
Sinar matahari masuk melewati celah tirai jendela yang sedikit terbuka. Cahaya yang menembus kaca jendela dan mengenai sedikit wajah seodang gadis masih terlelap di ranjangnya.
Gadis muda itu masih berbaring dengan posisi tubuh telentang, kedua tangan yang merentang lebar dan sebelah kaki kanan di atas guling. Selimut tebal yang menutupi setengah tubuhnya sudah terlepas di bagian kaki kanan hingga nampak jenjang kaki mulusnya.
Kacamata masih bertengger di atas hidungnya, bahkan tisu melekat di sebelah lubang hidungnya agak sedikit menonjol keluar. Rambut tergerai yang acak-acakan, bawah mata yang begitu gelap seperti panda.
Sinar pagi menyapu wajahnya terasa sedikit panas dan semakin panas perlahan membuat tidurnya terusik. Tiba-tiba suara nada dering terdengar keras memecah keheningan pagi.
Nada dering yang seperti lagu pada zaman dulu, tidak lain berasal dari ponselnya yang tergeletak di atas bantal tepat di samping kepalanya.
Berusaha untuk mengabaikan, memilih ingin melanjutkan tidur malah nada daring itu semakin bernada semangat lagunya. Membuat telinga gadis itu jadi muak mendengarnya.
"Huh!" Rila perlahan bangkit dari baringannya sambil mengerjapkan mata dan memperbaiki kacamata yang ingin terlepas di ujung hidungnya.
Perlahan penglihatan Rila semakin jelas, dia melihat sekitarnya. Melihat bantal yang tergeletak di lantai, seprai yang melorot kebawah ranjang, guling yang di tindih oleh sebelah kakinya dan setumpukan tisu bekas yang berhamburan di mana-mana. Membuat gadis itu memijat pelipisnya dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Rila menjatuhkan tubuhnya kembali di ranjang yang empuk memanjakan tubuhnya. Rasanya sangat ngantuk sekali setelah malam tadi dia maraton menulis untuk episode terbarunya.
Nada dering alarm tadi tiba-tiba berhenti dan tidak lama berselang terdengar nada dering lagi tapi dengan suara yang berbeda bahkan mendengarnya membuat kita seolah tak bisa menahan tawa. Suara kambing yang kembali memecahkan pagi sunyi dan damai itu.
Rila mendengus kesal, dia mengubah posisinya miring lalu meraih ponselnya guna mengecek mengapa ponselnya terus berdering.
Saat membuka ponsel dan melihat jelas sebuah notifikasi yang terpapang di depan layar, bola mata Rila seketika melebar sampai-sampai dia langsung berduduk dengan wajah terlihat syok.
"Aaaaaaaaa!" Rila berteriak kencang di pagi itu membuat ibunya yang berkutat di dapur terkejut bukan main. Bahkan tetangga di sebelah rumah Rila kemungkinan ikut terkejut mendengar teriakan itu.
Ibu Rila yang berada di dapur tadi bergegas masuk dalam kamar Rila dengan wajah cemas, panik dan gelisah langsung mendekati Rila.
"Ada apa Nak? apa ada sesuatu yang menganggumu?" Ibu Rila duduk di tepi ranjang dan mencoba menyentuh wajah putrinya yang tampak sedang berpikir setelah berteriak tadi.
Rila sontak melirik ibunya merasakan sentuhan lembut menyapu kulit pipinya. Tiba-tiba raut wajah gadis itu berubah menampakan senyum merekah dengan mata berseri-seri menatap sang ibu yang jadi heran.
"Ibu, aku menang di lomba menulis!" Rila menyentuh kedua tangan ibunya dengan senyuman sangat senang bahkan dia mengerak-gerakan tangan ibunya saking merasa bahagianya.
"Benarkah? anak ibu menang?" kaget Ibu Rila ikut tersenyum secerah matahari.
"Iya ibu, aku tidak menyangka akan ini!" Rila turun dari atas ranjang dan menarik tangan ibunya untuk berdiri.
Rila meloncat sambil menari-nari dengan wajah senang, ibunya pun jadi ikut karena tangannya yang di pegang erat oleh Rila. Dua sepasang ibu dan anak itu saling tertawa dan tersenyum mengetahui kabar itu.
Setelah melewati hari yang panjang, kini senyuman sudah mulai terukir di bibir Rila dan ibunya. Keadaan setelah bulan lalu membaik, hutang seperti biasa setiap bulan dibayar dari penghasilan berdagang keripik bahkan Rila dan ibunya sudah memiliki toko sendiri walaupun masih kecil.
Setelah mendengar kemenangan yang di dapatkan Rila dari lomba menulis online, dia bergegas melakukan rutinitas paginya mulai dari mandi, mencuci, berpakaian, membersihkan kamar.
__ADS_1
***
Sementara di lain tempat, di sebuah stadion bandara tampak seorang pria muda tampan mengenakan jaket olahraga, celana trening, kacamata hitam yang bertengger di hidungnya dan satu buah earphone yang menggantung di lehernya.
Dia berjalan dengan santai menuju pintu keluar yang tampak penuh akan banyak orang, terutama para gadis yang menyambut kedatangannya.
Sambil mengunyah permen karet dalam mulut ia berjalan dengan penuh karisma diiringi banyak bodyguard berpakaian jas hitam di belakangnya yang setia membawa kopernya.
Saat mendekat di pintu, seketika para gadis menyerbu mendekat yang terlihat membawa bingkisan bunga, coklat, bahkan ada boneka untuk diberikan pada pria itu sebagai tanda fans idola.
