Penulis Culun

Penulis Culun
Terpaksa berbohong


__ADS_3

Hati Rila begitu sakit mendengar lontaran orang-orang padanya sudah sedari awal dia sekolah. Rasanya sudah tak tertahan sampai dia melangkah cepat dari situ dengan mata berkaca-kaca. Namun di pertengah kantin dia tertabrak tubuh seseorang.


Rila sampai jatuh tersungkur di lantai karena berlari dan tidak menatap lurus jalan sebab menunduk menyembunyikan wajah sedihnya. Suara jatuhnya kotak bekal Rila yang berada dalam tas menjadi perhatian banyak orang, terutama dengan orang yang Rila tabrak.


"Kau?" Orang yang tertabrak menunjuk Rila langsung dengan wajah mengingat.


Tanpa menunggu ada yang membantunya memperbaiki kotak bekalnya, Rila langsung saja memasukan kembali penyimpanan bekalnya kemudian berdiri.


"Hei!" tegur orang yang di tabrak Rila.


Rila seolah tak mendengar dan peduli. Dia lari dari situ dengan rasa sakit yang sudah tidak bisa ditahan. Air mata mengalir langsung di hapus sepanjang jalan melewati koridor, tapi tetap saja air mata itu mengalir lagi tak bisa ditahan.


Semua yang berada di kantin jadi berbisik-bisik membicarakan Rila setelah kepergiaan orang itu.


Orang yang ditabrak Rila tiada lain adalah seorang pria, perawakan yang terlihat nakal. Memakai anting sebelah di telinganya dan gelang besi melekat di tangannya. Dia sejenak melirik Aldi dengan tatapan sinis sambil berjalan kembali dengan kedua tangan sembunyi dalam kantung celana.


***


Di atap sekolah atau Rooftop, terdengar suara tangis dan teriakan.



Rooftop


Suara itu tiada lain berasal dari Rila yang berdiri dengan kedua tangan memegang pagar yang membatasi Rooftop itu.


"Aakhhh!" teriak Rila melepas rasa kesalnya di atap itu.


Beruntung tidak ada siapapun di situ jadi tidak akan ada yang mendengar.


"Woy, apa semua sudah gila!" teriak Rila lagi.


Segala kekesalan Rila luapkan dengan berteriak di situ. Sesudah puas berteriak dia memegang dadanya dengan napas naik turun.


"Mengapa semua selalu mengataiku gadis kuno? hiksss hikss." Rila merasa masih sesak hingga air mata terus mengalir membasahi pipinya.


"Mengapa semua orang seperti membenciku sekali? apa sebenarnya kesalahanku pada mereka jadi selalu menghina aku seperti ini? hiksss ...."


Rila mengelap air mata yang terus menerus keluar dan membasahi pipinya dengan tisu sambil memandang pemandangan kota dari atas situ.


"Aku sadar mereka lebih kaya, lebih baik dan bisa melakukan apapun dengan uang. Mengapa aku tidak bisa bahagia saja di kehidupan sekolah baruku? hah? ini sangat menyakitkan terus dihina seperti ini siapa yang tidak tahan hah?"


"Hikss hikss." Rila menangis sesegukan sambil mengelap sekitar kelopak matanya dari balik kacamata tebal yang dipakainya.


Tiba-tiba tampak sosok tangan mulus menyodorkan sapu tangan bercorak pink muda di samping Rila.


Rila sontak menoleh kesamping melihat orang itu, wajahnya sedikit kaget melihat gadis cantik dengan penampilannya yang terlihat anggun sekali.


"Kau bisa menangis lagi lebih deras, ini terimalah tisumu sudah basah semua," ucapnya terdengar ramah. Ia tersenyum menarik tangan Rila dan meletakan sapu tangan di atas telapak tangan Rila.


Rila jadi berhenti menangis melihat orang asing yang melihatnya menangis. Dia menerima sapu tangan itu mengelap pipinya yang basah.


Gadis itu tersenyum memperlihatkan deretan gigi rapinya, poni depan yang rapi, dan rambut hitam sebahu tergerai lurus indahnya.


"Apa kau mendengar semua perkataanku?" tanya Rila.


