
Rasanya meja makan itu sudah lama Draco tidak pakai tapi hari ini, di meja makan yang panjang itu terhidang berbagai jenis masakan. Dan suara Ellen begitu mendominasi di sana.
Tim inti De Servant berkumpul di sana karena Ellen yang mengundang mereka.
"Oke guys. Walaupun ini sangat terlambat, kita harus merayakan keberhasilan misi kita sekaligus merayakan kehamilanku!" seru Ellen sambil mengangkat gelas berisi wine dari tangannya.
Semua yang ada di meja makan mengangkat gelas mereka dan bersulang bersama.
"Jangan minum itu!" Ruzel yang duduk di samping Ellen merebut wine dari tangan perempuan itu kemudian menggantinya dengan jus jeruk.
"Thanks, Kid," balas Ellen seraya menerima jus jeruk pemberian Ruzel.
Ellen meminum jus jeruk itu kemudian kembali menatap Ruzel. "Apa kau mau bersekolah?" tanyanya.
"Walaupun terlambat, tidak salahnya mencoba," bujuk Ellen.
"Akan aku pikirkan," sahut Ruzel yang akan membicarakan hal itu pada Loyd.
Sementara Eros terus mencuri pandang pada Freya, semenjak malam yang mereka habiskan bersama, mereka belum berteguran sama sekali.
Jadi, saat selesai makan, Eros diam-diam menarik tangan Freya dan membawanya ke lorong tersembunyi.
"Ada apa? Aku harus membicarakan acara pernikahan dengan Ellen," ucap Freya.
__ADS_1
Eros tidak menyahut, dia sibuk memandangi wajah gadis itu, wajah yang selalu mengusik pikirannya karena tidak mau dinikahi.
"Apa benar kau tidak ingin menikah? Aku harus bertanggung jawab!" Eros berkata dengan nada geram karena bingung harus bagaimana meyakinkan Freya bahwa dia serius.
"Bertanggung jawab tidak harus dengan pernikahan," balas Freya yang masih kukuh dengan pendiriannya.
Freya kemudian berjinjit dan mencium bibir Eros singkat. "Nanti malam, aku akan ke kamar mu lagi!"
...***...
Malam harinya, Ellen pergi ke perpustakaan yang ada di istana. Dia masuk ke tempat persembunyiannya dulu bersama Ruzel.
Ellen mencari berkas kampanye yang sebelumnya dia sudah susun tapi belum sempat mengutarakan rencananya pada De Servant.
Jadi, malam ini dia ingin membicarakan rencananya itu pada Draco karena lelaki itu sudah ada dipihaknya.
"Kau belum bisa membaca?" tanya Ellen sambil membuka headset yang terpasang di telinga Draco.
Draco yang sebelumnya memejamkan mata karena berkonsentrasi jadi membuka matanya dan menatap Ellen.
Seperti biasa, Ellen akan duduk di pangkuannya dengan membuka kedua kakinya.
"Drac, aku mempunyai rencana," ucapnya.
__ADS_1
"Rencana apa?" tanya Draco.
Ellen memberikan berkasnya pada Draco dan menjelaskan semuanya.
"Bukankah wilyah De Servant sangat luas? Hutan itu bagian dari wilayahmu juga, 'kan?" tanya Ellen memastikan.
Draco membalasnya dengan anggukan dan Ellen menjelaskan kembali.
"Bagaimana kalau kita membuat De Servant jadi sebuah kota? Kedengarannya memang tidak masuk akal dan hal ini membutuhkan biaya banyak atau waktu yang lama,"
"Tapi, dengan begitu semua anggota De Servant akan memiliki keluarga!"
Draco mulai mengerti apa yang dimaksud Ellen, mungkin jika dia menyetujui rencana Ellen, tidak akan ada Kerel Kerel lain yang meninggalkannya.
Bukankah tujuan Draco memanusiakan anggotanya dan menghapus perbudakan?
"Rencana mu ini akan aku tinjau, hal ini tentu tidak mudah, butuh dukungan dari pemerintahan sementara bisnis De Servant selama ini ilegal. Untuk itu, berikan aku waktu untuk mewujudkan keinginanmu!" balas Draco seraya meraih salah satu tangan Ellen dan mengecup telapak tangan perempuan itu.
"Aku akan melakukan apapun untukmu!"
_
Note :
__ADS_1
Bagi yang gak ngerti maksud Ellen. Jadi Ellen itu pengen De Servant jadi wilayah ibu kota gitu guys. Nanti hutan itu maksudnya dijadikan rumah-rumah buat anggota De Servant yang menikah atau pengen punya keluarga. Jadi, gak ada sistem-sistem budak lagi.
Kaya cerita kerajaan gitu, ada raja yang mengatur wilayah atau kotanya. Bedanya ini kerajaan mafia.ðŸ¤