
Pria yang sedang memejamkan itu merasa ditatap seseorang dari dekat perlahan membuka matanya dan melirik seorang gadis duduk di samping kursinya dalam satu meja.
Bola mata mereka saling bertabrakan, menatap wajah sesama. Rasa kaget tampak di wajah pria tampan itu melihat gadis jelek yang tidak ia sangka semeja dengannya.
"Mengapa saya satu meja dengan seorang gadis Pak guru?" tanya pria muda itu. Ia mengalihkan pandangannya dari Rila dan melirik kearah pria paruh baya yang sedang menuliskan sesuatu di papan tulis dengan wajah seakan tidak terima.
Pria paruh baya yang selesai menulis, menutup spidol di tangannya lalu berbalik badan menghadap para murid.
"Dengarkan dulu baik-baik, harap semua berdiam," titah Pak guru itu.
Keadaan hening, semua berdiam dan memusatkan perhatian dan pendengaran pada pria paruh baya itu.
"Perkenalan saya adalah wali kelas kalian satu tahun semester ini, kalian bisa memanggil bapak Jojo atau Pak jojo." Guru yang bernama Jojo itu berjalan mendekati salah satu anak muridnya yang protes tadi.
Semua murid berdiri lalu serentak membungkukan badan dan memberi salam hormat.
"Duduklah," titah Pak Jojo.
Semua murid kelas X A pun duduk kembali dan mata mereka terpusat pada Pak Jojo yang berjalan menuju meja Rila.
"Semua bangku sudah diatur seperti ini, bapak harap kalian bisa beradaptasi di sekolah ini dengan cepat, berteman dengan teman sebangku kalian." Pak Jojo menyentuh pundak pemuda yang berada di sebelah Rila.
"Terutama kau Nak Aldi," ucap Pak Jojo pada pemuda tampan yang duduk di sebelah Rila itu bernama Aldi.
"Siap Pak," balas Aldi tersenyum tipis.
Pak Jojo kembali berjalan menuju meja khusus untuk guru. Meja yang letaknya berlawanan dengan meja para murid, berada di dekat jendela sama seperti barisan ketiga meja murid, tepatnya sejajar dengan barisan meja Rila.
Guru itu menunjuk kearah papan tulis lalu melihat kesemua muridnya.
"Sekarang kita pilih pemilihan organisasi yang mengurus kelas ini, mulai dari ketua kelas, wakil kelas, bendahara, sekretaris, pemimpin olahraga, pemimpin kebersihan dan keamanan." Pak Jojo berdiri lagi menghadap semuanya dengan senyum lebar.
Semua murid tersenyum dengan penuh semangat.
"Dan bapak harap kita semua di sini bisa sama-sama saling menerima, kita bersama belajar dan meraih impian kalian di SMA ini. Pasti banyak rintangan yang kalian lewati demi bisa masuk dalam sekolah besar ini, jadi jangan sia-siakan kesempatan kalian dan buktikan kemampuan kalian, semangat!" Pak Jojo mengangkat tangannya keatas membentuk tinju.
Semua murid tersenyum ikut mengangkat tangan mereka, lalu bertepuk tangan meriah penuh senyum merekah. Tadinya mereka sempat takut dan berpikir jika guru di SMA itu galak dan kejam. Namun aslinya sangat ramah dan lucu.
Rila ikut bertepuk tangan dengan tersenyum sambil menatap sekitar. Semoga aku bisa memiliki teman di sini dan belajar banyak, batinnya.
Tatapan Rila jadi berhenti saat menatap pria yang duduk di sampingnya. Melihat wajah dingin pria itu tidak tersenyum sama sekali ataupun bertepuk tangan membuat Rila heran dan penasaran.
Rila mencoba ingin menggatuk sedikit lengan pria itu dengan jari telunjuknya, tapi tiba-tiba pria itu menoleh kearahnya dan matanya tertuju pada jarinya.
Sontak Rila langsung menarik tangan dan mengalihkan pandangannya menatap meja di hadapannya.
