
Rila berteriak histeris dari dalam kamar toilet itu, berusaha lepas dengan wajah dan tubuh yang sepertinya sudah tak berdaya.
Dua pria yang mengunci tubuhnya, tak berperasaan merobek baju seragamnya di bagian bahu dan lainnya.
Rila berteriak histeris sampai suaranya sudah serak disertai tangisan begitu memilukan. Dia sungguh di hampir merasa pasrah akan yang terjadi padanya sekarang, di tambah mendengar lontaran dua pria itu.
"Gadis jelek!"
"Sudah jelek, sok cantik sekali, lebih baik kau mati atas perintah bos. Lagian seluruh sekolah tidak menyukaimu gadis badut."
"Hanya gadis seperti ini, cihh biasa saja benarkan teman?"
"Ayo kita lakukan tugas dengan baik."
"Hahahaha." Dua pria itu tertawa secara bersamaan menekan-nekan kedua pipi Rila sampai pipi Rila terasa sangat sakit dan kram.
Rila sungguh tak bisa membuka suara lagi, dia tidak tau harus melakukan apa. Rasa takut menyebaknya sedari tadi.
"Bagaimana jika kita potong rambut panjangnya ini?" Salah satunya mengambil pisau yang terselil di saku celananya.
Rila menggelengkan-gelengkan kepalanya dengan wajah sangat takut melihat pisau yang mendekat kesamping kepalanya.
__ADS_1
"Tidak, hikss hikss," tangis Rila merasa lemah.
Dua pria itu terus tertawa melihat gadis di depan mata mereka menangis menyedihkan.
"Teriak saja se-nyaring mungkin, dan tidak akan ada yang mendengarmu."
Tiba-tiba pintu didobrak dengan kuat sampai terdengar suara keras. Pintu toilet itu jadi terbuka bahkan saking kuatnya langsung rusak dan tumbang kedepan.
Tampak sosok Aldi dengan wajah marah sangat jelas langsung masuk. Dia menginjak pintu yang rusak dan melewatinya dengan kedua tangan mengepal dan menggertakan gigi.
Aldi sangat marah melihat sosok gadis di perlakukan seperti itu oleh dua pria kunyuk yang tidak punya otak.
Aldi menarik pria satunya lagi sampai tubuhnya terbanting jauh membentur dinding kaca cermin di toilet sampai pecah dan serpihan pecahannya itu mengenai wajah pria itu. Berdarah sangat banyak sampai pria itu terlepas topengnya dan muntah darah.
Belum puas, Aldi kembali menariknya sampai terdampar di lantai secara bersampingan dengan temannya. Dia meninju dan memukul terus wajah dua orang itu dengan wajah sangat marah.
Sampai dua pria itu sudah terbaring lemah dan tidak sadarkan diri lagi, Aldi menghentikannya ketika mendengar suara isak tangis memilukan.
Aldi berdiri dan membalikan tubuh melirik sosok gadis yang terlihat ketakutan sekali. Dia bergegas mendekatinya dengan wajah cemas sembari melepas jaket olahraganya.
Aldi memasangkan jaketnya pada Rila lalu menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tenanglah," tutur Aldi terdengar lembut.
"Hikss ... hikss aku takut sekali." Rila menenggelamkan wajahnya di bidang dada Aldi.
Aldi memeluk lebih erat tubuh Rila merasakan tubuh gadis itu terasa begitu dingin dan masih bergetar karena ketakutan. Dia menyapu-nyapu lembut rambut Rila sambil merapikannya dengan tatapan cemas.
"Kau baik-baik saja, apa ada yang terluka? tenanglah aku ada di sini." Penuh kelembutan Aldi berusaha menenangkan Rila dalam pelukannya.
Rila merasakan kehangatan mendengar lontaran pria yang menolongnya. Dia pun membalas pelukan Aldi dan agak membuatnya merasa nyaman dan sedikit tenang.
"Menangislah terus, aku ada di sini, mengapa bisa ada kakak kelas tidak waras seperti ini, pokoknya kau tenang saja sekarang. Semua akan baik-baik saja, kau tenang saja yah tenang." Aldi terus menenangkan Rila dalam dekapannya sembari menelpon seseorang dari ponselnya yang di ambilnya dalam saku.
Aldi menutup kembali telepon dan sejenak terdiam memandang gadis yang dipeluknya.
"Aku akan mencari semua tentang ini, pasti ada orang yang berniat menakuti dan membuatmu seperti ini. Sungguh licik mereka menggunakan namaku."
Rila hanya mengangguk, mengingat kejadian tadi membuat dia tidak ingin lepas dari pelukan Aldi untuk sementara.
Aldi pun mengerti gadis itu merasa trauma dengan barusan yang terjadi. Dia rela membiarkan tubuhnya kram berpelukan lama dengan Rila.
...Bersambung ......
__ADS_1