
Mereka sejenak saling menatap dengan wajah bengong, bola mata yang bertabrakan, seperti rasa tidak asing.
Tiba-tiba asiknya menatap, terdengar suara seseorang berasal dari pintu.
"Apa yang kalian lakukan?" kaget orang yang berdiri di tengah pintu masuk kelas. Menunjuk kearah dua orang yang berada di antara meja dan kursi guru dengan posisi terlihat mencurigakan.
Rila dan Aldi tersadar mendengar suara itu. Mereka secara bersamaan memperbaiki posisi dan berdiri dengan perasaan agak canggung.
"Tidak ada masalah, lupakan," jawab Aldi pada orang yang tadinya berdiri di tengah pintu kini melangkah mendekati.
Rila dan Aldi keluar dari area meja guru, Rila sambil memperbaiki kacamatanya dan sedangkan Aldi mengusap-usap belakang kepalanya.
"Baiklah, Aldi kenapa kau masih di sini? Jastin, Kiki dan Rian berada di kantin. Kau tahu di sana begitu ramai kini sudah memasuki wakru jam istira ...," ucap pemuda yang juga tak kalah tampannya. Bernama Valdo teman Aldi juga.
Tiba-tiba terdengar suara alarm sekolah berbunyi lonceng selama tiga kali ketukan pertanda istirahat.
"Sudah berbunyi, let's go friend," ajak Valdo berdiri menghadap Aldi.
"Buku siapa itu?" tanya Valdo melihat buku di tangan Aldi dengan wajah heran.
"Letakan saja di laci meja," ketus Rila berjalan melewati dua pria itu dengan wajah menahan kesal.
Valdo menaikan alisnya melihat Rila yang lewat, dia berdiri di samping Aldi dan menyandarkan tangannya di bahu pria itu.
"Ada apa kau dengan dia? hari pertama sekolah mengapa sudah marah-marah? santailah bro." Valdo tersenyum menggoda sambil menepuk atas bahu Aldi.
Aldi seketika menoleh kesamping menatap wajah temannya itu dengan dingin.
"Urus saja dirimu sana, aku tidak ingin ke-kantin." Aldi berjalan menuju mejanya dan memilih duduk lalu menyimpan buku novel Rila kembali.
Valdo mendengus kesal, dia berjalan mendekati Aldi lagi sambil memperbaiki jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
Sesampainya, Valdo langsung menarik lengan Aldi dengan wajah memelas membuat Aldi memutar bola mata malas.
"Ayolah Al, kau tahu di kantin juga ada Kak Rina, apa kau tidak ingin melihatnya?" goda Valdo tersenyum.
Aldi tersenyum geli menatap wajah temannya itu. "Lagi pula apa hubungannya dengan Kak Rina?" tanyanya.
"Bukankah kau suka dengannya?"
Valdo menaik turunkan alisnya dengan senyum menggoda yang semakin membuat Aldi geli.
"Suka? tidak." Aldi tiba-tiba berdiri.
"Baiklah, lagipula aku lapar ingin makan." Aldi beralih yang menepuk-nepuk bahu Valdo dengan terkekeh.
"Dasar," balas Valdo tersenyum kesal.
***
__ADS_1
Aldi dan Valdo pun keluar dari kelas, sepanjang koridor semua mata tidak pernah lepas dari dua remaja terkenal itu. Bukan hanya terkenal karena kekayaan bahkan prestasi mereka dalam bidang tertentu pun tidak mungkin diragukan lagi.
Note: Aldi adalah seorang atlet yang baru kembali setelah tahun lamanya pelatihan di jepang. Namanya terkenal di kalangan para pemuda maupun gadis karena selalu ikut lomba dan memperoleh juara.
Valdo adalah seorang anak dari keluarga kaya, keluarga dengan pebisnis bar terbanyak di kota.
Rian sama halnya dengan Valdo, dari keluarga kaya pebisnis tata busana terkenal.
***
Di kantin SMA superstar
Keadaan begitu ramai, meja makan berjejer memenuhi tempat. Para murid mengantri dengan berbaris rapi kebelakang demi menunggu antrian makan.
Meja dan kursi makan yang kosong semakin terisi di mana-mana. Kantin itu begitu mewah, makanan, fasilitasnya pun kualitas tinggi dan tentu para muridnya juga dari kelas atas. Bagi mereka itu adalah tempat yang sudah biasa dikunjungi.
Tidak dengan sosok gadis yang duduk di meja makan barisan tengah sedari jadi pusat perhatian karena penampilannya dan sesuatu yang di makan gadis itu.
"Mengapa mereka semua menatapku? apa salahnya denganku?" Rila mengangkat sendok makan yang di atasnya nasi goreng dengan potongan telur dadar. Dia melahapnya dengan perasaan tidak nyaman karena orang-orang di meja depan maupun belakangnya seperti membicarakannya.
Di meja yang di tempatinya pun tidak ada satupun orang yang berani ikut duduk, setiap orang yang melihat Rila selalu tersenyum sinis dengan wajah menahan tawa.
"Apa dia tidak malu makan dengan membawa kotak bekal dari rumah seperti itu?"
"Apa kalian tahu berita barusan, gadis jelek dan kuno itu semeja dengan Pangeran kita, tidak menyangka bukan?"
"Benarkah? kalau begitu nyawanya tidak aman."
