Perang Pengendali Iblis

Perang Pengendali Iblis
Arc 1 Menyelamatkan Riel


__ADS_3


Chapter 11


Situasi di Kediaman Lord begitu kacau dan berantakan. Di setiap sisi terjadi pertempuran antara budak dan prajurit. Di utara ada Lord Puqress yang sedang dilindungi oleh Touf dari gempuran serangan membara milik Toras. Di tengah kediaman ada dansa kematian antara Daedalus dan Rouf. Sedangkan di selatan terdapat seorang pengawal yang melindungi bangsawannya dengan Paluperang dari serangan budak.


“Mundurlah jika tak ingin mati!” seru pengawal tersebut. Dia berambut hitam lebat dengan kumis tebal. Tapi tak ada budak yang mempedulikannya. Mereka terus maju dan maju ingin membunuhnya dan bangsawan yang dia jaga.


“Ini revolusi! Lord kalian akan mati di tangan kami!” teriak seorang budak di kerumunan.


“Sial!” Pengawal itu mengutuk dirinya. “Sejak kapan tontonan asik yang kau janjikan menjadi pertempuran hidup mati seperti ini, Lord?!”


Seorang budak menembus pertahanan Pengawal dan menerjang Lord. Dia memukulnya dan membuatnya rata dengan tanah.


“Hidup dan mati?!” Lordnya membalas. Dia adalah bangsawan berambut merah, dengan hidung mancung dan mata biru. “Dengar aku, Bedivere, tak ada semesta dimana seseorang dari Perserikatan akan mati hanya melawan budak-budak! Yang terancam mati disini hanyalah aku!”


Bedivere setuju. Dia yang merupakan utusan Perserikatan Iblis tak mungkin mati melawan seratus prajurit, apalagi melawan beberapa belas budak. Tapi misinya membuatnya harus menahan kekuatan dan menahan kekuatan sambil melindungi Lord-nya yang tak berdaya menimbulkan kekhawatiran.


“Jangan panggil kode namaku, Lord,” beritahu Bedivere. Untuk misinya dia tak dikenal sebagai itu. “Lagian, kemana si Gallahad?! Lord Puqress nyaris mati itu!”


Serbuan para budak semakin menggebu-gebu, tapi Bedivere percaya diri menahan mereka. Hingga tiba-tiba seorang budak berbadan gempal menabrak tubuhnya. “Heh! Ingin beradu kekuatan rupanya?”


Bedivere mengira budak gempal itu, Yogot, menabraknya untuk beradu kekuatan. Namun seorang budak yang lebih kecil—Tael—menerobos melewatinya dan sampai ke Lordnya.


Tael menaruh pisau ke leher Lord itu. “Bedivere?! Lihat aku!” seru Lord itu panik.


Sial, kutuk Bedivere. Jika dia menggunakan seluruh kekuatan penuhnya, maka bukan hanya budak gempal ini, seisi ruanganpun akan musnah dibuatnya—termasuk Rouf dan Touf. Tapi itu berarti misinya akan gagal. Dia mencoba memikirkan cara lain. Dia tak menemukan, satu-satunya cara adalah memanggil iblisnya. Saat dia hendak melepaskan kekuatannya, tiba-tiba Yogot melepas himpitannya dan beralih menarik Paluperangnya.

__ADS_1


Bedivere melihat itu sebagai suatu kesempatan dan segera mengirimkan pukulan agar Yogot melepaskannya. Yogot terkena telak, itu membuatnya nyaris kehilangan kesadaran. Namun pegangannya ke Paluperang Bedivere tak goyah sedikitpun. Dia salut akan ketegaran Yogot, dia ingin mengirim pukulan kedua namun sebelum sempat dia meninju, Tael berteriak padanya.


“Lakukan itu lagi dan aku takkan segan menyembelih Lordmu seperti aku menyembelih babi,” ancam Tael. Bedivere menengok kepadanya dan dia melihat Tael gemetaran dan ancamannya tak meyakinkan. Tapi fakta pisau dileher Lord-nya dan Lord-nya telah gemetaran juga tak bisa dihiraukannya.


“Ada apa dengan Paluperang?” tanya Bedivere. Tapi Tael tak menjawab dan hanya mendekatkan pisaunya, sedikit menggores leher Lord. “Aku bersumpah kau akan berharap mati jika kau bertindak bodoh, budak!”


“Paluperangnya!” Kali ini Tael balas berteriak. “Aku bersumpah Lordmu tak akan mati di tanganku, tapi jika berlama-lama maka yang lain akan sampai ke sini dan memberi Lordmu kematian yang mengenaskan.”


Bedivere menengok budak-budak yang dia lawan perlahan mendekat kepadanya. Dia muak dan dia melepaskan Paluperang tersebut. “Obsesi apa kalian dengan Paluperangku!” Dia menghadap Tael dan Lordnya. “Sekarang tepati sumpahmu!”


Tael melepaskan Lordnya dan mundur ke kerumunan. Budak-budak lain bergerombol naik dan Bedivere dibuat kesulitan kembali melindungi Lordnya, kali ini dia melawan hanya dengan tinju dan kaki saja.


“Sudah kubilang nyawaku yang terancam, Bedivere bodoh!” Lordnya berteriak.


Bedivere yang sibuk meninju sana-sini sambil melindungi Lordnya berteriak balik. “Sial! Ini semua karena tontonan ‘asikmu’!”


