Penulis Culun

Penulis Culun
Rasa takut


__ADS_3

Keadaan di sekolah sunyi, tidak ada satupun orang yang Rila lihat pun selama menginjak lantai dua menuju atap gedung yang berada di lantai tiga.


Hanya terdengar suara gesekan bunyi sepatu Rila yang berjalan menuju ujung tempat di lantai dua yang bertemu dengan tangga menuju lantai tiga keatas.


Sesampainya di hadapan tangga menuju lantai tiga tepat, Rila mengangkat sebelah kakinya menapaki anak tangga. Namun tiba-tiba baru menginjak anak tangga itu ada dua orang pria berjaket hitam sama menarik tubuh Rila.


Mereka membungkam mulut Rila dengan segumpal kain dan menyeret Rila ketempat sepi yang tidak ada kamera CCTV-nya.


Rila masih dalam keadaan sadar tentu syok dengan dua pria asing yang menyeretnya tiba-tiba. Dia berusaha memberontak lepas dari cekalan dua orang itu. Namun tenaganya sungguh sangat jauh dari dua pria itu, berharap bisa lepas tidak akan mungkin.


Gadis tidak tahu menua itu diseret melewati beberapa ruangan di lantai dua tanpa diketahui siapapun karena keadaan yang begitu sunyi.


"Mmmm." Rila berusaha memberontak dan ingin berteriak keras. Namun situasinya saat ini tidak memungkinkannnya bisa berteriak apalagi dengan mulutnya tersumpal kain dan kedua tangan dicekal kuat bersebelahan.


Rasa takut dan terancam tentu Rila rasakan, dia sungguh tidak menduga apa yang sebenarnya terjadi. Berusaha dan sangat berusaha bisa lepas, memberontak sekuat mungkin, tapi semua hanyalah sia-sia karena kedua pria itu tenaganya memang jauh kuat.


Rila tidak bisa melihat kedua wajah orang yang menyeretnya karena dihalangi oleh topeng hitam yang menutupi seluruh wajah mereka.

__ADS_1


Keadaan seakan tidak memberuntungkan gadis malang itu. Dia dibawa begitu saja kedalam toilet di lantai dua sekolah itu yang jauh dari ruangan lainnya.


Suara teriakan dari Rila terdengar. Namun hanya dari dalam toilet yang bersih dan rapi itu.


"Hahahaha." Salah satu pria yang berjaket dan topeng itu menyudutkan tubuh Rila kedinding bercat putih.


Satu pria lainnya yang selesai mengunci pintu toilet itu ikut mendekati Rila yang tampak ketakutan.


"Siapa kalian? apa yang kalian lakukan!" Rila berteriak keras karena kain yang menyumpal mulutnya sengaja dilepas oleh sosok pria asing di hadapannya.


"Gadis ini jelek sebenarnya, tapi jika kacamatanya di lepas emm ...." Pria yang tadinya selesai mengunci pintu mencekal kuat kedua tangan Rila yang di angkat keatas dengan senyum licik dari balik topengnya.


Kacamata Rila ditarik paksa, belakang rambutnya sengaja dicengkram kuat.


Rila sudah tak bisa menahan air matanya. Buliran air mata kepedihan berlinang membasahi pipinya. Dia sungguh merasa sangat takut akan dua pria tak dikenal berlaku seenaknya padanya


***

__ADS_1


Sementara di tempat lain, tapi masih berada di sekolah itu. Sosok Pria tampan baru keluar dari ruangan kolam renang dengan mengenakan celana dan jaket olahraga.


Tampak dia sedang mengunci pintu ruang kolam itu kemudian selesai menyimpan kuncinya dalam saku celana olahraganya.


Dia membalikan badan sembari ingin memasang earphone pada telinganya, akan tetapi saat ingin melangkahkan kaki tiba-tiba dia menunduk menatap kebawah karena melihat sesuatu.


Aldi tidak jadi melangkah, dia membungkuk mengambil sesuatu yang ingin di injaknya tadi berupa secarik kertas kumal.


Dia berdiri kembali dan memandang kertas itu dengan wajah heran sekaligus agak terkejut.


"Dari Aldi? pergi ke Rooftop? untuk apa? kapan aku bilang?" Aldi menatap kesekitar dengan wajah bingungnya.


Bola matanya berputar sedang berpikir keras dengan kertas yang ditemuinya. Dia menatap tajam tulisan di kertas itu, mencoba mencari tahu mengapa ada orang yang menggunakan namanya untuk menulis surat.


Merasa marah akan itu, Aldi bergegas menuju tangga kelantai tiga niat ingin pergi ke Rooftop secepat mungkin.


Sangat cepat, Aldi berlari melewati beberapa ruangan di lantai dua. Keadaan yang sepi membuat langkah kakinya menginjak lantai terdengar sangat jelas.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2