
Rasanya Rila ingin melawan, akan tetapi tubuh dan bibirnya justru tidak mendukung karena merasa tidak yakin dan tidak berani mengingat dirinya hanyalah gadis miskin yang beruntung bisa masuk sekolah di situ.
Tolonglah, siapapun itu. Aku ingin pergi saat ini, kenapa orang begitu jahat.padaku? batin Rila.
Dia tidak berani karena kemungkinan jika melawan akan membuatnya terkena resiko buruk mengetahui para murid di situ rata-rata orang kaya yang bisa saja melakukan segalanya dengan uang.
Tiba-tiba tidak jauh dari belakang Rila, tampak empat pria tampan berjalan penuh karisma membuat para gadis yang melihatnya langsung mengalihkan perhatian dan berhambur mendekati empat pria itu.
Salah satunya pria yang berjalan paling depan, wajah putih yang dingin, mata tajam, hidung mancung, bibir tipis dan alis yang rapi. Earphone yang menggantung di lehernya dan gaya rambutnya yang seakan membuat para gadis berteriak histeris setiap melihatnya.
Sementara ketiga pria lainnya juga begitu tampan dengan pesona mereka masing-masing. Mereka bagai para pangeran tampan yang mampu memenangkan hati para gadis.
Keempat pria itu seketika jadi pusat perhatian semua orang, bahkan di lantai dua ruang kelas para gadis berjejer di pagar sedang melambaikan tangan pada mereka dari atas.
Seakan jadi magnet yang mengundang semua gadis di sekolah itu, berkerumun demi melihat empat pria itu, utamanya pria yang paling menonjol itu bernama Aldi. Paling berpengaruh dan populer dari ketiga pria lainnya.
Dua pria tampan yang bernama Valdo dan Rian melambaikan tangannya pada para gadis sambil melempar senyum maut. Mereka berdua memang terkenal tampan, dan suka bermain dengan gadis cantik. Tidak dengan satunya yang bernama Kiki, terlihat begitu pendiam.
Mereka berjalan secara bersamaan menuju pintu masuk, diikuti banyak gadis berhambur di samping maupun belakangnya.
Rila yang tadinya jadi sorotan mata teralihkan karena kedatangan empat pria populer itu. Dia yang masih berdiri tidak jauh dari pintu masuk jadi tersenggol dari samping oleh kumpulan gadis yang berlari lewat mengejar keempat pria tampan itu.
Brukkk!
Rila jadi terjatuh di lantai dengan posisi tengkurap, begitu memalukan dan beruntung perhatian orang-orang terpusat pada empat pria terkenal yang bahkan Rika tidak kenal satupun di antara mereka.
Tidak sadar, sosok Aldi yang berjalan paling depan menolehkan kepalanya kebelakang sedikit melihat celah seorang gadis yang jatuh tengkurap di lantai. Namun pandangannya langsung dihalangi para gadis yang menatapnya dengan wajah berbinar. Dia pun menatap pokus kedepan kembali berjalan.
"Sial!" Rila berusaha berdiri dengan wajah menahan sakit. Dia memperbaiki kacamata tebal yang ingin terlepas lalu mengibaskan-ngibaskan seragamnya yang memang kebesaran karena salah pilih ukuran. Bagi Rila tidak mempermasalahkan itu, selagi dia merasa nyaman dengan apa yang di pakainya itupun cukup.
Rila bergegas pergi dari situ dan masuk kedalam. Dia menengok kekanan lalu kiri melihat keadaan yang masih tampak ramai akan para murid yang berlalu di lantai satu itu.
Di sekolah itu, memiliki tiga lantai, di lantai pertama untuk kelas satu dan dua. Lantai dua untuk kelas tiga beserta tempat-tempat untuk pengujian berdasarkan jurusan, perpustakaan dan lainnya. Sedangkan di lantai tiga adalah kantor Guru-guru hebat.
Rila mencoba berjalan kearah kanan menyusuri koridor sambil melihat kertas peta di tangannya yang menunjukan arahannya menuju kelas.
__ADS_1
Koridor lantai satu
Seiring jalan, orang-orang berlalu melihat Rila tak kuasa menahan tawa. Rila berusaha berani dan mengabaikan orang yang menertawakan dirinya.
Gadis dengan ikat rambut dua kunciran tinggi seperti tanduk itu kini di hadapkan dengan anak tangga, sejenak dia menatap peta di tangannya dengan wajah berpikir.
"Di sini tidak diberitahu kelas X A ada di mana?" Rila menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menapaki anak tangga menuju lantai atas.
Sesampainya di atas, Rila bertambah pusing melihat banyaknya ruangan dan belokan kanan dan kiri yang tidak ada ujung.
...
Lantai atas dua...
