
Perang atau mati 39 (bertemu)
“mana
mungkin aku berbohong di masa genting ini” jawab lina sambil memainkan air
sungai di sebelahnya. “ughhh... kepalaku terasa berat” keluh laras sambil
memegangi kepalanya. “tentu saja, kau habis terjatuh dari jurang” jelas lina. Lina
membantu laras untuk berdiri, dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
“varde!”
samar samar, terdengar suara orang
memanggil nama salah satu temannya. “mia, lihat!” kini suara itu makin
terdengar dengan jelas. Kabut mulai menipis, hingga mulai terlihatlah varde dan
mia yang berlari ke arah mereka. “laras! You okay?” tanya mia yang sudah duluan
sampai di tempat mereka. “ya, aku baik baik saja” jawab nya. Mia membantu laras
berdiri. “laras, mukamu pucat. Apakah kau habis saja minum bir?” tanya varde asal, laras hanya menggeleng pelan. “ibuku berkata, aku tidak boleh mabuk,
apalagi minum bir” jelas laras. Keadaan nya mulai stabil meski tidak
sepenuhnya. Keadaan mulai dihiasi suasana canggung. Semua hanya tatap menatap
seperti melakukan telepati, tapi laras tidak dapat mendengarna. “kita sedang
apa?” tanya mia dengan nada tidak tahu, varde ayng ada di sebelahnya hanya
mengangkat bahu.
__ADS_1
Tringgg! Tringggg!
Laras
merogoh sakunya, terdapat handphone nya yang berdering dengan nama panggilan
hana aina, laras pun mengangkatnya. “ada apa hana? Kau ada dimana?” tanya laras
kepada lawan bicara di telepon nya. “aku ada di playcitygames, tempat bermain
permainan. Aku disini bersama yeong dan kitsu.” Jawab di seberang telepon.
Tut!
Hana mematikan
telepon nya. “apa yang hana katakan?” tanya lina sambil menggaruk garuk batu di
tangan nya. “ia ada di playcitygames bersama kitsu dan yeong” jawab nya sambil
malah menunjukan gua besar yang sepertinya dalam sekali. “gua itu pembatas 2
dunia. Masuk saja” tambahnya lagi. Sikut mia mulai gatal, ia menyenggol bahu
laras. “mau kesana?” tanya nya. “kupikir”.
Mereka berempat
masuk kedalam gua, kedinginan mulai menghantui mereka. Di setiap langkah ada
bayangan yang menggambarkan tak tentu arah. Suasana makin canggung, tak ada yang mau membuka mulut sampai sampai
laras hampir buka suara, tapi lina malah
menahannya dengan cara menutup mulut
__ADS_1
laras yang hampir melesatkan suasana baru. “berhenti” bisik varde pelan. Terlihat
3 orang menuju mereka, membawa pisau daging yang besar. Diam diam laras dan
teman temannya putar balik. “eh, tunggu!” panggil salah satu orang yang membawa
pisau daging tersebut dan mengejar tim kita. Kini laras dan teman teman nya di
kejar 3 orang tersebut. Varde selaku orang paling belakang melempari gerombolan
itu, selalu tepat sasaran, tapi gerombolan itu tidak ambruk sama sekali. Hingga
tak sadar mereka sudah keluar dari gua itu dan berhenti berlari. “kena kau!” tangan
seseorang menyentuh pundak laras. Suara lembut mengagetkan. “apa a yeong? Tadi kami di kejar kejar oleh orang
bersenjata tajam” kata laras, lebih
tepatnya belum sadar. “kenapa kalian selalu menghindar? Tadi kami mengejarmu” jelas kitsu, ia mengelus
ngelus pisau daging yang besar. Tunggu,
pisau daging? “jadi kami mengejar ngejar kalian sampai keluar gua. Bukan nya
berterimakasih malah lari” tukas hana sambil menjatuhkan badan nya ke hamparan
padang rumput yang lembut. “terimakasih” jutek varde sambil menendangkan batu
ke arah hana yang sedang tidur tiduran di padang rumput yang luas itu. “sama sama”
balas hana yang tidak kalah jutek nya.
PERANG ATAU
MATI 40 ON GOING!
__ADS_1