Penggoda King Mafia

Penggoda King Mafia
PKM BAB 59 - Pelajaran Rumit


__ADS_3

Biasanya Ellen selalu menggoda dan menawarkan diri sendiri pada Draco jadi saat tiba-tiba Ellen menolaknya membuat Draco bingung sendiri.


Tidak biasanya lelaki itu dibuat pusing dengan urusan wanita seperti ini.


Rasanya Draco ingin berteriak untuk melampiaskan amarahnya. Draco melirik ke arah ranjang di mana Ellen saat ini tengah tidur setelah cukup lama menangis di kamar mandi.


Draco mendekat dan duduk di samping Ellen seraya menjauhkan anak-anak rambut yang menutupi wajah cantik Ellen.


"Apa yang terjadi padamu, darling?" gumam Draco yang kini meraih salah satu tangan Ellen dan mengecup telapaknya.


"Nasibmu memang tidak beruntung karena menjadi pengantinku, jika kau ingin pergi, sudah sangat terlambat," sambungnya.


Draco sudah menyegel Ellen untuk sepenuhnya menjadi miliknya. Apapun yang terjadi dia tidak akan membiarkan Ellen pergi dari hidupnya.


Malam ini, Draco akan ikut tidur bersama Ellen dan pergi keesokan harinya untuk bergabung dengan yang lainnya.


Draco menanggalkan bajunya dan menyisakan celana panjang di tubuhnya, dia ikut berbaring di samping Ellen kemudian menarik perempuan itu dalam pelukannya.


"Eugh! Drac..." Ellen melenguh dan memanggil nama Draco saat wajahnya berada di dada lelaki itu. Pelukan canggung itu terasa hangat bagi Ellen.


Tak lama Ellen membuka matanya dan menatap Draco yang mendekapnya.


"Semenjak aku kehilangan semuanya, hanya kau harapanku satu-satunya Drac, saat tahu kau tidak menginginkan aku, aku sangat sakit tapi lebih sakit lagi ketika kau menolak kehadiran bayi kita," ucap Ellen dalam hatinya.


Tangan kurusnya terulur untuk mengusap pipi Draco yang sudah tertidur. "Jika aku benar-benar hamil, apa kau akan memintaku menggugurkan bayi kita?"


Ellen berkecamuk dengan pikirannya sendiri, dia tidak ingin jauh dari Draco tapi dia juga tidak mau kehilangan bayinya.


...***...

__ADS_1


Kerel terus melirik paha Rara yang terekspos karena gadis itu hanya memakai kemeja kebesaran miliknya. Rara duduk di kursi depan seraya tertunduk karena malu, sementara Kerel tampak tenang dibalik kemudi.


Keduanya saat ini tengah dalam perjalanan menuju lokasi di mana Eros berada.


"Sudah terlalu larut jadi toko baju sudah tutup semua, saat sampai nanti kau bisa meminjam baju Freya," ucap Kerel memecah keheningan yang membentang.


"I--iya, Tuan," sahut Rara tanpa memandang Kerel.


Rupanya perjalanan mereka tidak semulus itu karena tiba-tiba hujan deras turun yang membuat pandangan Kerel kabur.


"Sepertinya kita harus menepi," ucap Kerel yang tidak mau melanjutkan perjalanan dalam keadaan seperti itu.


Kerel menepikan mobil dan menunggu hujan sedikit mereda. Suasana di dalam mobil jadi begitu dingin membuat Rara memeluk tubuhnya sendiri.


"Kemarilah!" Kerel menarik Rara supaya duduk di pangkuannya.


Rara tentu saja tidak mau tapi Kerel tetap memaksa yang pada akhirnya gadis itu kalah tenaga juga.


"Hei, lihatlah aku!" Kerel memaksa Rara memandang wajahnya dengan meraih dagu gadis itu.


"Lepaskan saya, Tuan. Biarkan saya mengabdi di kuil," pinta Rara yang ingin keluar dari hubungan tidak jelas ini.


"Kenapa kau selalu berpikir seperti itu, hem?" Kerel meraih tengkuk Rara dan mendekatkan wajah supaya mereka semakin dekat. "Panggil namaku karena setelah ini kita akan mempunyai hubungan untuk saling memanggil nama!"


"Tapi--" Rara ingin menolak tapi bibirnya langsung dilumaat oleh Kerel begitu saja.


"Bisakah kau percaya padaku? Setelah ini, aku akan menikahimu supaya kau tidak mencoba untuk pergi dariku!" ucap Kerel yang tidak tahan lagi, sepertinya hanya dengan cara itu akan membuat Rara tidak berpikiran ingin pergi.


"Me--menikah?" tanya Rara terbata. "Apa saya tidak salah dengar?"

__ADS_1


"Kalau kau mau, kita bisa melakukannya sekarang," ucap Kerel lagi.


"Sekarang?" Rara semakin tidak percaya. "Bagaimana anda bisa berkata seperti itu!"


"Karena kau sepertinya perlu bukti nyata, kita akan pergi ke kuil sekarang juga," ucap Kerel seraya memakaikan coat pada gadis itu supaya pakaian Rara terlihat sopan.


Ada sebuah kuil yang tidak jauh dari tempat mereka berada, Kerel membawa Rara ke sana untuk berdoa kemudian menemui pengurus kuil dan meminta menikahkan mereka.


"Kami sama-sama tidak mempunyai keluarga dan sanak saudara jadi kami tidak perlu restu siapapun," jelas Kerel.


Hari itu, Kerel dan Rara akhirnya menikah begitu saja tanpa lamaran atau persiapan yang berarti. Mereka menjadi suami istri dalam sekejap.


"Sekarang jangan pernah berpikir untuk mengabdi di kuil karena kau harus mengabdi pada suamimu," ucap Kerel seraya mengusap kepala Rara dengan tangan besarnya.


Rara menatap Kerel, dia tidak percaya sudah menjadi istri lelaki itu. Tiba-tiba rasa keraguan dalam dirinya menguar begitu saja.


"Kerel..." panggil Rara canggung.


"Ya, panggil namaku!" Kerel mengecup kening istrinya. "Akhirnya aku bisa mengajarimu pelajaran yang rumit!"


"Pelajaran rumit?" tanya Rara dengan wajah merona. Gadis itu langsung paham pelajaran apa itu.


_


Gaes, sebenarnya Ellen itu up terus ya cuma ketahan review mulu, bab ini seharusnya dari kemarin tapi lolosnya lama🤧 Dan kejadian ini berulang terus padahal aku suka banget cerita mafia ini dari pada mafia2ku yang lain.


Karena performa turun dan mustahil dapat promo dengan berat hati alur akan dipercepat dan bakal ada spin off ceritanya. Semoga ada yang masih setia ngikut cerita Kingdom De Servant.


Yang setia2 komen dan hadir di cerita author khususnya Kingdom De Servant bakal author ingat siapa2 aja jadi nanti akan ada tanda sayang dari author bagi yang terpilih.😉

__ADS_1


Jadi, ikutin terus ya sayang2ku cerita Ellen dan peranakannya nanti😘


__ADS_2