Penggoda King Mafia

Penggoda King Mafia
PKM BAB 77 - Tidak Sabar


__ADS_3

Kerel keluar dari istana De Servant melalui gerbang utama, dia berjalan ke sinyal di mana Rara berada. Ternyata Rara dan para pelayan sembunyi di hutan dekat dengan lokasi di mana mereka masuk diam-diam sebelumnya.


"Rara..." panggil Kerel.


Mendengar suara suaminya, Rara keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung mencari Kerel.


"Kerel..." Rara memeluk suaminya saat melihat lelaki itu merentangkan kedua tangan. Dia sangat khawatir apalagi suara-suara dari istana begitu jelas terdengar di telinganya. "Syukurlah kau tidak apa-apa, aku mencemaskanmu!"


"Aku takut menjadi janda muda!"


Kerel tergelak, istri polosnya memang menggemaskan.


Pada saat itu matahari sudah terbit, Kerel meminta Rara dan para pelayan untuk masuk ke istana.


Saat mereka semua kembali, Eros dan anggota lainnya tengah menyambut Draco yang berjalan ke halaman istana. Mereka semua menunduk hormat pada Draco sebagai bentuk pengabdian mereka.


"Mereka semua ingin kau menjadi King mereka, Drac," komentar Ellen.


Ellen berjalan dan bergabung bersama yang lain begitu juga dengan Freya. Kedua perempuan itu ikut menunduk hormat.


Dari sini Draco belajar sesuatu yang berharga, dia akan memperhatikan semua bawahannya dan tidak akan lagi mempercayakan semua pada orang lain seperti yang dilakukan Dante sebelumnya. Draco akan memanusiakan bawahannya dan membangun kejayaan De Servant bersama-sama.

__ADS_1


Draco melihat matahari terbit dan diikuti oleh tepuk tangan dari semua orang yang ada di De Servant.


...***...


"Kau sudah pernah mengurus urusan rumah tangga istana, bukan? Tolong bereskan semuanya yang ada di dalam bersama Eros, aku akan membereskan urusan di luar yang kacau," ucap Draco pada Freya.


"Dan buang semua barang yang pernah dipakai oleh Robert walaupun itu hanya berupa sendok makan, pastikan semua barang diganti dengan yang baru," tambahnya.


"Serahkan semua padaku," sahut Freya.


Draco kemudian mencari Ellen karena ingin membawa perempuan itu bersamanya.


"Kita mau ke mana?" tanya Ellen.


Ellen tidak mau bertanya lagi karena dia sudah kelelahan, mungkin karena dia hamil jadi staminanya tidak sekuat dulu.


Ternyata Draco membawanya naik helicopter di mana Patrick sudah menunggu kedatangan mereka.


"Apa kita akan ke rumah sakit, King?" tanya Patrick sebelum lepas landas.


Draco hanya membalas dengan anggukan karena dia tidak mau menunda lagi. Ternyata Draco sudah mempersiapkan dokter kandungan dan rumah sakit untuk memeriksa kandungan Ellen.

__ADS_1


Saat helicopter naik ke udara, Ellen sudah tidak memikirkan apapun karena lelah. Dia tertidur dipundak Draco dan tidak merasa terganggu dengan suara bising di helicopter.


Hanya butuh waktu setengah jam sampai di kota, helicopter mendarat di rooftop rumah sakit dan Draco menggendong Ellen turun dari helicopter.


Seorang dokter wanita bernama Luna sudah menunggu kedatangan mereka. Dokter Luna segera memeriksa keadaan Ellen begitu perempuan itu sampai.


"Saya akan memberikan vitamin," ucap dokter Luna yang langsung meminta perawat untuk memasang infus di tangan Ellen.


Ellen terbangun saat tangannya ditusuk jarum infus. Dia jadi takut dan berpikiran negative.


"Jangan gugurkan bayiku," ucapnya mencoba menjauhkan infus itu.


"Tenang Nona, kami justru ingin memberi vitamin!" Perawat yang menangani Ellen menahan perempuan itu dan berusaha meyakinkan.


Mendengar itu membuat Ellen merasa tenang, dia kemudian mencari Draco yang tidak ada di ruangan itu.


"Aku tadi datang bersama ayah dari bayiku, di mana dia sekarang?" tanya Ellen.


"Oh, Tuan Draco? Beliau sedang bersama dokter Luna, mereka sedang membicarakan hasil pemeriksaan, Nona," jawab perawat itu lagi.


Ellen langsung salah tingkah diperhatikan seperti itu, dia sampai menarik selimut untuk menutupi wajahnya karena malu.

__ADS_1


"Kau tahu, aku semakin menyukainya jadi cepat deraskan infusnya karena aku ingin cepat pergi dari sini!" perintah Ellen yang tidak sabaran.


__ADS_2