Penulis Culun

Penulis Culun
Di hukum


__ADS_3

Dalam kelas X A, tampak seseorang pria dengan seragam sama berdiri di sekitar meja Rila sambil menelpon dengan seseorang di sebrang.


"Aku sudah menemukannya."


"Bagus, lakukan dengan baik."


Telpon dimatikan, pria itu bergegas pergi dari dalam kelas karena keadaan sunyi di dalamnya jadi tidak ada yang melihatnya.




Alarm di sudut sekolah terdengar di telinga semua murid, jadi rusuh mendengar suara alarm itu. Semua murid pun yang berada di mana-mana segera kembali kekelas masing-masing untuk melanjutkan studi.



Di perpustakaan



Aldi yang tertidur dengan kepala bersandar di atas buku tebal tiba tiba mengangkat kepalanya karena mendengar suara alarm itu.



Dia melirik kesamping melihat Rila yang juga tertidur dengan posisi sama seperti dirinya tadi.



Aldi langsung menyentuh bahu Rila menggoyangkannya dengan wajah tampak panik sambil melihat kesekitar sudah sangat sepi.



"Hmm, ada apa?" tanya Rila terdengar lemah. Kepalanya terangkat dengan posisi duduk tegap dan mata yang masih terpejam di balik kacamatanya.



"Lonceng sudah bunyi, kelas sudah mulai sedari tadi!" Merasa panik Aldi langsung berdiri dan keluar dari dudukan sambil merenggangkan tangan keatas.



"Benarkah?" Rila kaget langsung membuka mata. Dia berdiri sambil memperbaiki kacamata dan melihat sekitar dengan wajah tak karuan.



Sama halnya dengan Aldi, dia menjauhkan kursi duduk Rila membantu gadis itu keluar dengan cepat.



Mereka bergegas pergi dari perpustakaan dengan wajah sama-sama panik takut terlambat akan berujung penghukuman. Mengingat sekolah itu juga di atur ketat.



Dua sepasang kaki itu berlari melewati ruang kelas dan ruangan lainnya. Kini mereka menuruni tangga untuk bisa turun kelantai pertama, tempat kelas 1-2.



Saat ingin menginjak lantai dasar, sebelah kaki kanan Rila sempat-sempatnya oleng dan terkilir sampai ingin terjatuh. Namun dengan sigap Aldi menangkapnya dengan menahan kedua pundak Rila.


__ADS_1


Deg deg deg ...



Rila dan Aldi jadi saling menatap dari dekat dengan wajah canggung. Dalam sekejap Rila langsung menjauhkan kedua tangannya yang menempel di bidang dada Aldi.



Aldi menatap manik mata Rila dari balik kacamata tebal yang dipakai gadis itu. Sementara Rila langsung mengalihkan pandangannya kelain.



Kembali teringat akan bunyi lonceng, dua orang itu memperbaiki posisinya secara bersamaan.



Menahan sakit, Rila langsung saja turun menginjak lantai dasar dan berjalan kembali, tapi dengan ritme cepat.



Aldi mengiring jalan Rila di belakang, padahal dia ingin membantu gadis itu berjalan karena kakinya sempat terkilir tapi karena malu dan gengsi, Aldi mengurung niatnya.



Sepanjang jalan menyusuri koridor, setiap murid yang berada dalam ruang kelas yang dilewati dua orang itu tentu syok dan heran melihatnya bisa berjalan bersama bahkan dalam jam belajaran.



Sesampainya di muka kelas, Rila dan Aldi segera masuk secara bersamaan, tapi langkah mereka terhenti saat terdengar suara teguran dari pria paruh baya yang berdiri di depan papan tulis menghadap meja dan kursi.



Seisi kelas kaget sekaligus heran secara bersamaan melihat gadis culun dan pria tampan itu bisa muncul bersama dan terlambat masuk kelas. Mereka seakan berpikir dengan keras sambil berbisik-bisik dengan teman lainnya.




Aldi langsung membungkuk, melihat itu Rila juga ikut membungkukan badan.



"Maaf terlambat Pak, tadi ...," ucap Aldi terpotong.



"Sudah," sela Pak Jojo. Dia menunjukkan jam tangan yang melekat di tangannya pada Rila dan Aldi.



"Terlambat lebih dari 10 menit, berdiri di luar kelas." Pak Jojo menunjuk keluar pintu sambil menatap dua orang yang langsung memperbaiki posisinya berdiri tegak.



Aldi dan Rila sejenak saling memandang. Mereka pun menerima hukuman itu dan keluar dari kelas berdiri di samping pintu masuk. Mereka berdua bersandar di dinding kelas lalu saling melirik dengan wajah sedikit kesal.



"Berdiri di situ sampai jam pulang sekolah, baru kalian bisa ikut pulang. Dengarkan juga penjelasan bapak di sini, lain kali jangan terjadi untuk kedua kalinya." Pak Jojo kembali menghadap seisi kelas dengan wajah terlihat galak.

__ADS_1



"Kalian juga semua," lontar Pak Jojo pada semuanya.



"Siap Pak!" Rian menyaut dengan penuh semangat membuat seisi kelas melongo melirik kearahnya.



Pak Jojo mengacungkan jempol pada Rian dengan tiba-tiba tersenyum membuat para murid heran dengan sikap wali kelas mereka itu. Seperti galak, tapi juga lucu membuat mereka kebingungan.



Pelajaran pun dimulai kembali, semua dalam kelas mendengarkan penjelasan guru dengan saksama.



Keadaan begitu tenang dan damai. Sementara di luar kelas, dua orang yang di hukum semakin lemas sudah berdiri hampir satu jam lamanya.



\*\*\*



Alarm kebahagiaan telah berbunyi memekik telinga, tapi membuat semua pelajar di SMA superstar itu tersenyum lebar ketika mendengarnya.



Waktu jam pulang sudah menunjukkan pukul 16:00 sore, para murid dan guru pun berpulangan memadati halaman luas depan sekolah.



Tidak dengan gadis culun yang masih berada dalam kelas. Rila selesai membersihkan ruang kelas karena kebetulan dia piket di awal jadwal yang baru di buat, jadi dia sudah membersihkannya terlebih dulu agar besoknya tidak lagi.



Hanya sendiri karena orang satu jadwal piket dengan Rila sudah pulang terlebih dahulu.



Rila yang sudah memakai tas di pundaknya tak sengaja matanya menangkap secarik kertas yang tersimpan di bawah mejanya. Dia pun mengambilnya karena merasa penasaran.



Secarik kertas biasa itu terpapang sebuah tulisan singkat dan pendek. Gadis itu membacanya dengan wajah heran sampai memutar bola mata sedang berpikir.



"Di Rooftop?" gumam Rila.



Rila mendapatkan sebuah surat yang di terpapang nama Aldi di belakangnya, meminta agar Rila segera keatap gedung sekolah.



Tanpa pikir panjang, Rila pun bergegas pergi dengan tas yang setia digendongnya.

__ADS_1



...*Bersambung* ......


__ADS_2