"Kuperingatkan kau, jangan coba mendekatiku. Hanya karena kita satu meja kedepannya jangan berbangga hati, hentikan obsesimu." Begitu tajam Aldi menatap Rila yang menunduk menyembunyikan wajahnya.
Rila seketika mendongakan kepalanya dan menatap Aldi dengan wajah datar.
"Berharap lebih, siapa juga yang terobsesi padamu," ketus Rila yang membuat Aldi sedikit terkejut.
__ADS_1
Aldi memandang Rila dengan saksama, melihat penampilan gadis culun itu membuatnya terkekeh. Dia tidak menyangka ada gadis yang berani bilang itu padanya.
"Aldi, kau tulis nama yang menjadi organisasi pengurus kelas. Bapak akan pergi dan memberikan waktu untuk kalian semua bisa mengenal sekolah ini, kalian juga bisa pergi keluar kelas ini waktu kalian." Pak Jojo meletakan lembaran kertas di atas mejanya lalu pergi dengan membawa buku di tangannya.
Semua murid berdiri dan membungkukan badan memberi hormat kepergian wali kelas.
Setelah perginya Pak Jojo, keadaan kelas jadi ramai. Para gadis dalam kelas seakan berkerumun di meja Aldi dan Rila.
"Hai pangeran tampan," sapa Rian. Pemuda tampan teman Aldi, namanya tentu di ketahui semua gadis. Dia berdiri di samping Aldi menunjukan lembaran kertas untuk menulis organisasi kelas.
"Hmm." Aldi hanya berdehem mengambil lembaran itu dari Rian.
Para gadis yang berkerumun seakan tersenyum-senyum girang menatap saksama wajah tampan Aldi. Bahkan mereka tak berhentinya memuji pemuda itu di depan langsung.
"Sangat tampan."
"Akhhh, tidak kusangka akan sekelas denganku."
"Keburuntungan yang tidak boleh di sia-siakan."
Mereka terus menatap Aldi yang sedang menulis. Sejenak Aldi menatap Rila yang seperti meresa terkekang di antara para gadis yang mengelilingi.
"Hei kau gadis jelek, pergilah. Biar aku saja yang duduk di sampingnya sementara." Seorang gadis cantik menyentuh bahu Rila, meminta Rila segera pergi.
Rila pun tak ambil pusing, dia tiba-tiba berdiri membuat semua mata jadi menatapnya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, Rila ingin keluar dari lingkaran kursi, tapi Aldi malah menghentikannya.
Rila sejenak melirik kearah Aldi, "ada apa?" tanyanya.
"Duduklah kembali, setelah ini ada sesuatu yang ingin kubicarakan," jawab Aldi dengan wajah dingin.
Semua gadis berdiam dan hanya mendengarkan apa yang dikatakan Aldi. Terutama gadis yang meminta Rila menjauh tadi langsung pergi.
Rila terpaksa harus duduk kembali dengan wajah tampak canggung karena merasa sedang ditatap banyak orang.
Aldi pun kembali menulis sambil bertanya pada orang tertentu.
"Hai gadis, jangan takut kenalkan aku adalah Rian," ucap Rian yang berdiri sedari tadi di samping Aldi yang berduduk. Dia melempar senyum pada Rila seolah seperti seorang teman.
Rila hanya berdiam dengan sedikit mengangguk membuat para gadis di hadapan Aldi geram.
"Siapa namamu? sok jual mahal sekali merespon Kak Rian seperti itu, apa kau tidak tahu dia orang populer di sekokah maupun kota ini?" lontar salah satu gadis yang berdiri di depan meja sengaja menyindir Rila.
"Sudahlah, lagi pula itu tidak masalah," balas Rian tersenyum pada gadis-gadis.
Rila hanya berdiam, dia mengambil sesuatu dalam tasnya yang mengantung di samping bawah meja. Demi menghilangkan rasa canggung dia mencoba membaca buku novel tanpa memedulikan sekitar.
Tidak lama jumlah para gadis yang mengumpul hanya sekedar melihat Aldi semakin berkurang karena keluar jalan-jalan untuk melihat-lihat sekolah.
