Penulis Culun

Penulis Culun
Apa semua memang sudah berakhir?


__ADS_3

"Wooohhh awas!!" teriak orang itu sepertinya seorang Pria muda. Dia mengendarai motor balapan warna hitam dengan kepala dan wajah yang tertutup helm.


Rila kaget mendengar teriakan itu, hingga sepedanya berhenti tepat di tengah jalan dan tubuhnya tegang tak dapat digerakkan saking kagetnya saat melihat motor besar yang kemungkinan akan menabraknya.


Pria muda yang mengendarai motor itupun sontak menekan rem dengan memiringkan motornya sampai bagian celana jeansnya sobek dan kulit kakinya sedikit tergores karena bergeseran dengan tembok jalan.


Hembusan angin dari pergerakan motor itu membuat pandangan dan keseimbangan Rila yang berada di atas sepeda jadi terjatuh bersama sepedanya.


"Sial!" geram Pria muda itu.


Hening, Pria muda itu pun memperbaiki motornya lalu naik kembali sambil membersihkan celananya yang menampakan di bagian lututnya yang berdarah. Dia berbalik arah niat ingin kembali seolah tidak memedulikan gadis yang ingin ditabraknya.


"Jalan tidak melihat, mata tidak digunakan" sindirnya. Saat ingin menyalakan motor tiba-tiba ia mengurung niatnya mendengar suara isak tangis pelan.


Pria muda itupun merasa heran, dia sempat menengok kebelakang melihat sosok gadis yang duduk tersungkur di samping sepeda dengan kepala di tundukan. Dia pun turun dari motor dan mendekati gadis yang sepertinya sedang menangis itu.


"Cihh, begitu saja menangis gadis jelek." Bukannya membantu Pria muda itu malah mengejek dengan nada angkuhnya. Dia merogoh saku celananya mengambil beberapa lembar uang lalu melemparnya pada wajah gadis yang di lihatnya begitu jelek berkacamata tebal dan ikat rambut dua seperti tanduk dan pakaiannya yang bewarna mencolok.


Sungguh tak berperasaan, dia kembali menuju motornya dan naik keatasnya. Kemudian menyalakan dan pergi begitu saja.


Sementara Rila, gadis itu menundukan kepala menyembunyikan tangisannya. Rasanya sedih bercampur kesal dengan masalah yang menimpanya barusan. Ingin rasanya dia berteriak keras melampiaskan semua kemarahannya saat ini, tapi dia tahu bukan waktu yang tepat.


Rila melihat uang yang tadinya di lempar Pria itu berhamburan di sekelilingnya. Melihat itu Rila tak rela hingga memungutnya sambil menitikan air mata.


"Uang seperti ini di sia-siakan begitu saja, apa orang itu tidak punya hati? apa dia tidak memikirkan banyak orang susah di luaran sana yang sangat membutuhkannya. Hikss ... hikss." Rila menyimpan uang itu dalam saku celananya. Kemudian dia berdiri sambil mengibaskan pakaian dan melepaskan kacamata.


Tiba-tiba tampak tangan kekar mengulurkan tangannya memperlihatkan selembar tisu kedepan wajah Rila.


Rila sontak mengekori tangan itu sampai mendongakan kepala melihat wajahnya.


"Pak Ali?" tanya Rila menghadapkan tubuhnya pada sosok Pria paruh baya yang mengenakan seragam olahraga dengan celana hijau dan baju putih garis-garis hijau di bagian lengannya. Berlambang garuda di bagian dadanya.


"Nak Rila mengapa menangis?" tanya Pria itu yang bernama Ali, atau sering Rila panggil Pak Ali. Petugas baru kebersihan jalan yang sering membersihkan jalan tembok di komplek tempat tinggal Rila sudah dua minggu lalu.


Pak Ali itu menatap lembut gadis yang langsung menyembunyikan wajahnya dengan menundukan kepala. Pria paruh baya itu menarik tangan Rila dan meletakan tisu di tengah telapak tangannya.


Rila memandang tisu di telapak tangannya lalu menggunakannya untuk mengelap air mata di sekitar kelopak matanya maupun pipinya yang basah.

__ADS_1


Pak Ali tersenyum simpul lalu mendekati sepeda Rila dan mengangkat sepeda itu membantunya berdiri kembali. Kemudian memperbaiki kardus yang ingin terlepas ikat talinya pada sepeda.


Setelah menghapus air matanya. Rila kembali memasang kacamatanya dan menengok kearah sosok Pria paruh baya yang membantunya.


Seandainya Ayahku seperti Pak Ali, batin Rila.


"Ayo, ikuti paman, kita cari tempat nyaman tidak jauh dari sini untuk istirahat." Pak Ali mendorong sepeda Rila sambil berjalan pelan mengambil jalan lurus kearah yang dituju Rila tadi sebelum tertabrak orang.


Rila pun berjalan mengiring di samping Pak Ali yang mendorong sepedanya.


***


Rila dan Pak Ali duduk di sebuah kursi yang berada di depan toko buku. Kursi lengan panjang yang bersandar di dinding tidak jauh dari samping pintu masuk toko. Sedangkan sepeda milik Rila terparkir di tepi jalan karena letaknya toko itu di muka jalan raya yang cukup besar.


Tampak senyum manis di bibir Rila setelah menangis tadi, itu karena memandang sebuah buku di tangannya.


"Wah, novel edisi terbaru yang baru keluar, terima kasih banyak paman," lontar Rila. Dia membolak-balikan buku tebal di genggamannya saat ini dan membuka lembaran-lembaran kertas yang berupa tulisan.