"Emmm, tidak juga, aku baru datang dan melihat seseorang seperti menangis jadi aku memberikan saputangan padamu." Gadis itu menatap Rila dengan senyum ramahnya.


Rila menatap gadis di sampingnya dengan wajah sedih


"Kau mengapa menangis?" tanyanya pada Rila yang tampak sedih.


Rila menggelengkan kepalanya, dia menatap saputangan yang digunakannya.


"Maaf aku akan mengembalikannya nanti saputanganmu," ucap Rila. Dia menundukan kepala lalu berbalik ingin pergi.


"Hei tunggu! kita belum berkenalan." Gadis itu menahan lengan Rila dengan wajah memohon.


Rila jadi tak tega pergi, dia membalikan tubuh kembali.


"Namaku Saysa, kelas X A." Gadis cantik dan manis itu lebih dulu memperkenalkan dirinya pada Rila. Tangan manisnya terulur sebagai tanda sambutan pengenalan.

__ADS_1


Rila menatap sejenak gadis di hadapannya. Dia ragu tidak ragu memperkenalkan diri, tapi sepertinya gadis di hadapannya sangat baik dan ramah. Rila pun jadi memperkenalkan dirinya juga.


"Rila, aku kelas X A juga " Rila menjabat tangan Saysa.


Saysa tersenyum senang menatap Rila, begitu pula Rila mulai tersenyum meski rasanya agak sedikit canggung.


***


Setelah istirahat, para murid masuk kelas. Hari pertama sekolah jadi mereka hanya menulis jadwal mata pelajaran harian dan lainnya yang penting.


Tepat pukul jam 12:00 kini semua murid sekolah SMA superstar berpulangan menuju tujuan masing-masing.


Mereka berhambur keluar gerbang, berpencar mengambil jalan. Ada yang bersinggah sebentar, ada yang pergi kehalte bus, ada yang dijemput, ada yang berjalan kaki saja maupun lainnya.


Panas matahari begitu terasa di siang hari itu, membuat orang yang berjalan tanpa naungan di banjiri keringat. Seperti sosok gadis berseragam putih dengan rok biru ke abu-abuan yang sedang mengayuh sepedanya di pinggir jalan raya.


Transportasi kendaraan lain seperti; mobil, motor, bus dan lainnya melewati gadis yang mengendarai sepeda itu.


Beberapa lama, gadis itu sudah masuk dalam jalan perumahan tempat tinggalnya. Keadaan sunyi sepanjang jalan dia hanya pokus bersepeda sambil melihat-lihat sekitar.


Melewati satu persatu rumah hingga sudah dekat dengan rumahnya, ia tiba-tiba menghentikan sepedanya melihat seseorang pria paruh baya yang sangat ia kenal sedang menyapu pinggir jalan.


"Hai paman Ali." Rila melambaikan tangannya pada Pak Ali sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi rapinya. Dia tidak ingin rasa sedihnya karena kejadian di sekolah jadi ketahuan yang akan membuat orang terdekatnya cemas.


Pak Ali sejenak menghentikan kegiatan menyapunya dan berdiri tegak dari posisi bungkuknya.


"Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Pak Ali pada Rila.


"Lumayan paman," jawab Rila. Dia turun dari sepeda lalu melambaikan tangan kembali pada pria paruh baya itu dengan senyuman.


"Saya pergi dulu paman, dadah." Rila pun mendorong sepedanya karena sudah dekat dengan rumahnya jadi dia tidak perlu mengayuh lagi.


Pak Ali pun tersenyum lalu menyambung kembali kegiatannya tanpa curiga gadis itu menyembunyikan sesuatu padanya.


***


Malam hari


Dalam kamar, Rila duduk di kursi meja belajarnya yang bertepatan dengan jendela. Dia sedang menulis sesuatu di lembaran formulir.


Rila sejenak meletakan pulpennya, dia mendongakan kepala menoleh kebelakang menatap wajah sang ibu dengan senyuman.


"Ibu, Rila sangat senang." Rila mengenggam telapak tangan ibunya yang memegang bahunya.


"Apa kau dapat banyak teman? nanti jika ada waktu ajak mereka kesini Rila," sambung ibu Rila mengusap-usap pipi putrinya.


