Penulis Culun

Penulis Culun
Perjuangan seorang Author


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah, Rila menapaki anak tangga yang hanya berjumlah lima buah. Pandangannya lurus menatap pintu rumah, sampai di depannya dia langsung mendorong pintu hingga terbuka.


Rila masuk dalam rumahnya dan tiba-tiba menghentikan langkahnya melihat seorang gadis yang duduk di ruang tamu. Wajahnya seketika terkejut melihat gadis itu.


"Cantika?" Rila berjalan mendekati tempat duduk lalu meletakan tas belanjanya di atas meja tamu itu. Kemudian duduk di samping gadis yang disebutnya.


"Lala," sebut gadis itu yang bertubuh gendut, mengenakan pakaian santai biasa dan berkacamata hitam yang sama seperti Rila. Dia tersenyum menatap Rila yang sudah lama tidak dilihatnya.


Rila tersenyum langsung menyentuh bahu Cantika. "Kau baru kembali? bagaimana kabarmu? apa " tanyanya tidak sabaran.


"Aku baik-baik saja Lala, tapi bagaimana denganmu? kata ibumu kau sudah tidak sekolah lagi? mengapa?" tanya Cantika menatap wajah Rila dengan raut sedih.


Rila tersenyum menarik tangannya kembali yang menyentuh bahu Cantika.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa lelah melanjutkan studi," jawabnya terdengar janggal di telinga Cantika.


Rila menghadapkan duduknya pada meja di hadapannya dan menatap lurus dengan raut wajah sedih yang di sembunyikan.


"Lala, apa yang terjadi? ceritakanlah padaku. Jangan mencoba menyembunyikannya." Cantika memegang wajah Rila dan menghadapkannya padanya.


Rila dan Cantika saling menatap bola mata mereka di balik kacamata, sungguh Rila tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya. Gadis itu langsung berhambur memeluk sahabatnya dengan isak tangis mulai terdengar.


"Ayah dan ibuku sudah bercerai, Ayahku kabur entah kemana dan meninggalkan hutang banyak, dan aku dan ibuku harus membayarnya. Selama setahun pun tidak akan genap membayarnya, itu terlalu banyak hikss ... hikss." Rila menangis di pelukan Cantika. Rasanya dia lega bisa menceritakan hal itu.


Cantika mengusap-usap belakang punggung Rila dengan mata berkaca-kaca mendengar keluh kesah sahabatnya itu.


"Rila harus sabar, harus kuat, aku yakin kau pasti bisa menghadapinya dan jangan putus asa Rila. Kau belum terlambat, masih banyak jalan lain." Tak tahan lagi Cantika jadi ikut menangis mendengar Rila menangis tersedu-sedu.


"Hikss hikss maaf aku tidak bisa membantumu Rila, aku sangat ingin sekali bisa membantumu tapi aku harus kembali besok sore ke-Australia lagi," ucap Cantika.


Rila langsung melepaskan pelukannya dan menyentuh wajah Cantika.


"Kau akan pergi lagi? Ayahmu baik-baik saja di sana?" Rila menatap manik mata Cantika dengan dalam. Seolah tak rela jika sahabatnya itu akan pergi lagi.


Cantika menurunkan tangan Rila yang menyentuh wajahnya lalu menghapus air mata Rila yang membasah di pipi.


"Ayahku sedang dalam operasi dan dirawat di ruang ICU tidak tau lamanya. Aku kesini bersama ibu untuk mengambil surat penting sekaligus mengunjungimu," jawab Cantika.


"Rila jangan sedih yah, nanti setelah Ayahku selesai pengobatan di sana aku pasti akan kembali dan tinggal di sini," ucap Cantika lagi menatap lembut wajah Rila.


"Aku tidak akan sedih, semoga Ayahmu sehat-sehat saja dan ibumu kau juga, Cantika tenang saja." Rila mengenggam erat telapak tangan Cantika.


Tidak sadar dari balik dinding ruang tamu, Ibu Rila yang sedari menyiapkan makanan maupun minuman jadi ikut merasa sedih dan hanyut mendengar ucapan putrinya dan sahabatnya. Mau bagaiamana lagi semua sudah takdir yang telah ditentukan.




Malam harinya



Setelah kejadian tas yang dicuri, bertemu dua sahabat lama. Kini Rila berdiam dalam kamarnya sedang berkutik dengan ponsel dan headset yang melekat telinganya.



Duduk di meja yang bertepatan dengan jendela. Rasanya sangat damai dan tenang sekali bisa menghirup udara segar malam yang masuk melewati jendela dan angin sejuk menerpa rambut Rila yang dikuncir satu.


__ADS_1


Sambil mendengarkan musik dari ponselnya, kedua jari jempolnya bergerak cepat mengetik papan keyboard penuh dengan semangat.



Dia terlarut dalam imajinasi yang di gambarkannya kedalam sebuah tulisan, rangkaian kata memenuhi aplikasi Notenya. Begitu semangat dan penuh rasa senang dia menulis cerita yang membuatnya semakin candu. Hal itu sangat di sukainya.



Hari semakin malam, Rila masih berkutik dengan ponselnya sambil sejenak istirahat dengan mengemil makanan ringan dan minum susu yang di buatkan ibunya.



Kesunyian malam seakan menemani sang gadis yang meluangkan waktunya menulis sebuah novel di aplikasi online. Sampai matanya sudah mulai mengantuk, dia pun menghentikannya.



