen memejamkan matanya, dia merasa ciuman Draco berbeda dari biasanya, bukan ciuman panas penuh gairah seperti yang biasa mereka lakukan.
"Drac..." panggil Ellen seraya menatap mata Draco kemudian dia kembali mencium lelaki itu. Ellen sampai dibuat kehabisan kata-kata.
Setelah berciuman, Draco memeluk Ellen, wanita ini adalah pengantinnya, dia harus melindunginya.
"Tidak ada yang akan menyakitimu lagi, darling," ucap Draco yang masih memeluk Ellen.
__ADS_1
Pupil mata Ellen membesar mendengar panggilan Draco padanya. Apa ini artinya Draco mulai membuka hati untuknya?
"Kau tidak menolakku menjadi pengantinmu lagi?" tanya Ellen memastikan.
"Aku tidak menolakmu hanya saja aku tidak percaya pernikahan. Kalau kau menjadi istriku pun kau akan bernasib sama seperti Freya, aku akan membuatmu membenciku dan pada akhirnya kau sendiri yang meninggalkan aku," ungkap Draco.
Ellen melepas pelukan Draco supaya dia bisa melihat wajah lelaki itu, satu tangan Ellen mengusap salah satu pipi Draco. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu!"
"Bukankah aku pernah bilang bahwa aku tidak akan pernah merubah keputusanku karena itulah jalanku menjadi Queen!"
Draco semakin mengagumi Ellen, perempuan itu memang cocok menjadi Queen. Ellen tidak pernah menggunakan air mata seperti yang Freya lakukan tapi cukup dengan Ellen menjadi dirinya sendiri.
"Lagi pula..." Ellen mengusap bagian tubuh bawah Draco. "Cicilan kita belum benar-benar lunas, bukan?"
"Kalau begitu, aku akan memberikan semua kekayaan De Servant untukmu, apa kau sanggup melunasinya darling?" tanya Draco menantang.
"Oh God! Kau sungguh licik King tapi aku menyukainya, kalau begitu caranya, aku tidak akan membutuhkan banyak baju," ucap Ellen yang sudah membayangkan akan menghabiskan waktunya untuk bercinta dengan Draco.
"Astaga, aku sampai lupa, aku kan mau jual mahal," sambung Ellen dalam hatinya.
_
__ADS_1
Kayanya lu emang gak bakat jual mahal Ell😅