
Malam hari, Rila sudah sampai di rumahnya karena pulang hari ini. Dia memakirkan sepedanya di muka rumahnya lalu masuk kedalam sambil mengangkat kardus di atas sepeda yang sudah mengosong menuju dalam.
Rila mengetuk pintu dengan sebelah tangannya dan suara pintu dibuka pun terdengar mengeluarkan suara decitan.
Pintu terbuka menampakan sosok wanita paruh baya yang tiada lain adalah Ibu Rila yang membukakan pintu.
Rila melangkah masuk dengan senyuman, "ibu hari ini lumayan habis," ucapnya.
Sesudah Rila masuk, Ibu Rila menutup pintu kembali dan mengambil ahli mengangkat kardus di tangan Rila.
"Eh, tidak bu," tolak Rila menjauhkan dirinya.
"Biarkan Ibu yang menyimpannya, ayo sini Rila pergilah makan, itu lihat sudah ibu siapkan untuk putri Ibu," pinta Ibu Rila mengambil ahli mengangkat kardus dan membawanya menuju dalam kamar kecil yang berada di samping dapur. Di hadapan dua kamar tidur.
Rila terpaksa mengalah, dia berjalan menuju meja dan kursi berlengan panjang yang berada di ruang tamu yang pertama akan di lihat saat masuk dalam rumah. Dia mendaratkan bokongnya di kursi lalu menatap makanan yang tersaji di meja di hadapannya.
Makanan yang berupa sepiring nasi goreng, dengan satu telur ceplok, sayur-sayuran di atasnya dan di tambah bawang merah goreng. Sungguh melihat bawang goreng membuat selera Rila naik drastis, dia langsung mengambil piring itu dan sebelah tangannya memegang sendok makan.
Rila pun melahap nasi gorengnya penuh dengan perasaan senang sambil menatap lurus melihat televisi layar cembung yang berada di atas meja seperti lemari. Dia menangkap remot di atas meja dan ingin mengambilnya guna menghidupkan televisi.
Televisi pun berhasil Rila hidupkan, sambil makan dia menonton televisi melihat acara televisi two the spot.
*
*
*
Setelah acara makan, mandi membersihkan diri, kini Rila bersiap ingin tidur bersama Ibunya dalam satu kamar.
Kamar di sebelah kamar Rila kosong karena bekas kamar ayah dan ibunya. Ibunya sementara tidak ingin menempati kamar itu karena alasan yang tidak dapat dijelaskan.
Sepasang ibu dan anak itu berbaring di kasur saling berpelukan dengan selimut yang menutupi setengah tubuh.
"Ibu, sebenarnya kemana ayah pergi?" tanya Rila yang memeluk erat tubuhnya dari samping.
__ADS_1
Ibu Rila mengusap-usap belakang rambut Putrinya, "jangan tanyakan dia lagi Rila ataupun menceritakan Pria licik itu, tidurlah," tegurnya.
Rila pun mengangguk patuh mendengar ucapan Ibunya.
"Ibu tahu, aku hanya cemas pada ibu, ibu tanpa ayah harus kuat, ada Rila yang selalu menemani ibu," lirih Rila di pelukan ibunya terdengar sangat lembut.
Ibu Rila dan Rila sejenak saling menatap dengan wajah haru.
"Ibu juga akan selalu menemani putri ibu yang sangat cantik ini," balas Ibu Rila tersenyum lembut. Dia mengecup kening Rila dengan lembut.
"Ibu, besok dan seterusnya aku akan terus berdagang untuk membayar hutang dan kebutuhan kita ibu, ibu tidak perlu ikut biar Rila saja yang menjualkan keripik ibu yang sangat enak." Penuh semangat Rila tersenyum mengatakan itu. Dia menatap dalam manik mata ibunya dengan mata berkaca-kaca.
Ibu Rila memeluk erat kembali tubuh putrinya sambil mengusap-usap belakang punggungnya.
"Anak keras kepala, baiklah ibu tidak akan berdagang tapi ibu akan membuat keripik banyak,"
"Besok dan seterusnya aku akan membantu ibu dagang," lontar Rila.
"Ibu sangat beruntung mempunyai putri sepertimu," balas Ibu Rila dengan suara sangat lembut sampai menyentuh kedasar lubuk hati Rila.
