
Sebulan telah berlalu, setelah Rila menarik penghasilan novelnya dan mendaftar sekolah di sekolah yang menjadi impian semua orang. Sangat beruntung Rila bisa di terima masuk atas prestasinya juga yang juara menulis.
Awal musim baru, masa yang baru. Langit yang begitu cerah dan sinar mentari menyinari lingkungan.
Di sebuah sekolah yang terkenal namanya SMA superstar, berada di tengah sudut kota. Sekolah yang paling terbesar dan luas dengan gedung yang besar dan tinggi saling berhubungan dengan tempat kecil lainnya.
Keadaan muka gerbang sekolah yang kokoh dan menjulang tinggi begitu ramai. Gerbang dengan dua pintu besar itu terbuka dengan lebar mempersilahkan para pelajar yang sekolah di situ.
Para murid yang mengenakan seragam bagai semut berhamburan di hamparan halaman luar sekolah maupun di luar sekolah. Tampak para reporter yang berada di depan gerbang sedang mewawancarai salah satu murid dari SMA populer itu dengan membawa kamera sedang melakukan siaran langsung. di televisi.
"Apa Anda adalah salah satu murid baru tahun ini?" tanya si reporter pada sekelompokan pemuda lewat ingin memasuki gerbang.
Para pemuda berhenti berjalan, mereka secara bersamaan menghadap kamera dan menjawab.
"Benar, namaku adalah Joko paling tampan," jawab salah satu pemuda dengan tas yang di gendong dengan sebelah bahu. Memperbaiki rambutnya sambil tersenyum menghadap kamera.
"Ck, kau ini membuat malu saja, mereka sedang wawancara" bisik pemuda lain di sebelah pemuda yang bernama Joko itu.
"Ehemm," dehem seseorang yang mengambil alih memegang mikrofon dan berdiri di hadapan kamera menampakan wajah dan tubuhnya yang bisa dibilang tampan.
"Aku adalah Revan, pelajar baru. Masuk sekolah di sini karena ingin belajar dan bisa menjalin hubungan teman di masa muda ini, aku harap menginjakan kaki di sekolah favorit ini bisa membawaku terbang ketempat yang kuinginkan." pemuda bernama Revan itu langsung menyerahkan mikrofon kembali lalu menundukan kepala dan pergi memasuki gerbang.
__ADS_1
Kepergiaan Revan diikuti banyak pemuda karena dia adalah ketua dari kelompokan yang diwawancarai itu.
"Wah, ketua keren!"
"Biasa saja"
Sementara wawancara masih berlangsung seiring banyaknya murid yang berdatangan.
Asiknya para siswa dan siswi yang berjalan di halaman depan menuju pintu masuk sekolah yang begitu besar, tiba-tiba pandangan mereka teralihkan kepada seorang gadis yang juga berjalan menuju pintu.
Mereka seakan berhenti dan memerhatikan gadis itu dengan wajah menahan tawa dan saling berbisik-bisik.
"Gadis kuno dari mana dia?"
"Seragamnya terlalu besar."
"Lihat ikat rambutnya dan kacamata tebal yang di pakainya, hahaha mirip badut saja."
Gadis yang dibisik-bisikan orang itu tiada lain adalah Rila. Dia menghentikan langkah kakinya dengan kepala yang menunduk memandang sepatu putihnya yang bertali nampak memudar warna putihnya tak secerah seperti yang di pakai orang.
Rasanya takut dan malu menyerang Rila saat pertama kali menginjakan kaki di sekolah barunya. Sampai saat ini dia berdiri bagai patung tak bersuara di tengah para murid lain yang memandangnya dengan saksama.
Lontaran-lontaran buruk orang-orang sekitar sampai terdengar ketelinga Rila. Tentu saja itu tertuju pada dirinya, membuat gadis itu semakin tidak berani bergerak sedikitpun.
__ADS_1
Kedua tangan Rila yang menggendong bersebelahan tas di punggungnya bergetar hebat, bahkan bibirnya pun tampak pucat dengan buliran keringat dingin yang keluar di sekitar wajahnya.
"Ada apa di sini?" tanya seorang gadis yang berpenampilan cantik. Ia berjalan diikuti dua gadis lainnya mendekati Rila yang jadi sorotan mata.
Melihat tiga gadis cantik itu, semua orang seketika tersenyum melihat paras gadis yang bertanya itu begitu cantik.
Sesampainya di samping Rila, tiga gadis itu berputar mengelilingi Rila sambil menatapnya dari atas sampai bawah.
"Ck ck ck, apa sekolah kita menyewa seorang badut?" tanya gadis dengan rambut kuning terurai keriting gantung. Menyentuh sedikit ujung rambut Rila yang di kuncir dua dengan tinggi itu.
"Hahahaha," kedua gadis yang berpenampilan cantik teman gadis berambut kuning itu jadi tertawa mendengar lontaran ketuanya.
Semua orang di sekitar pun ikut tertawa, mereka jadi mengurungkan niat masuk dan memilih menonton sosok gadis culun berwajah lugu dan bodoh di mata mereka.
Rila mempererat pegangannya terhadap tali tasnya, tampak bola matanya yang sudah berkaca-kaca mendengar ejekan para murid padanya. Dia terus menundukan kepala dengan wajah sedih yang sengaja disembunyikan.
Rasanya Rila ingin melawan, akan tetapi tubuh dan bibirnya justru tidak mendukung karena merasa tidak yakin dan tidak berani mengingat dirinya hanyalah gadis miskin yang beruntung bisa masuk sekolah di situ.
Tolonglah, siapapun itu. Aku ingin pergi saat ini, kenapa orang begitu jahat.padaku? batin Rila.
Dia tidak berani karena kemungkinan jika melawan akan membuatnya terkena resiko buruk mengetahui para murid di situ rata-rata orang kaya yang bisa saja melakukan segalanya dengan uang.
...Bersambung ......
__ADS_1