
Keesokan paginya, Ellen bangun lebih cepat dari pada Draco. Dia ingin mencari Rara dan meminta sarapan.
Ellen mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh Rara dan Kerel.
"Rara... Rara..." panggil Ellen sambil mengetuk pintu tanpa henti.
Tak lama pintu dibuka Kerel dengan kesal karena lelaki itu ingin tidur lagi lebih lama setelah semalaman mengajari Rara banyak hal.
"Ada apa?" tanya Kerel.
"Aku mencari Rara, cepat suruh dia keluar!" jawab Ellen.
Kerel berdecak. "Rara bukan pelayan pribadimu lagi jadi jangan menyuruh-nyuruhnya!"
"Apa yang kau lakukan pada Rara?" tanya Ellen penuh selidik. "Rara itu tanggung jawabku!"
"Sekarang bukan lagi," sahut Kerel yang ingin menutup pintu kamarnya lagi tapi ditahan oleh tangan Ellen.
"Rara berhak punya pilihan," ucap Ellen seraya menahan pintu.
"Dia tidak punya pilihan selain bersamaku," balas Kerel lagi dengan mendorong tangan Ellen supaya dia bisa menutup pintu. "Jangan ganggu kami dulu!"
"Hei!?" Ellen merasa kesal sekarang. Tapi, baguslah kalau Kerel mau menjaga Rara, semoga Kerel tidak mempermainkan gadis itu.
Saat pintu sudah tertutup, bersamaan dengan Rara yang membuka matanya. Rara mengamati kamar di mana dia berada seraya mengingat-ngingat kejadian semalam.
Rara mengingat jika Kerel terus menciuminya setelah itu Kerel memberi rangsangan-rangsangan di titik-titik sensitif miliknya. Sampai Kerel mengajarinya sesuatu yang baru dengan jari-jari lelaki itu yang menyentuh miliknya.
__ADS_1
Rara sampai merasakan euforia yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Aaaa..." teriak Rara seraya menutup wajahnya karena malu.
Dan hal itu tentu saja diamati oleh Kerel dengan tersenyum miring.
"Mengingat sesuatu, ya?" tegur Kerel kemudian.
Atensi Rara jadi mengarah pada lelaki itu, seketika Rara langsung menyembunyikan diri di bawah selimut.
"Ada apa?" Kerel justru semakin suka menggoda Rara jika tingkah Rara seperti itu.
Kerel menarik selimut yang menutupi tubuh Rara kemudian membuangnya.
"Mau melanjutkan pelajaran?" tanya Kerel.
"Pe--pelajaran apa lagi?" tanya Rara dengan bibir bergetar.
"A--apa yang mau Tuan lakukan?" tanya Rara takut-takut.
"I--itu bentuknya seperti gulungan adonan roti!"
Seketika benda yang dimaksud mengecil kembali, mungkin dia merasa terhina karena disamakan dengan gulungan adonan roti.
"Nah, kalau sekarang lebih mirip adonan roti yang lembek," komentar Rara lagi.
...***...
__ADS_1
Karena Rara tidak bisa dia suruh lagi, Ellen mempersiapkan sarapan sendiri. Dia memesan beberapa menu di restoran kemudian membawanya ke kamar.
Di dalam kamar Ellen dan Draco, terlihat Draco masih tertidur dengan posisi miring.
Ellen mendekat dan mengusap lengan Draco yang kekar itu.
"Bangunlah, King!" ucap Ellen.
Draco membuka mata dan hal pertama yang dia lihat adalah Ellen. Perempuan itu tampak sudah segar.
"Morning kiss!" Ellen mengecup bibir Draco yang membuat lelaki itu terkesiap.
"Kita harus melakukan misi hari ini jadi jangan membuang waktu lagi, aku sudah tidak sabar!"
"Tidak sabar?" tanya Draco ketus.
Ellen terkekeh kemudian mengelus pipi Draco. "Apa kau merasa cemburu, King?"
"Tidak mungkin!" Draco berdiri seraya memasang celananya.
Sebelum Draco masuk kamar mandi, Ellen memberi pertanyaan yang membuat langkah Draco berhenti sejenak.
"Drac, apa kau menyukai bayi?" tanya Ellen.
"Apa maksudmu?" tanya Draco balik.
"Bukan apa-apa jika kita memiliki bayi..."
__ADS_1
"Jangan pernah memikirkan hal seperti itu! Bayi akan semakin menambah masalah!"
Ellen meremas ujung bajunya mendengar itu. Sebenarnya dia tidak pernah memakai kontrasepsi dan Ellen baru sadar jika dia sudah lama tidak datang bulan.