"Aaaaaaa!"
"My love? my heart!
"Aldi suamiku!"
"Ya ampun, pangeran semakin tampan setelah kembali dari Jepang!"
"Oh my darling, i love you!"
Suara ricuh kini mulai terdengar dari para gadis cantik yang berteriak dengan wajah berseri dan mata yang berbinar kagum. Mereka seakan seperti para zombie yang berhamburan ingin memangsa pria itu.
Para bodyguard seakan berdiri melingkar mengelilingi pria muda itu sambil berteriak menyampaikan himbauan.
"Tolong semua minggir, Tuan muda harus segera pergi!" teriak salah satu bodyguard.
Si pria tampan itu berjalan dengan santainya melewati para gadis sambil mengenakan earphone menutupi daun telinga kanan dan kirinya.
Para gadis seketika menjauh dengan wajah pasrah mendengar himbaun itu.
Si pria tampan itu masuk dalam mobil yang sudah siap menunggunya di parkiran bandara. Dia duduj di kursi belakang kemudian menutup pintu mobil lalu sejenak melihat para bodyguardnya yang di kelilingi para gadis memberikan banyak hadiah.
"Apa kita langsung kerumah besar Tuan muda Aldi?" tanya seorang pria paruh baya yang duduk di kursi kemudi memakai jas hitam sama. Dia menoleh kebelakang menatap pria muda itu.
"Tidak, pergi ke-bar saja paman Gu menemui temanku, kebetulan tadi mereka memberitahuku berada di sana," jawab pria itu dengan nada dingin. Kemudian melepaskan kacamata hitamnya.
"Baik Tuan, tapi ayah Anda melarang jika Tuan muda pergi ketempat it ...," jelas Tuan Gu sengaja di potong.
"Ck, lakukan saja paman, lagipula aku sudah dewasa ayah tidak perlu mengaturku," sambung pria muda itu.
Paman Gu mengangguk pasrah, dia mulai menyalakan mesin mobil dan mereka pun pergi.
***
__ADS_1
Di rumah Rila
Rila duduk di kursi kayu lengan panjang di ruang tamu, terlihat sedang memakan keripik yang tersaji dalam wadah toples kecil sambil telponan dengan seseorang.
"Iya terima kasih, Cantika yang sehat dan baik di sana," ucap Rila tersenyum.
"Lala, sebentar lagi akan memasuki sekolah, semangat kau pasti bisa!" balas Cantika suaranya terdengar dari ponsel yang Rila genggam dan dekat dengan telinga.
"Iya, semoga kau cepat kembali." Rila mengambil keripik singkong dalam toples lalu memasukannya dalam mulut.
"Iya, oh iya aku tidak menyangka sahabatku sehebat ini, bisa menang lomba tulis novel, selamat yah Lala aku tidak sabar bertemu denganmu," balas Cantika di sebrang sama terdengar senang.
"Iya terima kasih." Rila tersenyum sambil mengunyah keripik dalam mulutnya.
"Jangan lupa tidur yang cukup, baiklah aku akan menutup telponnya" ucap Cantika lagi.
Telpon pun terputus, Rila meletakan ponselnya di atas meja di hadapannya. Kemudian melanjutkan memakan keripik.
Tidak lama berselang, pintu terbuka menampak ibu Rila yang sedang membawa tas bakul berisi sayur-sayuran.
Rila yang melihat itu langsung mendekati ibunya dan mengambil alih membawa tas lalu berlari menuju dapur.
Ibu Rila hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat anak perempuannya itu. Kemudian dia berjalan menuju kursi panjang yang di duduki Rila dah duduk di situ.
Selesai meletakan barang belanjaan di dapur, Rila menuju ruang tamu kemudian duduk di sebelah ibunya yang sedang mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.
Rila jadi penasaran melihat ibunya mengeluarkan sebuah lipatan kertas putih.
"Ini kertas pengumuman pendaftaran di SMA superstar." Ibu Rila mengulurkan lipatan kertas itu pada putrinya.
Rila mengambil kertas itu lalu membuka dan membacanya dengan saksama.
"Ibu mendapatkan informasinya dari teman ibu, sempat bersinggah di toko kecil kita tadi. Rila harus kembali melanjutkan sekolah, biarkan ibu yang menanggung biayanya," ucap Ibu Rila mengelus-elus puncak rambut putrinya.
Rila menggelengkan kepalanya lalu mendongakan kepala menatap wajah sang ibu dengan senyuman hangat.
"Ibu, untuk sekolahku aku akan bayar sendiri dari hasil menulis dan menang lomba ibu. Ibu tenang saja lima belas hari lagi uangnya akan cair." Rila melipat kertas itu kembali seperti semula.
"Baiklah, jika itu keinginanmu, ibu akan selalu mendukungmu Nak apapun impianmu di masa depan. Kejarlah apa yang membuatmu bahagia, ibu pun bahagia jika putri ibu bahagia." Sangat lembut Ibu Rila mengusap pipi putrinya dengan tatapan selembut sutra.
Rila menatap manik mata ibunya dengan mata berkaca-kaca. Rasanya sangat senang sekaligus terharu mendengar ucapan ibunya yang terdengar sangat sederhana, tapi sangat bermakna baginya.
"Terima kasih ibu, besok kita pergi bersama mendaftar." Rila melingkarkan tangan di pinggang ibunya memeluk tubuh wanita yang sangat dia sayangi itu.
__ADS_1
Ibu Rila membalaskan pelukan putrinya, dia mengusap-usap belakang rambutnya dengan senyuman lembut.
...Bersambung ......