Rila sejenak memicik layar ponselnya dan masuk dalam sebuah aplikasi bernama Novelin. Dia mengupdate bab baru ceritanya yang baru ditulis tadi. Sesudah itu dia mengetik di kolom pencarian nama judul novelnya.



Rila menemukan karyanya lalu memiciknya dan terlihat jumlah pelanggan karyanya sudah sekitar enam ratusan, popularitas dua ratus ribu lebih dan suka lima ribu lebih.



Senyum lega terukir di bibir Rila melihat itu, bertambah lagi membuka bagian komentar dan membacanya.



"Novel ini sangat bagus, Saya suka sekali. sosok pria bertopeng itu masih belum di ketahui identitasnya. Saya berharap author bisa secepatnya update baru dan terus semangat berkarya!"



"Sangat bagus, banyak kesan moral dalam novel fantasi yang ini, para Pangeran yang saling menghargai Tuan muda meski jabatan mereka jauh berbeda, akan tetapi tidak pernah pandang bulu untuk menjalin pertemanan."




"Bab satu, luar biasa, membacanya aku jadi mengalami bagaimana terpuruknya pemeran utama wanita yang sering dihina oleh penghuni istana."



"Lanjut!"



Rila membaca dalam hati satu persatu komentar dari ceritanya itu dari pembaca. Rasanya sangat senang sekali tapi juga merasa haru jika sebuah karyanya dibaca meski tidak banyak yang berkomentar. Satu notifikasi sukapun sudah cukup menghilang rasa penatnya yang di gantikan dengan senyuman simpul.



Sesudah mengecek novel karyanya, gadis itu mengisi daya baterai ponselnya di atas meja dekat colokan listrik yang menempel di dinding. Kemudian melepaskan kacamata dan menyimpannya.



Rila berdiri dan keluar dari tempat duduknya. Dia sejenak menatap keluar langit malam yang di hiasi banyak bintang. Seketika Rila teringat perkataan Pak Ali padanya tentang langit.



"Meski gelap, akan ada cahaya bintang dan bulan menemaninya. Meski aku tidak bisa melanjutkan studiku seperti anak-anak lain, masih ada ibu, sahabat dan lainnya yang mengatakan aku tidak boleh menyerah. Memang sudah terlambat tapi aku akan berjuang untuk bisa kembali sekolah lagi demi diriku dan semua orang." Rila mengulurkan sebelah tangan dan memandang telapak tangan maupun jarinya.

__ADS_1



"Selelah apapun jariku mengetik, aku tidak akan berhenti membuat cerita dan menghasilkan uang sampingan agar aku bisa melanjutkan studiku kembali. Aku yakin aku pasti bisa dan kedepannya aku akan pokus berdagang sambil membuat naskah." Rila mengenggam erat tangannya.



"Takdirku memang sudah seperti ini, tapi aku akan berusaha bangun dan mengubahnya. Hanya karena kegagalan sesekali aku harus menyerah? tidak aku akan menghadapinya seberat apapun itu. Demi ibuku." Rila menitikan air mata dan jatuh menyentuh kulit tangannya. Terasa begitu hangat.



Rila pun bergegas naik keatas ranjangnya yang berada di samping meja belajarnya. Kemudian memasangkan selimut setengah tubuhnya dan tertidur.



Suara decitan pelan terdengar dari pintu kamar yang di buka tidak lebar. Sosok Ibu Rila masuk dalam kamar dan mendekati anak perempuannya yang sudah tertidur itu.



Ibu Rila ikut berbaring di samping Rila dan memperbaiki selimut menutupi tubuh mereka berdua.



Rila terusik merubah posisi tidurnya jadi memeluk sang ibu yang dia kira sebuah guling.



"Ibu, tetaplah ada di sisi Rila karena ibu sangat penting bagi Rila," racau gadis itu dalam mimpinya.



Ibu Rila tersenyum lembut mengusap-usap belakang rambut Rila mendengar racauan putrinya itu.



"Rila juga tetaplah di sisi ibu, ibu sangat menyayangi Rila." Dengan mata yang berkaca-kaca wanita paruh baya itu mengecup kening anak gadisnya.



Sejenak dia menatap lama wajah Rila dalam dekapannya. *Maafkan ibu Nak lalai mengurus kewajiban ibu, membuatmu tidak pokus belajar dan mengejar keinginanmu. Ibu malah membuat anak gadis ibu mengalami hal seperti ini di usia yang masih begitu muda*, batin Ibu Rila.



\*\*\*



Sepuluh bulan telah berlalu, hari-hari Rila disibukan dengan waktu berdagang keripik ibunya untuk membayarkan hutang dan meluangkan menulis novel demi menambah penghasilan tambahan. Begitu lama dan banyak rintangan yang Rila alami saat-saat berjuang menulis demi pembaca dan juga penghasilannya.



Gadis muda itu menulis sebuah novel bukannya hanya untuk kesenangan. Namun juga demi para pembaca yang bisa mengambil pelajaran dalam cerita yang di buatnya.



Selama itu dia sudah memiliki dua karya yang berhasil di kontrak, akan tetapi berpenghasilan sedikit karena kurangnya pembaca. Bagi Rila itu tidak masalah jadinya, dia terus berjuang sampai bisa mencapai batas maksimal penghasilannya karena itu sangat penting baginya.



Rasa lelah tak jarang Rila rasakan selama membuat cerita dan juga berdagang. Di usianya yang begitu muda Rila harus mengalami hal yang membuatnya tidak akan pernah melupakan momen di mana prosesnya yang begitu lama.

__ADS_1



*Bersambung* ...


__ADS_2