Keadaan dalam kelas semakin sunyi, kini hanya tertinggal Rila yang asiknya membaca novel dan Aldi yang sudah selesai menulis tata struktur kelas.
__ADS_1
Aldi menyimpan lembaran kertas di bawah meja lalu melirik gadis di sampingnya yang sibuknya memegang buku dan membaca.
"Ehemm," dehem Aldi guna menyadarkan Rila.
"Ehemm," dehemnya lagi.
Sampai ketiga kalinya tidak ada sautan sama sekali dari Rila, Aldi langsung menarik buku novel yang di pegang Rila hingga mereka saling menatap.
"Buk ..." ucap Rila terpotong.
"Bukumu apa? apa kau tuli? tadi aku berulang kali berdehem dan kau tidak merespon sama sekali?" ketus Aldi terdengar kesal menjauhkan tangannya yang memegang buku novel milik Rila.
Rila menoleh kesamping menatap wajah Aldi, pemuda itu memang sangat tampan di lihat dari perawakannya yang berumur 18 tahun itu sudah sangat bugar dan berotot.
"Kembalikan buku ku," pinta Rila pada Aldi yang merebut bukunya.
"Tidak." Aldi berdiri dari tempat duduknya dan menjauhkan diri.
Rila sontak berdiri dan mendekati Aldi yang menjauh.
Aldi malah berlari menghindari Rila hingga terjadi acara kejar-kejaran dalam kelas itu. Beruntung tidak ada satupun orang di dalamnya.
"Menyebalkan, kembalikan bukuku!" teriak Rila mengejar Aldi yang berlari menuju meja guru.
"Tidak akan karena kau sudah berani mengacuhkanku tadi, kau tahu betapa itu sangat menyebalkan, kau yang menyebalkan!" teriak balik Aldi berdiri di antara meja dan kursi guru. Dia sejenak memandang sampul buku novel milik Rila dengan wajah tiba-tiba serius.
Rila merasa tambah kesal, kini dia sudah berada di samping Aldi menghadap tubuh pria itu dari samping. Tanpa menunggu Rila langsung ingin mengambil buku itu dari tangan Aldi.
Aldi langsung memundurkan diri dari hadapan Rila dan mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya yang memegang buku Rila.
Rila jadi geram, dia melangkahkan kakinya dua langkah maju dengan mata yang terpokus menatap buku novelnya.
Saat Rila melangkah sekali lagi guna mendekati Aldi yang semakin melangkah mundur. Dengan kaki berjinjit dan tangan keatas meraih buku di tangan Aldi tidak sengaja sepatunya menginjak sebuah penghapus papan tulis seperti bantal kapuk hingga merasa licin.
Tubuh Rila jadi tak seimbang, tubuhnya menyodong kedepan dengan kedua telapak tangan mendarat pada bidang dada kekar Aldi.
Merasa dorongan kuat di dadanya, Aldi pun jadi ikut tak seimbang tubuhnya karena pokus menbaca judul buku novel yang di pegangnya hingga akhirnya mereka berdua terjatuh dengan posisi tumpang tindih.
Suara benturan pun bersamaan jatuhnya tubuh dua orang itu terdengar keras. Mereka jatuh dengan posisi Rila yang berada di atas tubuh Aldi dengan kepala dan telapak tangan menempel di bidang dada pria muda itu.
"Akhh," ringis Aldi merasakan sakit dari belakang kepalanya yang terbentur pada dinding.
Rila sesegera mendongakan kepala menatap wajah Aldi yang juga menatapnya dengan wajah menahan sakit. Kacamata tebal minus Rila jadi melorot hingga mata cantiknya terlihat jelas.
Mereka sejenak saling menatap dengan wajah bengong, bola mata yang bertabrakan, seperti rasa tidak asing.
Tiba-tiba asiknya menatap, terdengar suara seseorang berasal dari pintu.
"Apa yang kalian lakukan?" kaget orang yang berdiri di tengah pintu masuk kelas. Menunjuk kearah dua orang yang berada di antara meja dan kursi guru dengan posisi terlihat mencurigakan.
...Bersambung ......
__ADS_1