Penulis Culun

Penulis Culun
Hari kedua di sekolah


__ADS_3

Sepasang kaki melangkah menginjak aspal jalan, melewati gerbang dan memasuki kawasan halaman luas sekolah.


Ratusan pelajar berjalan di halaman sekolah itu menuju pintu besar masuk dalam gedung sekolah.


"Huh, beruntung tadi busnya datang cepat, kalau tidak bisa gila aku karena para gadis tadi," gumam Rila. Dia berjalan pelan sambil melihat sekitar orang-orang yang melewatinya tak bisa lepas untuk menatapnya.


Rila tak ingin ambil pusing, dia berjalan lebih cepat guna tidak memedulikan orang-orang yang selalu menatapnya dengan wajah tidak suka sepanjang jalan menuju kelas.


Sesampainya di muka kelas, Rila langsung masuk dan tiba-tiba letusan balon terdengar bersebelahan kuping gadis itu.


"Selamat karena kau telah menjadi gadis terkenal di sekolah ini, dan telah duduk satu meja dengan pangeranku." Gadis dengan rambut pirang keriting gantung meniup terompet kecil di samping kiri Rila menambah suasana ramai dalam kelas itu.


Rila tentu kaget dengan kejutan saat dia masuk kelas, dia melihat kesekeliling orang-orang yang menahan tawa melihat wajahnya yang terlihat lucu di mata mereka.


"Hahaha, selamat untukmu," ucap gadis yang berambut pirang itu yang bernama Luna. Gadis yang sangat di kenal semua orang karena sikap manja dan nakalnya.


Tiba-tiba terdengar suara alarm berbunyi ketukan lonceng yang dapat di dengar semua murid. Mendengar alarm itu mereka berhambur segera menuju kelas masing-masing.


Tiga gadis yang mengunjungi kelas Rila itu langsung pergi sesudah memberi kejutan pada Rila. Mereka bertiga memang aneh.


Rila pun berjalan mendekati meja tempat duduknya paling belakang dekat jendela. Dia duduk di kursi dan meletakan tas.


Semua siswa dan siswi pun sudah duduk rapi di tempat mereka masing-masing.


Rila sejenak melirik sosok pria di sampingnya yang hanya memasang wajah datar dengan kedua tangan di lipat di depan dada dan punggung yang bersandar di kursi.


Rila menatap wajah Aldi melihat pria itu sangat tenang dengan memejamkan mata dan earphone yang menempel menutupi daun telinganya. Seketika dia teringat akan perkataan para gadis di bus tadi. Bagaimana jika para gadis itu tahu jika dia semeja dengan sosok pria yang mereka idolakan. Sungguh Rila tidak ingin membayangkan itu.


"Ada apa kau melihatku?" tanya Aldi yang berhasil membuat Rila sadar telah menatap lama pria itu.


Rila langsung menggelengkan kepalanya, dia mengalihkan pandangan menatap lurus lalu mengambil buku dalam tas yang mengantung di bawah meja.


"Ini." Aldi meletakan sebungkus kecil permen karet di atas meja Rila tepat di depan mata gadis itu.


Rila jadi heran, dia menengok kearah Aldi.


"Apa ini?"


"Itu permen dariku, maaf kemarin aku sedikit membuat robek novelmu di halaman paling belakang. Kau tidak akan menyadarinya jadi itu sebagai permintaan maafku." Aldi meletakan lagi dua bungkus permen yang sama di hadapan Rila.


Rila meletakan kembali permen itu di atas meja Aldi.


"Tidak masalah, lupakan saja." Rila mengalihkan pandangan menatap luar jendela.


Aldi melepaskan earphone yang menempel di telinganya. Gadis ini, masa dia tidak ingin menerimanya? hah aku tau dia pasti ingin lebih, tenang saja, batinnya.


"Kau ingin berapa banyak atau kau ingin yang lain? apa kau menerima maafku?" tanya Aldi tersenyum tipis.


Rila menatap Aldi kembali dengan wajah berpikir. Pria ini mengapa menyebalkan sekali, kubilang tidak masalah yah tidak masalah, batinnya.

__ADS_1


"Terserah kau saja," jawab Rila dengan asalnya.


"Jadi terimalah." Aldi kembali meletakan permen itu di meja Rila.


Rila menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia terpaksa menerima permen karet dengan bungkus biru muda itu dan menyimpannya dalam kantong baju.


Sejenak Rila dan Aldi saling menatap dengan maksud masing-masing.


Saat guru sudah datang memasuki kelas, keadaan kelas jadi hening, semua orang berdiam dan mulai mendengar sambutan pembelajaran pertama dari guru itu.


Hari ini bidang mata pelajaran pertama adalah tentang biologi, jadi semua murid di kelas X A mendengarkan secara saksama penjelasan guru yang seorang wanita.


Penjelasan itu di jelaskan secara inti oleh guru sambil menulis hal penting di papan tulis yang perlu digaris bawahi oleh murid.


Keadaan terasa sunyi dan tenang sekali dalam kelas itu, angin berhembus melewati jendela menyapu wajah Rila.


Rila menopang dagunya sambil menatap kearah papan tulis mendengarkan penjelasan guru. Matanya mulai mengantuk dan terpaksa Rila tahan dengan mencoba melebar-lebarkan matanya.