Malam yang sunyi, gelap. Namun sangat berarti bagi ibu dan anak itu. Mereka tertidur sebelum saling berbagi cerita banyak hal.
*
*
*
Sebulan kemudian ...
Musim panas awal bulan, di mana semua telah memulai kembali. Setelah liburan akhir musim kini menyambut musim panas awal.
Keadaan siang hari begitu panas, di mana jalan raya dipadati mobil, motor dan alat transportasi lainnya. Polusi udara bercemaran menambah suasana padatnya kota besar yang terdiri dari bangunan gedung pencakar langit menambah pemanasan global.
Di samping halte bus, tampak seorang gadis berjongkok sedang memperbaiki rantai sepedanya yang terlepas. Baju dan celana yang bewarna mencolok saling bertabrakan membuat gadis itu jadi pusat perhatian sekitar akan orang-orang yang menunggu bus datang.
__ADS_1
"Lihat pakaian gadis itu? dia hidup di tahun berapa sampai memakai pakaian norak seperti itu?"
"Warnanya bertabrakan sekali,"
"Sangat mencolok,"
"Lihat kunciran rambutnya dua, seperti anak kecil hahahaha,"
"Kacamata yang sangat tebal, pasti si kutu buku yang sangat jelek," lontaran-lontaran yang terdengar dari orang-orang yang berdiri di bawah atap halte bus. Mereka asiknya memandang sosok gadis yang memperbaiki rantai sepedanya di bawah panasnya terik matahari.
Gadis itu tiada lain adalah Rila. Sesudah memperbaiki rantai sepedanya, dia berdiri lalu melepaskan sarung tangan dari bahan karet kemudian meletakan kembali sarung tangan itu dalam keranjang sepeda.
Sebuah bus berwarna putih berhenti di depan halte. Sontak orang-orang yang menunggu di situ pun mengalihkan pandangannya pada bus yang sudah tiba.
Sejenak keluar para penumpang yang berada dalam bus karena berhenti di tujuan situ. Semua penumpangnya rata-rata terdiri dari para pelajar yang berseragam putih abu-abu.
Mereka yang menunggu bus untuk pemberangkatan berikutnya pun masuk dalam bus sesudah penumpang sebelumnya keluar.
Rila yang selesai meletakan sarung tangan, dia melirik kesamping melihat para pelajar seragam putih abu-abu berdiri di bawah atap halte. Melihat remaja se-umurannya yang saling bercanda dengan temannya dan tertawa renyah.
Rasa sedih menyerang Rila melihat itu. Sungguh jauh dari lubuk hati dia ingin seperti mereka yang bisa sekolah, punya banyak teman, dan saling bercanda. Namun dia sadar itu tidak akan pernah bisa terjadi mengingat dirinya sudah tak sekolah lagi dan sibuk berdagang membantu ibunya.
Tak ingin semakin bersedih lama, Rila pun mengambil sebotol air putih lalu membuka tutup botol dan meminumnya dalam tiga kali tegukan. Kemudian dia meletakan lagi botol di keranjang sepedanya yang berada di depan. Selesai menutupnya Rila pun bergegas pergi dari situ dengan mendorong sepeda menyusuri pinggir jalan.
***
Rila menyusuri jalan sepi, melewati rumah-rumah orang sambil mengayuh sepeda dan menengok kanan kiri.
Sambil menikmati angin yang menusuk hidungnya, terdengar senandung lagu sedih yang keluar di bibir gadis itu. Sangat menyentuh hati.
Saat berada di pertigaan dan Rila mengambil jalan lurus searah tanpa menengok tikungan kiri hingga terdengar teriakan keras seseorang mendekat kearahnya.
"Wooohhh awas!!" teriak orang itu sepertinya seorang Pria muda. Dia mengendarai motor balapan warna hitam dengan kepala dan wajah yang di tertutup helm.
Rila kaget mendengar teriakan itu, hingga sepedanya berhenti tepat di tengah jalan dan tubuhnya tegang tak dapat digerakkan saking kagetnya saat melihat motor besar yang kemungkinan akan menabraknya.
__ADS_1
Bersambung ...