"Hehehe, kau memanggil paman?" tanya Pak Ali tersenyum lebar memandang wajah senang Rila.


"Iya paman, Anda membawa saya ketempat ini, toko ini adalah tempat favorit saya membaca buku ataupun meminjam dan membeli buku novel fiksi terbaru dari penulis idola saya, terima kasih banyak paman saya jadi ingat jika hari ini sudah diterbitkan." Rila memeluk erat buku itu seperti tidak ingin kehilangan, rasanya sangat senang sekali.


Pak Ali tersenyum hangat. Dia menyapu atas kepala rambut Rila dengan lembut.


"Syukurlah kau sudah kembali tersenyum anak manis," puji Pak Ali yang membuat Rila sontak mendongakan kepala menatap wajahnya.


"Manis? tidak paman orang-orang mengatakan saya gadis yang jelek," ketus Rila menggelengkan kepalanya.


Pak Ali tetap tersenyum, "bagi paman kau anak yang imut dan lucu, liat kunciran rambutmu sangat menggemaskan," pujinya lagi.


Rila menutup wajahnya dengan buku novel yang di pegangnya. Merasa sangat malu menerima pujian Pria paruh baya itu padanya.


Pak Ali kembali diam. Dia memandang keatas menatap langit biru yang begitu cerah, di temani awan-awan putih yang berlapis banyak dengan bentukan unik yang berbeda-beda.


"Lihatlah langit itu." Pak Ali menunjuk keatas langit yang ditatapnya.


Rila sontak menurunkan kembali buku novel yang dipegangnya dan ikut menatap langit biru sambil memperbaiki kacamatanya yang melorot.

__ADS_1


"Tampak sangat cerah, luas dan penuh warna. Kau tahu Nak mengapa langit begitu luas? terkadang dia cerah saat pagi hari dan terkadang dia gelap saat malam maupun hujan?" Senyum simpul melekat di bibir Pak Ali.


"Saya tidak tahu paman," jawab Rila menggelengkan kepalanya sambil memandang langit.


"Kita seperti langit. Yang cerah untuk bisa menerangi lingkungan ini, mewarnai kehidupan di dunia ini, sangat indah namun ketika gelap ia sudah tak mampu menahan polusi debu yang membuat awan semakin menumpuk tebal sampai menutupi dirinya hingga jadi gelap dan hujan turun," ucap Pak Ali.


"Seperti langit, manusia juga pernah merasa lelah dan pasrah dengan kehidupan, di mana dia merasa sangat berat menanggung hal yang terus menerus menimpa setiap harinya. Dia berusaha tegar dan kuat untuk menjalaninya. Namun di balik itu setiap manusia punya keinginan kuat, sebuah mimpi setiap mengingatnya pun sudah melukis senyum yang sederhana tapi banyak arti di baliknya,"


Mata Rila berkaca-kaca mendengar ucapan Pak Ali sambil memandang langit.


"Paman pernah merasa sangat pasrah akan kehidupan ini karena impian paman yang tidak bisa terwujud saat berusia seperti Rila, dan saat ini paman menjadi seperti ini juga adalah impian kecil paman. Meski impian besar paman tidak terwujud tapi setidaknya paman punya mimpi kecil bisa menjadi seperti ini, membersihkan jalan adalah impian kecil dan kesenangan paman," lontar Pak Ali lagi yang begitu menyentuh hati Rila mendengarnya.


"Begitu sederhana Nak Rila." Pak Ali melirik kearah Rila yang menundukan kepalanya. Seperti menyembunyikan wajah sedih.


Pak Ali tersenyum mengusap-usap belakang punggung Rila.


"Paman, jika apa yang kita inginkan di dunia ini gagal apa yang akan paman lakukan?" tanya Rila. Dia berusaha berani menatap wajah Pria itu.


Pak Ali tersenyum, dia menarik tangannya kembali dan mengalihkan pandangan menatap lurus kedepan.


"Jika gagal, paman akan membangun keinginan lain karena keinginan itu tak terbatas Nak. Namun jika masih bisa berusaha dan diberi kesempatan untuk bisa mencapai mimpi kita maka kejarlah. Sesungguhnya sebuah impian itu tak pernah terlambat untuk kita kejar karena kesempatan akan selalu datang jika kita ingin berusaha." Pak Ali berdiri dudukannya sambil merogoh dalam kantong celana olahraganya.


Rila menganggukan kepalanya mencerna ucapan Pak Ali sambil berpikir dan berkata dalam hati. Apa semua memang sudah berakhir? batinnya.


Pak Ali mengetik sesuatu pada ponsel yang di ambilnya dalam kantong lalu memasukannya kembali.


"Nak Rila, paman pergi dulu, taksi sudah datang apa kau ingin ikut? paman akan pergi menuju komplek tempat tinggalmu," tawar Pak Ali menatap Rila.


"Tidak paman terima kasih, saya akan kembali nanti, soalnya masih melanjutkan dagang," tolak Rila dengan sopan.


"Baiklah." Pak Ali langsung bergegas menuju tepi jalan besar terdapat taksi yang sudah menunggunya. Dia masuk dalam taksi itu dan berlalu pergi.


Rila tersenyum, setelah berlalunya pergi Pak Ali. Dia berdiri dan mendekati sepeda niat ingin melanjutkan dagangnya kembali.


Bersambung ...


Tetap dukung yah # ikut event mengubah takdir-wanita#

__ADS_1


__ADS_2