"Baik bu, Rila punya banyak teman dan di sana fasilitasnya sangat bagus ibu, jauh berbeda dengan sekolah umumnya." Rila menceritakan tempat-tempat bagus yang dilihatnya di sekolah SMA superstar.


Maaf ibu, aku harus berbohong tentang ini, aku tidak ingin ibu khawatir jika di sekolah banyak murid yang membenciku bu, batin Rila.


Rila hanya bercerita tentang tempat di sana. Namun menyembunyikan apa yang di alaminya pada ibunya. Dia tidak ingin ibunya jadi merasa khawatir dan terganggu pikirannya jadi Rila tidak ingin memberi tahu jika di sekolah sebagian murid banyak yang menghinanya.


Setelah bercerita mengenai hal di sekolah pada ibunya, Rila pun tertidur, tapi kini berbeda dia hanya tidur sendiri sementars ibunya sudah tidur di kamar sebelah membiasakan diri melupakan pria tidak tau diri yang meninggalkan mereka.




Pagi yang cerah, sinar matahari menerangi lingkungan alam.



Di halte bus, tampak sekumpulan pelajar yang sedang menunggu bus tiba. Ada yang berdiri maupun berduduk di bangku yang tersedia.



Tampak Rila dengan seragam putih lengan pendek yang kelonggaran dan rok panjangnya melebihi lutut sama seperti kemarin cuman bedanya rambutnya hanya di kuncir satu tinggi. Dia sedang duduk di bangku halte sambil memainkan ponselnya.



"Aku baru tahu jika di sekolah bisa membawa ponsel, tapi hanya boleh di mainkan saat istirahat. Tidak apa aku akan menggunakan kesempatan ini untuk membalas komentar para pembacaku saat senggang," gumam Rila yang hanya dapat didengar olehnya.

__ADS_1



"Hei apa kalian kenal Aldi, setelah kembali dari Jepang karena pelatihan, dia semakin tampan dan tubuhnya sangat bugar."



"Katanya dia masuk SMA superstar, karena pelatihan itu jadi dia menginjak kelas satu."



"Para gadis seakan seperti orang gila jika bertemu dengan dia, dia memang sangat tampan sekali."



"Iya, jika bertemu pun aku akan minta tanda tangan dan foto selfie."



"Bukan hanya tampan, Aldi juga calon pemimpin perusahaan Ayahnya, tapi dia kan adalah atlet terkenal?"



"Huh, beruntung sekali yang bisa sekolah di SMA superstar, pasti bisa melihat Aldi idolaku mmoaa."



Rila bergidik geli dengan tersenyum aneh melihat dan mendengar lontaran gadis yang duduk di sebelah kanan dan kirinya.



"Hei, dia sekolah di SMA superstar!" kaget gadis yang tepatnya duduk di sebelah Rila baru tersadar ketika melihat lambang dan seragam yang di pakai Rila.



"Wah wah." Para gadis sekitar seakan mengumpul mengelilingi Rila dengan senyuman binar.



"Kau satu sekolah dengan Aldi kan? apa aku boleh meminta kau memberikan surat ini padanya?"



"Aku juga apa kau bisa memberikan bingkisan coklat ini untuknya."



"Apa kau tahu Aldi mempunyai kekasih?"



"Apa kau tahu tinggi badannya berapa? soalnya aku ingin membuatkan pakaian olahraga untuknya!"



"Boleh minta nomormu?"



Begitu ramai para gadis bergerombolan bilang ini, tanya itu dan ini pada Rila. Membuat gadis itu tertekan akan pertanyaan banyak padanya.



Tiba-tiba suara klakson bus terdengar mengalihkan semua orang.



Rila langsung berdiri dan menyela para gadis yang berkerumun di depannya. Dia sesegera naik dalam bus karena bus yang tiba dalam tujuan yang sama. Berbeda dengan para gadis yang menunggu lama berbeda arah dan tujuan jadi menunggu bus yang akan datang berikutnya.



Mereka mendengus kesal dengan wajah kecewa Rila sudah harus pergi begitu saja.

__ADS_1



...*Bersambung* ......


__ADS_2