
Setelah lamanya berpelukan, Rila sudah merasa lebih baik dari sebelumnya menjauhkan tubuhnya dari Aldi lalu memutar tubuh dengan kepala menunduk menatap lantai seperti sedang mencari sesuatu.
Aldi berjongkok mengambil benda yang tergeletak di lantai kemudian berdiri kembali.
"Ini kacamatamu." Aldi menyerahkan benda yang di ambilnya berupa kacamata tebal dan minus milik Rila.
Rila berdiri menghadap Aldi, dan mengambil kacamata itu. Dia memasangkan kacamata kembali.
Tiba-tiba masuk beberapa security dengan seragam putihnya. Mereka melebarkan mata melihat keadaan dalam toilet yang begitu kacau, apalagi melihat sosok dua pria yang terdampar di lantai.
Aldi dan Rila melirik kearah beberapa orang yang baru datang. Melihat itu Aldi melangkah maju menghadap security dan membicarakan tentang masalah yang terjadi.
Besok harinya
Hari yang sama seperti biasa, pagi itu Rila turun sekolah seperti biasa. Masalah kemarin tidak disebarkan karena keinginan Rila yang sudah bicara dengan kepala sekolah.
Rila hanya tidak ingin ada yang mengetahui masalahnya apalagi ibunya karena alasan tertentu, tapi dia juga tidak tinggal diam mencari tahu siapa yang berniat jahat dibaliknya.
Waktu istirahat, hanya tersisa dua orang dalam kelas yang duduk bersampingan. Mereka adalah Rila dan Aldi yang ingin membicarakan hal.
"Apa lukamu sudah baikan?" tanya Rila pada Aldi yang sedang menulis.
Mata Rila melirik kearah jari tangan Aldi sebelah kanan yang berada di atas meja dan tangan kirinya yang bergerak menulis terlihat kesulitan.
Aldi melirik kesamping sambil mengangguk sekali lalu pokus menulis lagi.
Rila mengangguk, dia menundukan sedikit kepala mengambil sesuatu dalam laci meja. Senyum tampak di bibir Rila menunjukan kedepan Aldi barang yang di ambilnya.
Pokus Aldi teralihkan melihat barang yang di tunjukan gadis lugu itu padanya. Menunjukan sebuah kotak persegi.
"Jaketmu aku kembalikan, terima kasih banyak atas kemarin."
Aldi tersenyum tipis meninggalkan kegiatan nulisnya, dia menerima kotak itu lalu sedikit membuka melihat dalamnya yang memang berupa jaket olahraga miliknya yang terlipat rapi.
"Tidak masalah, tapi bagaimana denganmu kau baik-baik saja sekarang?"
"Baik-baik saja," jawab Rila singkat.
Aldi meletakan kotaknya di bawah laci, lalu menatap Rila.
"Kau tenang saja, aku akan coba mencari tau siapa yang memerintah dua kakak kelas itu untuk menakuti-nakutimu," lontar Aldi.
Rila sedikit merasa jenuh mendengar lontaran Aldi padanya.
"Tapi kau sudah meno ...," ucap gadis itu tampak gugup.
"Bukan untukmu, lagipula aku penasaran siapa yang menggunakan namaku dalam surat itu." Aldi kembali ingin menulis lagi.
"Pilihanmu juga ada tepatnya, menunggu pelaku diketahui baru masalah ini akan disebarkan jika belum ketemu seperti ini tidak baik untuk menyebarkannya. Bisa saja pelaku itu semakin menyerangmu lebih buruk lagi dan aku tidak ingin itu terjadi." Tampak raut wajah cemas di wajah pria itu yang sibuknya menulis.
__ADS_1
"Kau cemas padaku?" tanya Rila yang membuat Aldi tersentak.
Aldi menatap Rila sejenak lalu mengalihkan pandangannya kelain terlihat seperti orang yang takut tertangkap basah saja.
"Tidak, aku membantumu karena aku juga ingin tahu yang berani menggunakan namaku, bukan karena mencemaskanmu," elak Aldi. Setelah mengatakan itu dia kembali menulis lagi tapi dengan telinga yang sengaja dihalangi earphone.
Rila hanya bisa terdiam melihat tingkah laku pria itu, sangat berbeda dengan kemarin yang terlihat begitu jelas perhatian.
\*\*\*
Di kantor para guru.
Dalam ruang pribadi kepala sekolah, terlihat dua pria dewasa sedang membicarakan hal penting.
Mereka duduk saling berhadapan dengan meja kerja yang membatasi di antaranya.
"Sementara ini, dua murid sekolah kita berada di rumah sakit dalam keadaan masih belum sadarkan diri," lontar Pak Jojo pada pria tua di hadapannya yang memasang wajah garang.
"Bagus jika gadis itu tidak dulu menyebarkan masalahnya, bisa-bisa reputasi sekolah ini akan buruk, dan aku tidak ingin hanya dengan gadis biasa bisa membawa keburukan." Si kepala sekolah itu mengeluarkan parfum botol dan menyemprotkannya kesekitar.
Pak Jojo hanya menundukan kepala, dari jauh dalam lubuk hati dia ingin sekali membalas ucapan pria tua itu. Namun takut akan terjadi masalah.