Rila mengunyah makanan di mulutnya sambil menoleh kebelakang menatap orang-orang yang membicarakannya. Wajah Rila jadi gelap mendengar perkataan mereka yang tidak ada perasaan sama sekali mengatainya seperti itu.
Hanya diam, Rila melanjutkan makannya meski rasanya tidak selera lagi karena mendengar hinaan orang-orang terhadap penampilannya.
Tiba-tiba keadaan jadi rusuh terdengar hentakan kaki banyak secara bersamaan dari pintu masuk kantin. Ternyata berasal dari Aldi dan Valdo yang diikuti banyak gadis di belakangnya.
Mereka masuk memenuhi kantin, menambah keramaian.
Para siswi yang duduk di meja makan seakan melongo melihat Aldi dan Virgo lewat di antara barisan meja makan.
Aldi berhenti tepat di barisan meja yang di tempati tidak jauh di sebelah meja Rila yang terdapat banyak pemuda.
Pemuda lain segera menggeser bokongnya guna memberi wilayah kosong untuk dua orang terkenal itu.
Aldi dan Valdo duduk paling ujung. Namun secara berlawanan Valdo sejajar dengan barisan Rila, sementara Aldi di hadapan Valdo hanya di batasi meja panjang.
Di meja para kumpulan pemuda itu mereka asiknya berbincang maupun sambil makan.
Para gadis yang begitu mengidolakan empat pemuda tampan di meja makan sebelah Rila itu hanya bisa melihat dari jauh, di tempat duduk mereka sendiri.
__ADS_1
"Jastin, kau terus main ponsel? apa saat belajaran nanti kau juga akan main?" tanya Rian yang duduk di sebelah Aldi. Dia menyandarkan tubuh di lengan pemuda yang bernama Jastin. Alias teman baiknya sendiri bersama Aldi dan Valdo.
"Tidak juga, hanya di waktu luang saja, kau tidak tahu saja aku suka main game." Jastin langsung mematikan ponselnya dan beralih merebut ponsel milik Rian yang sedang melakukam vidio call dengan gadis cantik.
"Siapa gadis ini?" tanya Jastin memandang layar ponsel dengan tersenyum menggoda.
"Ck, sini, dia karyawan baru di bar keluarga Valdo." Rian langsung merebut ponselnya kembali lalu melempar senyum menggoda pada gadis yang di vidio callnya.
"Tidak cantik," jujur Jastin melahap potongan roti bakar yang di ambilnya.
"Hmm, Jastin jika kau ingin melihat banyak gadis cantik bisa pergi ke-bar ku, gratis." Valdo mengangkat gelas di tangannya yang berisi es lemon lalu bertos dengan teman di sampingnya bernama Kiki.
"Raja buaya yah seperti itu," sambung lainnya di meja itu terkekeh pelan.
"Hahahaha." Seisi pemuda tampan di meja tertawa secara bersamaan mengundang perhatian isi kantin.
"Dasar," ketus Aldi membuka suara.
Mendengar suara Aldi, sosok dingin dan galak itu, semua pemuda di meja makan itu menoleh keasal suara.
"Aldi, bukankah kau bilang tadi lapar? mengapa tidak makan?" tanya Valdo dengan wajah heran pada Aldi di hadapannya yanh sedari tadi hanya diam sambil melihat sekitar.
Aldi seketika mengambil roti milik Jastin, yang berada di sebelah Rian. Kemudian melahapnya setengah dan mengunyah sambil menatap Valdo, Rian dan Jastin yang menganga.
"Aku sudah kenyang melihat kalian makan, jadi lanjutkanlah." Aldi tersenyum tipis melahap lagi sisa roti.
"Bilang saja kau ingin melihat Kak Rina?" curiga Valdo tersenyum.
Rila yang selesai makan di mejanya seketika berdiri. Dia menyimpan kotak bekal dalam tas sederhana. Kemudian keluar dari lingkaran kursi meja.
"Hei Rila," sapa Rian tersenyum manis. Dia melambaikan tangannya pada Rila membuat gadis itu jadi berhenti melangkah. Seketika orang-orang jadi melirik kearah Rila kembali.
Aldi yang duduk di samping Rian melirik kesamping kanan melihat Rila dengan wajah datar.
"Gadis itu kuno sekali."
"Apa dia tidak tahu cara berpenampilan yang cantik seperti gadis pada umumnya?"
"Lihat, seragamnya saja kebesaran."
"Ikat rambutnya saja seperti tanduk kerbau, hahaha."
Para pemuda yang di meja sama Aldi, Valdo dan Jastin lainnya melontarkan dengan jelas mengenai penampilan Rila tanpa pikir panjang.
Hati Rila begitu sakit mendengar lontaran orang-orang padanya sudah sedari awal dia sekolah. Rasanya sudah tak tertahan sampai dia melangkah cepat dari situ dengan mata berkaca-kaca. Namun di pertengah kantin dia tertabrak tubuh seseorang.
Rila sampai jatuh tersungkur di lantai karena berlari dan tidak menatap lurus jalan sebab menunduk menyembunyikan wajah sedihnya. Suara jatuhnya kotak bekal Rila yang berada dalam tas menjadi perhatian banyak orang, terutama dengan orang yang Rila tabrak.
"Kau?"
__ADS_1