Rila menyusuri setiap ruangan dan sempat meloncat melihat dari jendela sebuah ruangan menyimpan alat musik banyak, melewati sebuah perpustakaan besar. Membuat Rila tersenyum girang dan berniat ingin masuk karena pintunya terbuka. Namun dia seketika ingat harus menemukan ruang kelasnya.
Alarm sekolah terdengar di semua sudut tempat, setelah itu terdengar suara himbauan.
Tiba-tiba datang seorang gadis cantik, berpakaian rapi dengan rambut terurai sangat anggun mendekati Rila yang di lihatnya kebingungan.
"Hai, apa ada sesuatu yang bisa di bantu?" tanya gadis itu berdiri di hadapan Rila. Ia memandang papan nama yang melekat di seragam gadis cupu di hadapannya.
Rila tersentak, dia tidak percaya barusan ada orang yang mengajaknya berbicara. Dia memandang gadis cantik di hadapannya seperti lebih tua darinya.
"Apa kakak tahu letak kelas X A?" tanya Rila tersenyum cengiran.
Gadis itu tersenyum, "kau manis sekali, kelas sepuluh dan sebelas ada di bawah, untuk kelas sepuluh di arah barat, bayangkan jika kau masuk dalam sini kau belok kekiri lalu kau terus dan belok lagi kekiri, paling ujung adalah deretan ruang kelas satu," jawabnya.
Rila langsung mengangguk mencerna ucapan gadis di hadapannya yang bahkan belum dia kenal.
"Ayo pergilah, semua orang sepertinya sudah masuk kelas," tutur gadis itu pada Rila. Kemudian dia melambaikan tangan dan masuk dalam kelas.
__ADS_1
Rila pun menggenggam erat tali tas yang digendongnya, dia bergegas mencari tangga untuk turun kembali lalu berlari melewati setiap ruangan sambil melihat papan nama kelasnya.
Rila mengingat jelas ucapan gadis tadi yang adalah seorang kakak kelas, tidak butuh waktu berapa lama dia menemukan kemungkinan ruang kelasnya. Berada paling ujung di antara ruang kelas sepuluh lainnya.
Langkah kaki Rila berhenti tepat di tengah pintu masuk. Dia melihat kedalam kelas dan orang-orang yang sudah duduk rapi mengisi bangku dudukan.
...
Ruang kelas X A...
Semua mata dalam kelas tertuju pada gadis dengan penampilan cupunya. Melihat seragam yang dipakai Rila kebesaran dan rambut dikuncir dua seperti tanduk membuar mereka membungkam mulut menahan tawa. Kecuali satu orang yang hanya memasang wajah dingin melipat kedua tangannya di depan dada.
Rila jadi mengigit bawah bibirnya, pandangannya kosong dia merasa bingung mengapa orang-orang menatapnya seperti ingin tertawa. Apa ada yang salah dengan dirinya, pikir gadis lugu itu.
"Cepatlah duduk." Suara itu berhasil menyadarkan Rila. Ternyata berasal dari pria paruh baya yang berdiri di muka papan tulis.
Rila pun membungkukan tubuh, dia sejenak melirik kearah papan informasi yang berada di samping papan tulis. Dia melihat letak dudukan bangkunya lalu membalikan tubuh dan berjalan menuju tempat dudukan yang sudah diatur sesuai nilai.
Rila menyusuri pinggir meja dekat jendela dan berhenti tepat di meja paling belakang. Tanpa melihat atau sadar dia langsung saja menjatuhkan bokongnya dan melepaskan tas punggungnya.
Semua orang di dalam kelas kecuali guru seketika melototkan matanya memperhatikan Rila sedari tadi. Mereka terkejut dengan gadis cupu itu yang duduk dengan santainya di samping orang yang paling terkenal bukan hanya di sekolah.
"Bukankah dia gadis yang tadi jadi sorotan karena jelek?"
"Benar, itu dia berani sekali duduk di samping dewa ketampanan dan kecerdasan."
"Apa dia tidak punya malu?"
Para murid dalam kelas seakan berbisik-bisik mengenai Rila.
Bisikan itu sampai terdengar di telinga tajam Rila, dia seketika melirik pada orang di sampingnya yang ternyata seorang pria tampan yang tadinya membuat dia jadi terjatuh karena tersenggol para gadis.
Pria yang sedang memejamkan itu merasa ditatap seseorang dari dekat perlahan membuka matanya dan melirik seorang gadis duduk di samping kursinya dalam satu meja.
__ADS_1
Bola mata mereka saling bertabrakan, menatap wajah sesama. Rasa kaget tampak di wajah pria tampan itu melihat gadis jelek yang tidak ia sangka semeja dengannya.
...Bersambung ......