'*Anda hanya peduli akan reputasi sekolah dan juga diri Anda, apa harga diri tidak lebih penting? maksudku salah satu murid itu, aku sangat bersalah jika menunggu kasus siswi ini ditunda sampai menemukan biang pelaku sebenarnya. Anak zaman sekarang terlalu sembrono melakukan hal yang di luar pemikiran mereka*' batin Pak Jojo.
"Pergilah," perintah kepala sekolah.
Pak Jojo mendudukan bokongnya di kursi putar sambil menyandarkan punggung sambil menarik napas berat dan menghambuskannya tampak terlihat frustasi.
"Apa kau baik-baik saja pak?" tanya wanita paruh baya yang berada di sebelah meja kursi Pak Jojo. Ia menatap pria yang tampak menyimpan sesuatu dilihat dari wajahnya.
Pak Jojo yang sedang memandang dinding pembatas meja kubikelnya sambil memikirkan sesuatu tentu tersentak kaget. Dia menatap wanita itu yang adalah Ibu Guru Dahlia. Terlihat cantik dan anggun dengan jas kemeja gurunya.
"Saya baik-baik saja, hanya merasa sedikit pusing memikirkan wacana pelajar baru tahun ini." Pak Jojo tersenyum menatap Ibu Dahlia.
\*\*\*
Di lapangan tertutup bola basket yang berada samping gedung sekolah, keadaan di situ begitu ramai akan para siswi yang bersorak-sorak memenuhi tempat duduk untuk menonton pemain bola basket yang bersiap tanding.
Mereka bersorak-sorak sambil berteriak memberi semangat pada para pemain yang sudah berdiri di tengah lapangan bersiap main.
Masing-masing dari para pemain mengambil posisi dan saling menatap lawannya dengan senyuman sinis.
"Aldi Aldi Aldi!"
"Revan Revan!
__ADS_1
"Virgo Virgo!
\*\*\*
Sementara di tempat lain, tampak Rila berlari di koridor melewati ruang-ruang kelas sedang mengejar lelaki yang mencuri sebelah sepatunya.
"Hei berhenti! kembalikan sepatuku!"
Rila berteriak sambil lari sekuat tenaga, para murid yang berlalu sepanjang jalan sejenak tertuju padanya.
Keringat bercucuran sekitar tubuh Rila, napasnya sudah tak teratur merasa lelah mengejar lelaki yang belum terlepas dari pandangannya.
Hingga sampai di belokan kiri, langkah Rila tiba-tiba berhenti karena menabrak tubuh seseorang saat ingin mengambil jalan belok.
Tubuh Rila jadi tersungkur di lantai dengan posisi memegang lututnya, merasakan bokongnya yang sakit terbentur lantai. Bersamaan itu terdengar suara benturan benda yang jatuh di lantai membuat orang yang di tabrak Rila kaget melihatnya.
"Gadis jelek bodoh! jalan tidak pakai mata! lihat ponselku jadi pecah karenamu!" Orang itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Rila.
Kepala Rila menunduk menyembunyikan rasa takutnya mendengar lontaran kasar yang keluar dari orang yang ditabraknya.
"Bos cantik, dia kan gadis culun yang duduk di sebelah Pangeran kita itu?" tanya gadis yang berdiri di belakang orang yang di tabrak Rila.
"True." Gadis satunya yang berada di sebelah gadis yang bertanya itu menyahut dengan sebelah tangan membungkam mulutnya yang terbuka lebar karena kaget.
Rila mencoba berani mendongakan kepala menatap orang di hadapannya adalah seorang gadis yang pernah ditemuinya, dengan rambut pirang keriting gantung yang tergerai cantik dan wajah putih mulusnya tiada lain adalah Luna.
Luna, gadis cantik yang populer di sekolah itu, semua murid pasti mengenal dirinya. Sementara dua gadis yang berdiri di belakang Luna adalan Tina dan Ana, teman setia Luna.
Rila menengok ke samping bawah menangkap ponsel yang retak dan sedikit hancur terpisah yang sepertinya punya Luna.
"Kau!" Luna jadi geram melayangkan sebelah tangannya dan ingin menampar wajah Rila. Namun tiba-tiba muncul sebelah tangan mulus seseorang menahan tangan Luna yang ingin menampar wajah Rila.
"Dia sama sekali tidak sengaja, kau ingin menamparnya hanya karena ponselmu jadi rusak?" Orang itu ternyata Saysa, gadis cantik yang pernah bertemu Rila di Rooftop waktu itu
Luna seketika menghempaskan tangan Saysa yang menahannya lalu berdiri dengan memasang wajah marah.
"Kau!" Tina dan Ana melangkahkan kakinya ingin segera membalas Saysa, tapi terhenti ketika mendengar lontaran Luna.
"Tenang saja," tegur Luna pada kedua temannya.
Saysa segera membantu Rila berdiri, lalu menghadap Luna dengan wajah tidak suka.
"Sok sekali," ejek Saysa melempar senyum sinis pada Luna.
Tanpa sepatah kata apapun lagi, Saysa membawa Rila pergi dari situ melewati tiga gadis yang memang tukang bullying itu di sekolah. Rila sungguh bersyukur ada yang membantunya keluar dari situasi tadi.
__ADS_1
...*Bersambung* ......