Bukan cuman Rila, sebagian murid di kelas itu juga merasa ngantuk.


Aldi yang masih menyandarkan punggung di kursi tidak merasa ngantuk sama sekali malahan matanya terus melihat kesana kemari, apalagi melihat gadis yang duduk di sampingnya berusaha menahan kantuk.


Rila yang merasa diamati seseorang langsung memperbaiki posisi tegak sambil memperbaiki kacamatanya.


"Jelek sekali, aku seperti duduk dengan monyet tua," gumam Aldi yang dapat didengar oleh Rila.


Rila seketika melirik kesamping melempar tatapan kesal pada Aldi.


Aldi menoleh kesamping dengan mengedipkan sebelah matanya pada Rian. Dia mengambil sesuatu dari bawah meja lalu dengan gesit melemparnya pada Rian.


Rian pun menangkapnya dengan sangat baik sampai tidak ada yang tahu kecuali Rila yang heran melihat tingkah laku mereka yang terkenal sangat berprestasi itu.


"Aldi, coba jawab pertanyaan ibu." Ibu Guru menunjuk kearah Aldi dengan senyuman percaya.


Semua mata tertuju pada Aldi yang berdiri dari dudukannya.


"Apa karakteristik tumbuhan non verba?"


Aldi pun menjawab dengan santainya bahkan secata mendetail membuat semua dalam kelas menganga mendengar menjadi penjelasan Aldi.


Rila sedikit terkejut mendengar penjelasan Aldi seperti membaca sebuah buku saja.


Setelah menjawab pertanyaan, Aldi duduk kembali semua mengacungkan jempol padanya.


***


Satu jam telah berlalu lamanya, kini waktunya istirahat bagi semua murid. Seluruh tempat di sekolah dipenuhi oleh para pelajar yang berlalu kesana-kemari.


Ada yang pergi kekantin, perpustakaan, dan tempat lainnya.

__ADS_1


Di perpustakaan besar yang berada berada di lantai dua, dalam tempat itu keadaan juga ramai akan para murid yang suka membaca melihat-lihat buku di rak dan ada yang mengantri untuk meminjam buku.



Tampak Rila sedang menyusuri rak buku sambil tengok samping kanan, kiri dan atas melihat-lihat buku.


Rila berhenti di rak yang berada di tengah antara rak lainnya. Dia menemukan sebuah buku tentang cara kepenulisan yang benar. Berada paling atas hingga gadis itu berjinjit untuk bisa menjangkaunya.


Pokus Rila tiba-tiba teralihkan merasakan seseorang sedang mengawasinya, dia pun sudah merasa aneh semenjak masuk perpustakaan.


Rila sejenak memperbaiki posisinya dan melihat kesekitar tidak ada siapapun yang seperti melihat dirinya. Mungkin hanya perasaannya saja, Rila pun tak ambil pusing berjinjit kembali dan berusaha mengambil buku di atas.


Berusaha menjangkaunya, tiba-tiba tampak tangan kekar yang dulu mengambil buku itu.


Rila sontak membalikan tubuhnya dan kaget dengan orang di hadaannya begitu dekat padanya.


"Ini." Aldi menarik sebelah tangan Rila dan meletakan buku itu di atasnya.


Rila memandang buku di tangannya dengan wajah berpikir lalu mendongakan kepala menatap pria di hadapannya.


"Kau?" Dengan wajah kebingungan Rila mendorong pelan bidang dada Aldi agar menjauh darinya.


"Ada apa?" tanya Aldi memasang wajag bertanya pada Rila.


Rila jadi sedikit kesal akan pria itu, bukannya dia yang seharusnya bertanya mengapa bisa ada di perpustakaan.


Seolah tak peduli Rila berjalan meninggalkan Aldi menuju meja dan kursi untuk duduk membaca yang berada tidak jauh dari barisan rak.


Rila duduk di salah satu kursi dengan meja baca kubikel yang pinggirnya di batasi dinding setinggi kepala saat berduduk.



Aldi sedari tadi mengikuti Rila ikut duduk di sebelahnya dengan wajah datar seakan tidak peduli.


Rila tentu kaget akan Aldi yang duduk di sebelahnya, dia merasa kebingungan akan pria itu sedari tadi mengikutinya.


Merasa heran dan curiga, Rila pun memberanikan diri untuk bertanya. Dia menoleh kesamping sambil memperbaiki kacamatanya.


"Mengapa kau terus mengikutiku?" tanya Rila.


"Cih." Aldi terkekeh pelan memutar bola mata malas mendengar lontaran Rila.


"Apa aku tidak boleh mengunjungi perpustakaan? kau kira aku mengikutimu aku saja ingin membaca di sini," jawab Aldi.


Rila mengangguk dengan wajah menahan kesal. Dia pun tidak ingin ambil pusing hanya hal kecil itu.


Kembali pokus pada buku di hadapannya, Rila mulai membuka buku dan membacanya dalam hati.


Aldi pun juga membaca buku yang dia ambil sambil sejenak melirik gadis di sebelahnya itu dengan wajah seperti mengingat sesuatu. Dia seperti merasa tidak asing dengan Rila.

__ADS_1


Mengapa aku merasa seperti ..., batin Aldi.


...Bersambung ......


__ADS_2