“Kerja bagus, Yogot!” puji Lupan padanya. Dia membantu Yogot berdiri, namun Yogot terhuyung dan Lupan kesulitan membantunya. “Hei, kau tak apa?”


“Paluperangnya ..., Daedalus ...,” erang Yogot.


Lupan bisa saja mengambil Paluperang dan memberikannya pada Daedalus, tapi itu berarti meninggalkan Yogot yang terluka di tengah medan pertempuran. Itu sama saja seperti meninggalkannya untuk mati. Seorang prajurit nampak di pelupuk mata Lupan mendatangi mereka, prajurit itu terluka parah tapi dia tetap hendak menyerang.


Lupan bersiap. Dia beradu pedang namun Lupan tampak memiliki beberapa pengalaman dalam berpedang. Mengalahkan prajurit yang telah terluka bukan masalah yang besar baginya. Lupan menepis dan berhasil menebas prajurit tersebut. Tael datang tak berapa lama.


“Yogot aman disini bersamaku!” seru Lupan. “Sekarang berikan Paluperang itu pada abangmu dan pastikan anakku juga selamat!”


Tael mengangguk dan mengambil Paluperang dari tangan Yogot. “Kerja bagus, beristirahatlah,” ucapnya. Kemudian dia berlari membawa Paluperang demi kemenangan mereka.

__ADS_1


Di tengah Kediaman Lord, Rouf dan Daedalus masih berdansa. Siapa yang lelah pertama akan dikasi hukuman. Hukumannya adalah kematian. Dan Rouf telah terengah-engah akibat menebaskan pedang ke segala arah sejak belasan menit yang lalu, namun saat Daedalus hendak memberinya kematian, zirah Iblis Beku-nya selalu menjadi penghalang.


“Bang!” Suara Familiar menyangkut ke telinganya. Itu Tael. Daedalus melihat Tael datang sambil membawa Paluperang. “Kuserahkan padamu!”


Tael melempar Paluperang itu, tak terlalu tinggi, namun tetap sampai ke Daedalus. Daedalus menerimanya. Begitu besar, begitu berat, membuatnya kesulitan bergerak selincah sebelumnya.


“Kau ingin menghancurkan zirah beku-ku dengan Paluperang itu, budak?” Rouf menggeleng. “Ada perbedaan antara bertempur dengan pisau dan bertempur dengan Paluperang!”


“Aku takkan tahu sebelum mencoba!” balas Daedalus.


Daedalus baru pertama memegang Paluperang, namun dirinya seolah tahu bagaimana cara efektif menggunakannya. Dia memasang kuda-kuda dan Rouf yang tadinya meremehkan, memasang wajah serius melihatnya.


Daedalus datang menyerang, dia tegap melayangkan Paluperang ke depan. Rouf menangkis dengan pedang besarnya, tapi dia terhuyung mundur. .Serangannya tak selincah sebelumnya, Rouf benar, tapi serangannya lebih efektif. Ini bekerja! seru Daedalus. Daedalus segera mengirimkan pukulan susulan dengan Paluperang dan tiap-tiap pukulan Daedalus bergema dan Rouf jelas-jelas dapat merasakannya.


Namun Rouf adalah seorang petarung berpengalaman, seorang kesatria yang memenangkan turnamen dua tahun lalu dengan pedang besar sama seperti pedang besar yang dipegangnya saat ini. Kali itu di final turnamen, pertempuran final satu lawan satu dengan seorang pemegang Paluperang. Sosok yang dilawannya lebih perkasa daripada Daedalus tapi dia, Rouf si Tembok Beku-lah yang berhasil memenangkan final tersebut.


Daedalus terus-terusan melayangkan pukulan yang sama dan Rouf menyadari itu. Dia menangkis dan membuat Daedalus terus-terusan memaksa dirinya ke titik tertinggi. Dia menunggu Daedalus untuk melemah dan lengah. Dan dia menemukannya.


Pukulan terakhir Daedalus sedikit lambat daripada sebelumnya, disitulah Rouf melihat celah dan bergeser ke samping dengan memberikan tebasan besar disela-sela Daedalus melayangkan pukulan Paluperang.


Daedalus terperanjat, dia sebisa mungkin menahan tebasan Rouf dengan Paluperangnya. Tapi tangkisannya tak sempurna, dia merasakan pedang besar Rouf menembus lapisan Slime, menggores kulitnya. Serangan Rouf yang kuat juga membuat Daedalus terlempar beberapa meter.


Dia tumbang, terbatuk akibat benturan. Di tangannya masih ada Paluperang dan dia kembali bangkit melawan.


Rouf akhirnya berbicara. “Untuk ukuran budak, kau itu cerdas karena bisa berpikir cemerlang menemuk cara untuk menembus zirah Iblis Beku-ku.” Rouf memuji, kemudian dia menggeleng kecewa. “Tapi menemukan kelemahan lawan bukan berarti kau bisa mengalahkannya. Itulah perbedaan dari Pengalaman, dasar budak naif!”


Daedalus menyadarinya dan dia melihat kepada Toras yang sedang bertempur dengan Touf. Toras juga sedang kesulitan, zirah apinya termakan sempurna oleh Touf, membuat Toras tak begitu berdaya. Touf mendekati Toras dengan pedang di tangan, sama seperti Rouf mendekati Daedalus. Mereka sedang diambang kematian.

__ADS_1


__ADS_2